Senin, 08 Oktober 2012

KONFLIK KPK DAN POLRI



Oleh: Ahkam Jayadi

            Sejak beberapa waktu lalu, sengketa antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) semakin meruncing. Sengketa yang membuat masyarakat semakin tidak percaya dengan penegakan hukum yang ada. Konflik yang sebenarnya kelanjutan dari perseteruan cicak dan buaya. Tentu kita semakin perihatin dengan upaya penegakan hukum yang ada bila para penegak hukumnya saja semakin berkonflik, terlebih lagi masyarakat tahu persis penyebabnya adalah diungkitnya korupsi yang dilakukan oleh petinggi polri (simulator sim).
             Sulit untuk dipungkiri bahwa kepolisian sebagai pemegang kewenangan penyelidikan dan penyidikan termasuk secara umum penjaga keamanan masyarakat merupakan sentrum aparat penegak hukum bermasalah. Kita masih ingat beberapa kasus yang pernah terungkap dan tidak pernah dituntaskan seperti: rekening gendut perwira polri, polisi yang terlibat pada berbagai tindak pidana seperti pembunuhan, perjudian sampai dengan  membekingi pengedar narkoba.
            Keluarnya kepolisian dari barisan militer ternyata tidak membuat kepolisian berbenah diri, malah yang terjadi kepolisian semakin menggila dan menjadi semakin perkasa. Sejatinya jika kepolisian ingin berbenah diri dengan baik, maka semua polisi yang bermasalah mulai dari aparat terbawah hingga pejabat tingginya haruslah dibersihkan tampa pandang bulu. Bukankah kita masih memiliki banyak polisi yang baik mulai dari lepasan sekolah Bintara polri hingga alumni akademi kepolisian. Bila kita masih menyembunyikan berbagi kebohongan yang melingkupi kepolisian maka jangan pernah berharap polisi bisa menjadi baik.
            Sebuah ceita lama bisa menjadi  bahan renungan bagi pihak kepolisian. Ketika kita masyarakat keluar tengah malam di tengah gelap gulita plus hujan deras, maka kita pasti akan ketakutan. Jika tiba-tiba muncul polisi maka sejatinya kita akan merasa tenang namun apa yang terjadi? Kita semua bisa menjawabnya dengan jawaban yang sama, bahwa kita pasti akan semakin ketakutan meskipun surat-surat dan kondisi kendaraan kita dalam kondisi lengkap. Ini apa sebenarnya yang salah? Silahkan bapak-bapak dan ibu-ibu polisis yang menjawabnya.# (Mks, 9 Oktober 2012).