Jumat, 13 April 2012

Keadilan Sebagai Komoditi....

Keadilan adalah tujuan hukum, tujuan akhir bukan tujuan antara. Keadilan di atas segalanya, itulah sebabnya dunia peradilan harus dilaksanakan Berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa. Sejatinya penegak hukum itu adalah wakil-wakil Tuhan untuk menegakkan keadilan bukan atas pertimbangan-pertimbangan yang lain selain pertimbangan yang didasarkan atas Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
Masalah mendasar yang menerpa segenap aparat penegak hukum (Polisi, Jaksa, Penasehat hukum dan Hakim) adalah kedalaman pemahaman dan pengamalan ajaran agama yang dianutnya. Tentu saja tidak bisa dan tidak pada tempatnya kita berharap aparat penegakan hukum bisa menegakkan keadilan Berdasarkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa, bila pada dirinya tidak mewujud pemahaman dan pengamalan ajaran agama yang maksimal.
Penegak hukum yang pemahaman dan pengamalan ajaran agamanya dangkal, tentu saja sulit untuk diharap menjadi penegak keadilan, kecuali akan menjadi penegak  hukum yang hanya akan menumbuh-suburkan kolusi, korupsi dan nepotisme. Betapa memilukan hati kita setiap hari kita saksikan aparat penegak hukum silih berganti ditangkap akibat penyalahgunaan kekuasaan yang ada padanya. Jaksa ditangkap karena menerima uang sogok dari tersangka. Polisi di tankap karena menjadi baking pelaku kejahatan. DEmikian juga ada hakim yang ditangkap tangan karena menerima satu kardus uang sogok dari orang-orang yang sedang di tangani kasusnya.
Keadilan kini benar-benar menjadi komoditi bagi para pihak yang berperkara. Keadilan kini dapat dipesan dan dibeli yang harganua tergantung tawar menawar antara para pihak yang berperkara dengan aparat penegak hukum. Hukum dengan keadilan kini menjadi milik para penguasa dan orang-orang kaya,sedangkan masyarakat yang tidak memiliki uang untuk membelinya akan menjadi  bulan-bulanan akibat ulah tidak adil dari aparat penegak hukum yang telah lupa dengan sumpah dan janjinya saat diangkat sebagai aparat penegak hukum...# (Mks, 19.30, pm, 15/4/12).