Minggu, 21 Februari 2016

MORAL DAN HUKUM Catatan atas Tulisan Sudikno Mertokusumo

Oleh: Ahkam Jayadi*
            Sudikno Mertokusumo (Prof. Dr.) dalam tulisan di blognya yang penulis kutip tertanggal 4 April 2013 menulis tentang, “moral dan hukum”. Dalam uraiannya beliau menyatakan bahwa, moral berhubungan dengan manusia sebagai individu sedangkan hukum (kebiasaan, sopan santun) berhubungan dengan manusia sebagai makhluk social. Pada pernyataan inilah kita melihat kesalahan awal terjadi oleh karena beliau memisahkan kedua entitas ini padahal keduanya ada pada sosok yang satu yaitu, “manusia”. Segala apa yang dinyatakan oleh seorang manusia, demikian juga dengan apa yang diwujudkan dalam bentuk tingkah laku adalah hasil pengejawantahan apa yang berasal dari dalam dirinya (inner capacity). Dengan demikian aspek internal dan aspek eksternal dari sosok seorang manusia tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
            Moral berasal dari bahasa Latin mos (jamak: mores) yang berarti juga kebiasaan, adat dan dalam bahasa Belanda moural, yang berarti kesusilaan, budi pekerti[1]. Menurut W.J.S. Poerwadarminta, moral berarti, “ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan”[2]. Dalam Islam moral dikenal dengan istilah “akhlak” berasal dari kata “khuluqun”, artinya budi pekerti, perangai, tingkah laku, tabiat. Raghib Al-Isfahani, seorang filsuf muslim klasik, memaknai akhlak sebagai upaya manusia untuk melahirkan perbuatan yang bajik dan baik. Alasannya, kata akhlak merupakan plural dari khuluq yang berasal dari kata khalaqa. Menurutnya, ini ditujukan kepada ciptaan Tuhan yang bermuatan daya yang dapat disempurnakan oleh upaya manusia[3]. Menurut Ibnu Maskawih dalam bukunya Tahdzibul akhlaq wa that-hirul-a’raq, seperti dikutip oleh Rahmat Djatnika, menyebut akhlaq sebagai perangai, yang maksudnya adalah keadaan gerak jiwa yang mendorong ke arah melakukan perbuatan dengan tidak menghajatkan pikiran. Sedangkan menurut Al-Ghazali: akhlak merupakan tabiat jiwa, yang dengan mudah melahirkan perbuatan-perbuatan dengan perwatakan tertentu secara serta merta tanpa pemikiran dan pertimbangan. Apabila tabiat tersebut melahirkan perbuatan baik dan terpuji menurut akal dan agama, tabiat tersebut dinamakan akhlak yang baik. Apabila melahirkan perbuatan-perbuartan yang jelek, maka tabiat tersebut dinamakan akhlak yang jelek[4]. Pengertian ini juga semakin membawa kita kepada pemahaman yang keliru tentang apa itu akhlak?
            Selanjutnya Sudikno menyatakan, antara hukum dan moral terdapat perbedaan dalam hal tujuan, isi, asal cara menjamin pelaksanaannya dan daya kerjanya. Perbedaan antara moral dan hukum dalam hal tujuan, bahwa tujuan moral adalah menyempurnakan manusia sebagai individu sedangkan tujuan hukum adalah ketertiban masyarakat. Perbedaan antara moral dan hukum dalam hal isi, bahwa moral yang bertujuan penyempurnaan manusia berisi atau memberi peraturan-peraturan yang bersifat batiniah (ditujukan kepada sikap bathin) sedangkan hukum memberi peraturan-peraturan bagi perilaku lahiriah.
            Menurut Sudikno batasan perbedaan tersebut jangan dilihat terlalu tajam, karena hukum tidak semata-mata (mutlak) memperhatikan tindakan-tindakan lahiriah saja, demikian pula moral tidak hanya memperhatikan perilaku batiniah saja. Penjelasan bahwa hukum menghukum mereka yang melakukan delik hanya apabila perbuatannya itu dapat dipertanggung-jawabkan, yaitu kalau ada kesalahan. Itu pun masih dibedakan ada kesengajaan atau kelalaian atau tidak. Demikian pula hukum memberikan akibat pada perbuatan yang dilakukan dengan itikad baik atau tidak. Apabila perbuatan lahriah orang itu sesuai dengan peraturan hukum, maka tidak akan ditanya mengenai bathinnya. Hukum sudah puas dengan perilaku lahiriah yang sesuai dengan peraturan hukum (cogitationis poenam nemo patitur: niemand wordlt gestraft voor wat hij denkt). Apabila seseorang berbuat bertentangan dengan hukum maka baru akan dipertimbangkan juga sikap batinnya. Perbuatan akan ditentukan oleh motif (alasan). Moral sebaliknya selalu menanyakan tentang sikap-sikap batin dan tidak puas dengan sikap lahir saja. Kalau yang diperhatikan hanya perbuatan yang memenuhi tuntutan hukum maka ada perbedaan tajam antara hukum dan moral. Tetapi kalau hubungan dengan perbuatan yang bersifat melawan hukum, maka moral dan hukum itu saling bertemu. Dalam hal perbuatan melawan hukum, moral dan hukum itu saling bertemu. Disini moral dan hukum mempunyai bidang bersama. Perbedaan antara hukum dan moral disini ialah bahwa jalan menuju ke bidang bersama itu bertentangan arah, yaitu bagi hukum dari luar (dari perbuatan lahir) ke dalam (ke batiniah). Bagi moral dari dalam keluar (gierke). Lagi-lagi disini Sudikno salah paham tentang asal usul moral dan hukum.
