Jumat, 13 April 2012

Profesor Malu-maluin...

Profesor atau guru besar adalah gelar dan jabatan akademik tertinggi dan bergensi di dunia perguruan tinggi, yang senantiasa akan berusaha diraih oleh segenap akademisi di berbagai perguruan tinggi di dunia ini. Profesor atau guru besar adalah puncak gelar dan jabatan akademik tertinggi dalam diri seorang akademisi. Gelar dan jabatan akademis yang senantiasa akan disegani dan dikagumi di tengah masyarakat, meskipun dalam beberapa kasus gelar akademik tertinggi dan bergengsi tersebut terkadag tercemari oleh perilaku-perilaku yang tidak pantas dimunculkan oleh orang-orang yang bergelar doktor dan sekaligus profesor. Bahkan saking bergengsinya gelar atau jabatan professor tersebut, maka banyak kalangan yang meskipun tidak lagi bekerja sebagai akademisi (misalnya berpindah menjadi anggota partai politik) menjadi anggota parlemen (DPR dan DPRD) dengan tanpa rasa malu sedikitpun gelar professor tersebut masih tetap dipakai.

Sebagai gelar dan jabatan akademik tertinggi, maka tentu saja pesyaratan untuk meraih gelar tersebut tentu saja tidak mudah. Meskipun dalam realitasnya, ada-ada saja dosen yang berupaya meraih gelar tersebut dengan cara yang tidak benar.  Kemana dia sembunyikan hati nuraninya...? Dikemanakan kesucian nilai-nilai dan kejujuran ilmiah?
Betapa kita melihat banyaknya temuan dari Ditjen Pendidikan Tinggi, misalnya: Universitas Hasanuddin sebagai perguruan tinggi ternama juga tidak sepi dari dosen-dosen yang memalsukan berkas-berkas pengusulan sebagai guru besar seperti: jurnal internasonal fiktif serta karya ilmiah yang jiplakan, serta berbagai kebohongan yang disembunyikan.
Mungkin ulah seperti inilah kemudian yang menjadi penyebab banyaknya kita temukan Profesor (guru besar) yang dalam segenap sikap dan perilakunya bukanlah sikap dan perilaku ilmiah sebagai profesor. Dalam segenap kegiatan ilmiah akademik yang dilakukannya lebih mengedepankan sikap-sikap subyektif ketimbang sikap-sikap obyektif. Profesor seperti ini begitu mudahnya dibeli harkat dan martabatnya oleh anak-anak didik atau anak-anak bimbingannya. Profesor seperti ini tidak susah untuk dibodoh-bodohi, sehingga aspek non akademis seringkali lebih mengemuka dibanding dengan aspek-aspek ilmiah akademis.
Profesor seperti ini juga sangat mudah dikenali sosoknya, seperti: kualitas keilmuannya yang statis, tidak memiliki kreativitas, minim inovasi, cenderung berwatak keras untuk menutupi kebodohan dn kebohongannya. Karya ilmiah terakhirnya biasanya adalah disertasinya yang dibukukan, itu pun biasanya disertasi yang bukan hasil karyanya akan tetapi hasil buatan orang lain. Anehnya, profesor seperti ini biasanya paling galak dalam segenap kegiatan ilmiah akademik. Meskipun bila kita telusuri sikap galak tersebut dilakukan untuk menutupi boroknya sebagai profesor selundupan. Benar-benar profesor-profesor yang malu-maluin, profesor teman setia iblis penghuni neraka....???? (Mks, 23.30, pm, 15/4/12)...