Kamis, 28 Juni 2012

KORUPSI KEMENTERIAN AGAMA GILA....?

Sungguh terlalu? Korupsi terjadi di jajaran Kementerian Agama, korupsi pengadaan Kitab Al-Qur'an. Bila di kementerian agama saja terjadi korupsi bagaimana dengan kementerian yang lain? Habis sudah harapan bangsa dan negara ini untuk membasmi virus-virus korupsi, yang paling mengagetkan dan membuat kita tidak percaya bahwa yang dikorupsi adalah pengadaan Kitab Suci bagi ummat Islam.
Kalau sudah wataknya koruptor memang tidak bisa tidak apapun akan dikorupsi. Kemana selama ini harapan besar masyarakat kepada kementerian agama yang menjadi benteng harapan masyarakat untuk menjadi tempat segenap sumber daya manusia yang diharapkan dapat berperang besar dalam memperbaiki moral dan akhlak bangsa ini. Ternyata pengalaman masa lalu akan terjadinya berbagai tindak pidana korupsi di kementerian ini (seperti: korupsi dana haji) tidak bisa jadi pelajaran akan rusaknya bathin masyarakat akibat ulah orang-orang tidak bertanggung jawab di kementerian agama.
Kita tentu percaya bahwa jika KPK sudah masuk dalam suatu indikasi korupsi maka tentu saja itu bukan main-main. Harapan kita kasus ini jangan sampai tidak dituntaskan. Kepada pelakunya sepantasnya untuk dihukum mati oleh karena telah mempermainkan kehidupan beragama ummat Islam dengan korupsi pengadaan Kitab Suci Al-Qur'an. Begitu juga semua pihak yang terkait harus diproses secara hukum ditambah rasa keadilan hukum ummat Islam. 
Meskipun korupsi ini seperti dikatakan oleh Dirjen Bimas Islam ketika itu dikelola oleh sebuah direktorat dibawahnya, tentu saja tidak dapat dijadikan alasan pembenar oleh aparat penegak hukum untuk hanya menjadikan tersangka pejabat tingkat bawahnya. Proyek ini adalah tanggung jawab segenap jajaran kementerian agama hingga menterinya. Harapan penulis momen ini juga sebaiknya dijadikan jalan masuk oleh KPK untuk menelusuri segenap celah-celah korupsi yang terjadi di kementerian agama seperti pengelolaan dana haji yang hingga kini masih tertutup. 
Korupsi pengadaan Kitab Suci Al-Qur'an  ini bukan main-main karena telah merusak tatanan kesucian Agama Islam dan Ummat Islam yang selama ini telah tercoreng dengan tingkah laku para teroris yang mengatas-namakan ajaran Islam. Sebagai penganut ajaran Islam penulis sangat mendorong penuntasan kasus ini oleh karena telah merobek-robek rasa keberagamaan kita sebagai ummat Islam.
Sebagai catatan terakhir inilah mungkin salah satu akibat jika kementerian agama itu dijabat oleh orang partisan (dari partai politik). Hal ini sejak awal penulis pernah ungkapkan bahwa sejatinya jajaran kementerian seperti kementerian agama itu jangat diangkat menteri yang dari partai politik oleh karena pasti akan menjadikan jajaran kementeriannya sebagai objek kepentingan politik dan itulah yang kita saksikan sekarang.# (Makassar, 29 Juni 2012, 11.10 am).