Senin, 14 Mei 2012

Sukhoi dan Kesombongan Manusia

Entah apa gerangan yang melatari sehingga peristiwa jatuhnya Pesawat Jet Sukhoi begitu menyita perhatian seluruh komponen bangsa melebihi pemberitaan korupsi yang jauh lebih urgen. Akibatnya hirup pikuk masalah korupsi yang melibatkan petinggi negara menjadi hilang entah kemana? Gaya rezim Orde Baru dalam menutup-nutupi sebuah kebobrokan penguasa, yang ternyata juga masih digunakan oleh rezim Reformasi meski pun sudah masuk di dasa warsa kedua. 
Satu pelajaran besar yang senantiasa berulang yang sepatutnya kita tangkap dalam peristiwa jatuhnya pesawat tersebut adalah: kesombongan dan ketidak mampuan manusia untuk melawan kehendak Tuhan semesta alam. Sejatinya kehebatan hasil-hasil ilmu pengetahuan (seperti mampu memproduksi pesawat jet Sukhoi) semakin meningkatkan keyakinan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun apa yang terjadi sains dan teknologi justru semakin menjauhkan kita dari substansi ke-Tuhanan bahkan melahirkan orang-orang kafir dengan segala kesombongannya.
Orang-orang menjadi ilmuan (cerdas) dengan segala gelar yang menyertai namanya (Ir.,DR,Dr, Professor,S.H,MH,PHd), hingga melahirkan temuan-temuan menakjubkan baru bisa lahir ketika Tuhan meniupkan "Roh" kedalam dadanya ketika dia berusia 4 (empat) bulan 10 (sepuluh) hari dalam kandungan ibunya. Dengan masuknya roh itulah maka memancar pendengaran di telinga, memancar penglihatan di mata, memancar perasa di lidah dan seterusnya. Roh inilah yang substansi dalam diri manusia yang menyebabkan manusia bisa melahirkan ilmu pengetahuan dengan segala temuannya.
Roh (Nur Tuhan) ini lah yang memancar di sel-sel otak sehingga otak dengan nalarnya bisa berfikir. Bila dia sudah tidak ada maka tidak ada lagi kemampuan berfikir. Lihat si genius Enstein ketika meninggal sel-sel otaknya masih ada kenapa dia tidak bisa lagi befikir karena yang memancar (Nur Tuhan) di sel-sel otaknya sudah tidak ada dengan kata lain kembali ke Tuhan-Nya.  Bagaimana roh itu bekerja dan bertanggung jawab, buku petunjuknya adalah Kitab Suci yang telah di bawah oleh para Nabi dan Rasul. 
Dengan demikian tidak ada alasan bila ada orang yang tidak peduli dengan ajaran agama. Ajaran agama adalah kebutuhan vital ummat manusia. Bahwa ada manusia yang menyepelekan ajaran agama, sejatinya hal itu terjadi oleh karena pengetahuan yang belum sampai kepadanya, termasuk orang-orang yang berkompoten menyampaikan pesan-pesan agama itu kepadanya. Manusia boleh tidak beragama, akan tetapi ketidak-beragamaan itulah yang membuat manusia tidak memiliki kontrol hakikat diri dan kedirian manusia termasuk masyarakat dan alam jagad raya. Manusia seperti ini akan senantiasa hidupnya hanya akan memenuhi dan memuaskan hawa nafsunya. Manusia-manusia yang hanya akan menimbulkan kerusakan di permukaan bumi.
Bukankah dari sudut pandang keilmuan pesawat Jet Sukhoi tidak sepatutnya jatuh oleh karena telah dilengkapi dengan super komputerasisasi. Namun apa yang terjadi, masalah itu kemudian dilarikan ke kesalahan manusia (human error) dan titik. Seharusnya kita lanjutnya kenapa terjadi human error, ya itu karena manusia punya keterbatasan apalagi ketika dia senantiasa melupakan Tuhan dengan segala kesombongannya dan senantiasa berbuat maksiat, seakan hidupnya tanpa batas. Kelemahan manusia yang kita kenal dengan human erorr sejatinya dapat diminimalisir dengan senantiasa menyertakan serta menyandaran diri kita pada kekuatan spirtualitas Tuhan Yang Maha Esa.# (Mks, 15/5-12, 12.35 pm).