Minggu, 15 April 2012

Hakikat Hukum....

Terma yang harus kita ingat bahwa hukum itu bukan lah tujuan, hukum itu hanyalah alat (a tool). Tujuan hukum adalah untuk kemaslahatan masyarakat yang dalam bahasa teori hukum adalah untuk keadilan, kemanfaatan dan daya guna. Dalam segenap proses hukum yang ada (implementasinya) semuanya harus diwujudkan guna kemaslahatan masyarakat. Baik dari sisi institusinya, substansinya maupun kultur sebagai satu sistem yang sinergis.Meskipun dalam ranah pemikiran Allamah MH Thabathaba'i (2008) sangat pesimis dengan hukum produk manusia, karena menurut beliau hukum yang produk akal manusia di satu sisi maka di sisi lain akalnya itu pula yang kemudian menginjak-injak hukum.
Perwujudan tujuan dan fungsi hukum dalam menggapai kemaslahatan masyarakat bukanlah hal yang mudah dan gampang. Dalam pandangan Satjitpto Rahardjo, akan senantiasa terjadi benturan dalam mewujudkan tujuannya. Negara dan pemerintah dengan segala institusinya sebagai pemegang kendali proses hukum menuju tujuan dan fungsinya juga bukan pesoalan mudah (easy going), oleh karena hukum bukanlah satu-satunya norma atau kaidah dalam kehidupan negara, bangsa dan masyarakat.
Norma hukum dalam implementasinya akan berhadapan dengan norma-norma atau kaidah-kaidah lain yang ada di tengah masyarakat seperti: norma agama, adat istiadat dan yang lainnya. Khusus norma agama (agama-agama samawi) pun yang idea dan substansi dasarnya adalah sama sebagai agama, akibat perkembangan dan sejarah justru saling berbenturan. Padahal pada tataran ini kita harus ingat kenapa pada setiap agama senantiasa di akhir kalamnya menyatakan AMIN. Apa itu amin?Islam amin, Katolik amin, Protestan amin, Yahudi amin.
Problema lain yang dihadapi masyarakat kita (termasuk negara dan pemerintah) adalah agregasi perkembangan kehidupan masyarakat akibat perkembangan sain dan teknologi adalah jauh lebih cepat dibanding dengan kemampuan hukum dipahami dan di impelementasikan di tengah masyarakat. Sebuah fenomena yang nyata yang bagi penulis sangat memilukan adalah berkebangannya kepribadian masyarakat Indonesia untuk menyelesaikan sendiri setiap persoalan hukum (publik) yang terjadi. Bahkan ada kecenderungan aparat penega hukum tidak berdaya (lihat kasus Islam Jamaah, Front Pembela Islam, Forbes, serta konflik antar kelompok masyarakat, dll).
Hal tersebut semakin di perparah dengan alokasi dan hasil-hasil pembangunan pada berbagai bidang yang timpang, tidak merata dan adil, sehingga keterbelakangan baik dari sisi sosial, politik, ekonomi dan hukum serta infra struktur dan supra struktur daerah semakin tak terkendali. Akibat langsungnya adalah lemahnya kemampuan masyarakat untuk bertahan dalam penderitaan sehingga untuk menyelesaikan setiap masalahnya diwujudkan dalam berbagai tindakan anarkhis karena sudah bosan melihat tingkah laku elit pemerintahan dan elit politik yang semakin tidak peduli dengan amanah rakyat yang diembangnya. Sungguh sebuah ironi, bahwa setelah 67 (enam puluh tujuh) tahu kemerdekaan Indonesia, hampir-hampir tidak ada sesuatu yang membanggakan sebagai bangsa dan negara dengan silih bergantinya pemerintahan kecuali konflik yang melanda semua elemen masyarakat. Mulai dari tingkat elit hingga masyarakat bawah (gross roat).
Untuk itu upaya yang seharusnya kita tempu untuk memperbaiki hal tersebut: pertama, secara perlahan (step by step) adalah mereformasi serta merekonstruksi ulang filosofi hukum negara kita dengan menegakkan Pancasila sebagai sumber nilai-nilai dasar hukum yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Kedua memahami betul bahwa sains dan teknologi termasuk nilai-nilai adat istiadat tidak dapat menyelamatkan hidup dan kehidupan manusia oleh karena ruang lingkupnya hanya sebatas kehidupan material duniawi. Agamalah yang punya kewenangan dan otoritas untuk menyelamatkan hidup dan kehidupan manusia. Oleh karena kita semua tau yang hendak diselamatkan dalam hidup dan kehidupan ini adalah “substansi diri” yang datang daripada Tuhan (Allah) yang kita kenal dengan “ sebagaimana dia datang dan sebagaimana dia kembali (dalam bahasa agama: inna lillahi wa inna ilahi rajiun). Sains dan teknologi termasuk filsafat tentu saja tidak memiliki ajaran atau sumber nilai untuk menyelematkan substansi diri tersebut.
Saatnya mungkin segenap kaum terpelajar (cerdik pandai) termasuk segenap tokoh agama untuk merenungi dan mengkaji ulang hakekat diri yang melihat di mata yang mendengar di telinga dan yang berfikir di otak. Kenapa setelah seseorang meninggal maka: mata telinga dan otaknya tidak dapat lagi berfungsi...???? (Mks, 22.15.pm, 15/4/12)...