Senin, 22 Februari 2016

AKADEMISI DAN TOKOH AGAMA



Oleh: Ahkam Jayadi

            Kita tidak dapat pungkiri bahwa, hidup menjadi mudah, baik dan indah di jalani oleh karena jasa dari akademisi (berbagai disiplin ilmu) dan tokoh agama (dari berbagai agama). Kita permudah aktivitas kehidupan yang di jalani setiap hari dengan berbagai sarana dan prasarana kehidupan adalah berkat jasa dari akademisi dengan berbagai temuannya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui  ajaran dan nasehat dari tokoh-tokoh agama maka hidup kita menjadi indah, tenang, nyaman dan bijak di dalam menjalani hidup dan kehidupan termasuk di dalam interaksi dengan sesama manusia lainnya serta dengan alam lingkungannya. Hanya saja seiring dengan hal tersebut pertanyaan muncul kenapa hingga kini kejahatan tidak juga surut bahkan semakin menggila yang pelakunya adalah orang-orang terpelajar bahkan aktivis organisasi kemasyarakatan yang berbasis agama.
            Sepintas uraian di atas tentu saja benar oleh karena selama ini hal tersebut dipahami oleh segenap masyarakat sebagai sesuatu yang benar. Padahal pada dirinya terdapat kesalahan dan kekeliruan yang tidak di sadari sehingga menyebabkan hasil-hasil temuan segenap akademisi dan wejangan dari berbagai tokoh agama tidak pernah dapat memperbaiki kehidupan apalagi hendak menyelamatkan kehidupan. Lihatlah semakin maju perdabanan justru kejahatan juga semakin menjadi-jadi bahkan akademisi dan tokoh agama dijebloskan  masuk penjara. Koruptor dan pelaku berbagai kejahatan lainnya yang hingga kini masih merajalela adalah lepasan  perguruan tinggi bahkan hingga bergelar doktor dan profesor. Teroris yang hingga kini masih merajalela adalah produk dari ajaran yang disampaikan oleh tokoh-tokoh agama. Ada apa gerangan dengan hal ini?
            Selama ini kita telah dibuat keliru  dalam proses belajar mengajar di lembaga pendidikan dengan berbagai tingkatannya (dari Taman Kanak Kanak hingga Perguruan Tinggi) termasuk lembaga pendidikan pesantren hingga pergurun tinggi Islam dan Teologi. Sejak awal kita diajarkan adanya perbedaan dan pengkotak-kotakan antara ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dengan agama sebagai sebuah ajaran. Padahal antara keduanya tidak bisa dipisahkan dan dibedakan. Kesalahan inilah yang menyebabkan lahirnya ide tentang sinergi antara iptek dengan agama. Dalam konsep lembaga pendidikan Islam dikenal dengan Islamisasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini lah juga yang secara keliru di banggakan di universitas Islam dengan membuka fakultas umum dan fakultas agama secara sinergis. Bukankah sesuatu yang keliru dan aneh jika di dalam satu fakultas ekonomi Islam juga dibuka program studi ekonomi.
            Kesalahan tersebut terjadi oleh karena sejak kita ditinggal oleh Rasulullah (Muhammad saw) sekitar 1500 tahun lalu maka salah satu hakekat agama yang hilang adalah, “manusia tidak lagi memahami hakekat dirinya”. Padahal, hakekat diri adalah pusat segala hal yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan umat manusia. Termasuk tentunya makna dan hakekat keberadaan ajaran agama (Islam)[1] di dalam menuntun hidup dan kehidupan umat manusia yang ada di permukaan bumi dan tersebar diberbagai belahan bumi dan dikenal sebagai penduduk atau warga negara dari berbagai negara yang ada. Bukankah suatu hal yang aneh dan tidak sepatutnya terjadi bahwa, kebanyakan umat manusia lebih memahami: konsep, teori dan pesan-pesan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipelajarinya di lembaga pendidikan sekolah daripada ajaran agama yang didapatnya di Mesjid, Gereja, Vihara dan lain-lainnya.
            Sejatinya, hanyalah ajaran agama (Islam) sebagaimana termaktup di dalam kitab suci (Al-Qur’an dan Sunnah) yang bisa menjelaskan tentang hakekat diri manusia. Termasuk bagaimana menyelamatkan hidup dan kehidupan ini. Ilmu Pengetahuan dan teknologi tidak memiliki konsep, teori dan ajaran tentang hal tersebut. Pada tataran inilah kemudian timbul pertanyaan, bahwa masikah dapat dibenarkan sikap dan pandangan yang memberikan ruang khusus kepada ajaran agama di dalam mengatur hidup dan kehidupan ini. Ruang tersebut berbeda dan memiliki batasan dengan ruang yang menjadi domain ilmu pengetahuan dan teknologi.
            Tuhan menegaskan di dalam Surat As Sajadah (S.32) ayat 9 bahwa: Aku sempurnakan kejadian manusia, aku tiupkan roh kedalamnya (dalam rahim ibu), maka aku berikan pendengaran di telinga, penglihatan di mata dan kalbu untuk berfikir, namun sedikit sekali diantaranya yang bersyukur. Jadi roh lah yang menyebabkan saraf-saraf otak manusia bisa berfikir bukan otak yang berfikir. Ilmu pengetahuan dan teknologi dengan demikian tidak mungkin lahir jika manusia tidak punya roh. Roh lah dengan pancaran nur Nya yang mendengar di telinga. Roh lah dengan pancaran nur Nya yang memancar dimata sehingga mata dapat melihat, demikian juga dengan bagian-bagian patologis tubuh lainnya dari setiap tubuh manusia.
