Selasa, 29 April 2014

Pileg 2014 yang Memilukan

Pemilihan umum untuk calon-calon anggota lembaga legislatif (pileg) tahun 2014 baik untuk tingkatan DPRD Kota, Kabupaten, Provinsi dan DPR RI baru saja usai. Hampir semua pihak kecuali Komisi pemilihan umum (KPU) menyatakan bahwa pileg kali ini adalah pileg yang aling buruk pasca reformasi. Apakah tuduhan itu dapat dibenarkan dan pihak mana yang telah merusak penghelatan kedaultan rakyat tersebut yang telah menghabiskan trilyunan rupiah.
Bila dilhat dari sisi peraturan perundang-undangan yang mengatur pileg tersebut sejatinya sudah cukup lengkap dan tertib mengatur tentang pileg kalau begitu apa yang menyebabkan amburadulya pileg tersebut. Berdasarkan catatan penulis maka yang merusak atau yang membuat pileg tersebut aburadul adalah: pertama, adalah clon-calon anggota legislatif yang ikut berkompetisi. Mayoritas caleg-caleg pada semua tingkatan lembaga legislatif tahu persis bahwa penggunaan uang dengan cara melanggaran undang-undang untuk merah kemenangan (money politics) adalah tindak pidana atau sebuah kejahatan, akan tetapi mereka tetap melakukan hal tersebut. Akibatnya terjadilah saling salah, saling hujat, saling sikut sana sini, oleh karena uang setan yang digunakan dimakan jin alias tidak mampu mendorong dirinya untuk terpilih menjadi anggota legislatif.
Kedua, adanya keterlibatan elit-elit politik daerah dan pusat (seperti: bupati, walikota, gubernur bahkan menteri yang menjadi pimpinan partai) Lihatlah di beberaa daerah yang bermasalah misalnya, penghituan suara oleh KPU daerah terlambat, demikian juga adanya pemilihan ulang. Bila kita lihat daerah-daerah yang bermasalah tersebut, terdapat caleg-caleg yang keluarga sang pejabat (misalnya: anak, saudara, ipar atau mertua). 
Kesimpulan sementara yang bisa kita peroleh dari uraian di atas adalah bila dari awal saja segenap caleg tersebut telah berani melakukan pelanggaran hukum (tindak pidana), maka bagaimana kelak setelah dia terpilih dimana power legislatf telah digenggamannya, tentu saja mereka akan lebih leluasa melakukan tindak pidana (seperti korupsi). Akhirnya, kita mesti banyak bersabar untuk lima tahun ke depan karena msa depan bangsa masih akan tergadaikan oleh anggota-anggota legislatif yang mulia, mudah-mudah Tuhan tidak melaknat bangsa ini...astagfirullahal adim.#