Sabtu, 04 Juli 2015

KORUPSI SPIRITUALITAS

Korupsi adalah termina yang menggambarkan sejahat-jahatnya kelakuan manusia. Betapa jahatnya entitas itu oleh karena efeknya tidak hanya merugikan komunitas yang ada di institusi tempat dia korupsi akan tetapi merugikan dan menyengsarakan seluruh anak-anak bangsa (Indonesia).  Korupsi inilah yang membuat bangsa dan negara ini (Indonesia) hingga kini tidak juga bisa membawa anak-anak bangsa ini guna meraih kesejahteraan dan keadilan serta mencerdaskannya.
Sebenarnya korupsi dalam wujud uang (merampok uang negara atau uang rakyat) meskipun dampaknya sangat luar biasa telah menyengsarakan anak-anak bangsa ini belum lah berarti apa-apa jika dibandingkan dengan korupsi spiritualitas. Mengapa demikian oleh karena jika kita pahami sisi terdalam perilaku korupsi (inner space) maka korupsi atau merampok uang negara terjadi akibat korupsi spiritual yang mendahuluinya.
Fenomena korupsi spiritualitas sangat jelas dan marak kita saksikan di bulan ramadhan ini.. Ramadhan sebagai bulan suci bulan dimana setan di rantai, pintu-pintu neraka tertutup dan pintu-pintu surga terbuka justru tidak sadar kita cederai dengan korupsi spiritualitas yang hampir dilakukan oleh semua lapisan masyarakat. Tentu saja sponsor utama korupsi spiritualitas ini adalah tokoh-tokoh agama dalam berbagai penamaan (ustadz, muballig, intelektual muslim dan muslim intelektual).
Korupsi spiritual adalah pemahaman keliru terhadap pesan-pesan yang terkandung di dalam nilai-nilai ajarana agama Islam (sebagaimana terangkum di dalam alquran dan sunnah), baik pemahaman keliru yang tidak di sadari maupun yang di sadari. Korupsi spiritualitas ini lah yang menyebabkan kehidupan dan perilaku beragama masyarakat kita tidak mewujud dan terimplementasi sebagaimana mestinya untuk memberikan keselamatan dunia dan akhirat atau menjadi rahmat bagi alam semesta. 
Sejatinya kehadiran institusi agama Islam yang telah ada sejak 1500 tahun lebih, mestinya telah lebih dari cukup untuk membuat manusia atau ummat manusia ini untuk berfikir, bersikap dan berprilaku yang baik. Namun apa yang terjadi kesemarakkan syiar dan dakwah Islam tidak berbanding lurus dengan pengamalannya. Apa yang menjadi penyebabnya? Jelas sebagaimana dikemukakan di atas oleh karena selama ini pesan-pesan agama yang sampai ke kita dan yang kita amalkan adalah pesan-pesan agama yang merupakan hasil korupsi (korupsi spiritualitas).
Bagaimana mungkin bisa terjadi bahwa syarat rukun sembahyang salah satunya adalah, "membaca fatihah" namun apa yang terjadi yang kita lakukan kan bukan membaca akan tetapi "menghafal fatihah" itulah salah satu bentuk korupsi spiritualitas yang menyebabkan sembahyang yang kita lakukan tidak akan pernah dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar...... Demikian utuk sementara sebagai bahan diskusi kali ini.  Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menemukan kebenaran sesungguhnya, #