            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa domain para akademisi adalah mengurus yang fisik material, bagaimana membuat hidup dan kehidupan ini menjadi mudah dan terfasilitasi dalam segenap kebutuhan kehidupan. Tokoh agama domainnya adalah mengurus yang non fisik (akhlak spiritual). Dengan terdidiknya manusia dari sisi akhlak spiritualitas maka ketika dia menjadi: ilmuan, aparat penegak hukum, anggota legislatif, pejabat (aparat sipil Negara) dan pegawai di jajaran eksekutif, maka tentu saja akan tidak pernah melupakan hakekat dirinya sebagai hamba Allah swt. Hanya saja persoalannya, lagi-lagi kita tidak mengenal mana itu akhlak/spiritual, yang kita pahami adalah defenisinya sehingga ketika kita hendak mendidik atau memperbaiki atau mengasah ketajaman akhlak/spiritual, tentu saja hal itu tidak bisa terwujud. Contoh, bila akhlak itu ibarat mobil, maka mobil tidak akan pernah dapat kita pakai apalagi perbaiki bila kita hanya menghafal tuntas buku petunjuk tentang mobil itu sedangkan mobilnya kita tidak pernah kenal dan temui. Akhlak ada wujud atau benda yang menjadi obyeknya. Demikian juga penjelasan alqur’an bahwa yang punya otoritas penuh atau hak prerogatif untuk memperbaiki akhlak adalah Rasulullah Muhammad Saw, sebagaima beliau katakan bahwa misi aku dibangkitkan adalah untuk memperbaiki akhlakul karimah. Peran tokoh-tokoh agama adalah menunjukkan dan memperkenalkan kepada kita tempat dimana Rasul memperbaiki akhlak.
            Dalam diri manusia (Surat at Taghabun ayat 2) ada esensi kafir (ingkar) dan esensi iman (mukmin) yang senantiasa berlomba dalam mengajak manusia kepada kejahatan atau kebaikan dan yang bisa mengendalikan hal tersebut agar yang senantiasa berperan adalah mukmin, tiada lain adalah Tuhan. Sebagaimana firman tersebut berikut ini:  
Dia-lah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.
                Eksistensi ayat ini akan semakin jelas maknanya  bila kita kaitkan dengan surat at-Taariq ayat (5) yang menyatakan bahwa: Ì
Maka hendaklah manusia memikirkan dari apakah asal kejadiannya?
Dengan memahami proses kejadian ini, maka kita akan tau bahwa, ada bagian dari diri kita yang berasal dari ibu bapak (hasil pertemuan sperma dan ovum) yang berasal dari sari pati tanah yang wujud utuhnya dapat dilihat pada bayi yang dalam kandungan ketika berusia empat bulan sepuluh hari. Asal usul inilah yang membawa sifat-sifat: angin, air, tanah dan api yang berwujud: hawa, nafsu dunia, setan. Inilah yang disebut manusia yang ada di dalam tubuh manusia. Selanjutnya wujud tersebut disempurnak oleh Tuhan dengan ditiupkan roh Nya. Sebagaimana dijelaskan di dalam surat as-Sajadah ayat (9) bahwa:
Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
Lihatlah dan cermatilah bahwa seluruh pelaku tindak pidana dengan berbagai wujudnya adalah orang-orang yang tidak memahami petunjuk agama tersebut. Mereka selama ini membanggakan akal pikirnya yang diwarnai oleh ilmu pengetahuan yang arahnya adalah melahirkan manusia-manusia materialistis, hedonis. Mereka menempatkan agama pada bagian belakang kehidupan atau sebagai pelengkap kehidupan, padahal agama adalah landasan, penuntun dan pegangan utama dalam hidup dan kehidupan agar menjadi  manusia yang selamat di dunia dan di akhirat. Iptek kegunaannya hanya sebatas dalam kehidupan duniawi semata, sedangkan agama selain untuk kehidupan duniawi maka juga untuk kehidupan akhirat. Ingat yang mau diselamatkan dalam kedirian manusia secara hakiki, kita kenal dalam ucapan, “Inna lillahi wa inna ilahi rajiun”, iptek jelas tidak memiliki: konsep, teori dan ajaran tentang hal tersebut, yang punya ajaran tentang hal tersebut tentu saja hanya agama. Mungki secara ekstrim dapat dikatakan bahwa iptek tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan hidup dan kehidupan baik skala personal, komunitas maupun alam jagad raya ini. Agamalah yang punya ranah untuk menyelamatkan hidup dan kehidupan ini. Betapa hebatnya iptek yang telah dimiliki oleh Jepang dan Amerika Serikat tapi apa daya mereka bila  alam sudah marah semua hancur berantakan. Demikian sementara sebagai bahan pertimbangan semoga ada manfaatnya, amin.#


[1] Pemakaian dan penggunaan istilah, “agama islam” sebenarnya adalah keliru. Bagaimana bisa terjadi kata “agama” yang dari bahasa Sansekerta digabung dengan kata “islam” yang dari bahasa Arab, padahal kata yang tepat adalah “din” yang juga dari bahasa Arab. Kata agama kita artikan dengan “a” tidak dan “gama” kacau, jadi agama adalah tidak kacau. Kata “din” adalah iqamah atau pendirian sehingga kata dinul islam adalah bermakna “pendirian selamat”, tentu pertanyaan selanjutnya dimana berpendrian selamat kalau sudah tau itu bermakna sudah ketemu dengan agama Islam meskipun belum Agama Islam karena yang beragama islam itu memiliki tangga-tangga kenaikan.