Jumat, 19 Februari 2016

MENGAKU NABI

Oleh; Ahkam Jayadi
            Sudah berkali-kali di Negara kita ini kita temukan kasus pengrusakan sebuah lembaga pendidikan atau sebuah markas komunitas oleh karena pimpinannya mengaku nabi (Mirsa Gulam Ahmad dalam kasus Ahmadiyah). Demikian juga dengan problematika yang kini melanda kelompok Gaffatar. Terakhir kemarin Menteri Agama (17 Februari 2016), mengakui sedang melakukan penelusuran terhadar seorang pimpinan pondok pesantren di Jombang bernama “Jari” karena mengaku sebagai Nabi Isa dan anaknya sebagai Imam Mahdi padahal telah terjadi sejak tahun 2005. Sebelumnya di Jakarta beberapa tahun lalu “Lia Eden” mengaku diri sebagai Malaikat Jibril dan berberapa kasus lainnya. Bagaimana sebaiknya kita menyikapi hal ini baik sebagai masyarakat awam maupun tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh masyarakat serta aparat penegak hukum.
            Hal awal yang harus kita dudukkan dalam masalah ini adalah, kenapa masyarakat kita dengan mudahnya bisa terjebak dan mau mengakui serta mengikuti orang yang mengaku sebagai Nabi, Jibril, Isa dan yang lainnya.Tentu hipotesis awal yang dapat dikedepankan adalah, pengetahuan agama masyarakat kita yang sangat dangkal dan lemah sebab bila pengetahuan agama masyarakat kita baik, benar dan kuat maka tentu saja mereka tidak akan mudah dan gampang terpengaruh oleh ajaran-ajaran baru yang menyesatkan termasuk mengikuti orang-orang yang mengaku sebagai nabi (palsu). Dan bila itu terjadi maka kesalahan awal ada pada tokoh-tokoh agama karena tidak berhasil meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat secara baik dan benar serta kuat aqidah dan ketauhidannya. Sayang kesalahan itu tidak disadari sehingga tokoh-tokoh agama itu justru berbalik menyalahkan masyarakat yang bersangkutan dan untuk itu harus di vonnis sebagai kafir, berdosa dan harus di hukum. Bahkan terkadang lansung mengeluarkan fatwa sesat sehingga hal itu menjadi dasar kelompok masyarakat lainnya untuk menganiaya kelompok yang sesat atau tersalah itu (padahal tersalah secara pengetahuan karena kebenaran belum pernah sampai ke mereka), apa cara ini benar?
            Dalam Alqur’an jelas telah menegaskan tentang nabi terakhir sebagaimana di dalam Surat Al Ahzab ayat (40) sebagaimana beikut:Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi, dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
                Jadi jelas wajib kita untuk tidak percaya jika ada orang yang mengaku-ngaku sebagai nabi oleh karena ayat di atas sudah jelas bahwa Muhammad Rasulullah itu lah nabi terakhir. Demikian juga dengan keberadaan Nabi Isa yang adanya sebelum Nabi Muhammad. Untuk itu jika ada kelompok atau aliran yang membuat aliran keagaman dan sesungguhnya melakukan pelecehan terhadap agama yang sudah ada, demikian juga orang yang mengaku-ngaku sebagai nabi, maka biarlah masalah itu kita serahkan kepada pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menyelesaikannya.
Tokoh agama mari kita ajak untuk menyadarkan mereka-mereka itu karena mereka juga adalah anak-anak bangsa saudara kita yang harus diselamatkan. Demikian juga tokoh-tokoh agama bersama-sama tokoh masyarakat dan ilmuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang agama yang benar sebagaimana telah diatur di dalam setiap kitab suci agama-agama yang ada seperti dalam agama Islam di atur di dalam Alqur’an terutama aspek aqidah dan ketauhidannya. Jangan lah kita melakukan tindakan-tindakan main hakim sendiri apalagi sampai melakukan pengrusakan, pengusiran, penganiayaan dan sebagainya. Hal ini sangat penting agar kejadian-kejadian seperti itu tidak terjadi lagi di tengah masyarakat tidak lagi berulang-ulang muncul aliran keagamaan baru, muncul nabi-nabi baru.
Tentu saja bukan cara penyelesaian yang arif bila kita tiba-tiba marah dan melakukan pengrusakan terhadap mereka bersama harta bendanya, akan tetapi sebelumnya kita tidak pernah melakukan pembinaan atau menunjukkan kepada mereka mana agama (Islam) yang benar itu. Liatlah kasus Jari di Jombang telah terjadi sejak tahun 2005 dan baru sekarang kita sibuk mempersoalkannya. Bukankah Majelis Ulama di Indonesia sebagaimana tertuan di dalam anggaran dasarnya memproklamirkan diri sebagai pewaris nabi yang tugas dan fungsinya adalah meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat dengan cara-cara yang baik dan benar atau bijaksana. Kedepan kasus-kasus seperti itu kita tekadkan untuk tidak terjadi dan terulang lagi dengan meningkatkan pendidikan, pelatihan cermah agama guna peningkatan pemahaman keagamaan masyarakat secara massif dan berkesinambungan.#