            Selanjutnya Sudikno menyatakan bahwa, perbedaan antara moral dan hukum dalam hal asalnya menurut Kant ada dua antara lain: Moral itu otonom sedangkan hukum itu heteronom. Didalam hukum ada kekuasaan luar (kekuasaan diluar “aku”) yaitu masyarakat yang memaksakan kehendak. Kita tunduk pada hukum diluar kehendak kita. Hukum mengikat kita tanpa syarat. Sebaliknya perintah batiniah (moral) itu merupakan syarat yang ditentukan oleh manusia sendiri. Moral mengikat kita karena kehendak kita. Hukum bertujuan tatanan kehidupan bersama yang tertib. Tujuan ini hanya dapat dicapai apabila di atas dan di luar manusia individual ada kekuasaan yang tidak memihak yang mengatur bagaimana mereka harus bertindak satu sama lain. Moral bertujuan penyempurnaan manusia. Tujuan ini hanya dapat ditentukan oleh masing-masing untuk dirinya sendiri. Banyak yang menyangkal sifat otonom dari moral. Disamping ada moral objektif atau moral posotif (kebiasaan, sopan santun) ada moral otonom. Yang terakhir ini adalah moral yang sesungguhnya.
            Perbedaan hukum dan moral dalam cara menjamin pelaksanaannya. Hukum sebagai peraturan tentang perilaku yang bersifat heteronom berbeda dengan moral dalam cara menjamin pelaksanaannya. Moral berakar dalam hati nurani manusia, berasal dari kekuasaan dari dalam diri manusia. Disini tidak ada kekuasaan luar yang memaksa manusia mentaati perintah moral. Paksaan lahir dan moral tidak mungkin disatukan. Hakikat perintah moral adalah bahwa harus dijalankan dengan sukarela. Satu-satunya perintah kekuasaan yang ada dibelakang moral adalah kekuasaan hati nurani manusia. Kekuasaan ini tidak asing juga pada hukum, bahkan mempunyai peranan penting. Pada bagian ini pertanyaan yang muncul adalah mana “hati nurani” itu bagaimana wujudnya?
            Pada umumnya peraturan-peraturan hukum dilaksanakan secara sukarela oleh karena dalam hati nurani kita merasa wajib. Hukum dalam pelaksanaannya terdapat dukungan moral. Dasar kekuasaan batiniah dari hukum ini dapat berbeda. Dapat terjadi karena isi peraturan hukum memenuhi keyakinan batin kita. Akan tetapi dapat juga isi peraturan hukum kita mematuhinya. Dibelakang hukum masih ada kekuasaan disamping hati nurani kita. Masyarakat yang menerapkan peraturan-peraturan hukum itu mempunyai alat kekuasaan untuk melaksanakan pelaksanaannya kalau tidak dilaksanakan. Pelaksanaan hukum tidak seperti moral yang hanya tergantung pada kekuasaan batiniah, tetapi masih dipaksakan juga oleh alat-alat kekuasaan lahir atau luar.
            Perbedaan hukum dan moral dalam daya kerjanya. Antara hukum dan moral ada perbedaan dalam daya kerjanya. Hukum mempunyai dua daya kerja: memberikan hak dan kewajiban yang bersifat normatif dan  atributif. Moral hanya membebani manusia dengan kewajiban semata-mata bersifat normatif. Perbedaan ini merupakan penjabaran perbedaan tujuan. Hukum bertujuan tatanan kehidupan bersama yang tertib dan membebani manusia dengan kewajiban demi manusia lain. Moral yang bertujuan penyempurnaan manusia mengarahkan peraturan-peraturannya kepada manusia sebagai individu demi manusia itu sendiri. Hukum menuntut legalitas jadi yang dituntut adalah pelaksanaan atau penataan kaedah semata-mata. Moral (kesusilaan) menuntut moralitas jadi yang dituntut adalah perbuatan yang didorong oleh rasa wajib. Kewajiban adalah beban kontraktual sedangkan tanggung-jawab adalah beban moral.
            Bila kita baca secara keseluruhan tulisan Sudikno di atas maka kita dapat simpulkan bahwa beliau tidak tau atau mungkin kurang paham apa itu “moral” sebenarnya. Dengan kata lain moral yang beliau pahami selama ini adalah moral dalam kajian dan penjelasan ilmu pengetahuan. Moral bukanlah ranah ilmu pengetahuan, moral adalah ranah agama. Pada ranah ini kita dapat melihat keanehan sosok manusia yang hanya menerima begitu saja berbagai kelebihan-kelebihan yang dimilikinya tanpa berusaha untuk menelusuri, memahami dan mendalami kelebihan-kelebihan dirinya itu. Beberapa pertanyaan mendasar diantaranya: dari mana manusia itu berasal, dari mana manusia itu bisa berfikir, kenapa manusia bisa hidup dan kemudian mati, dari mana manusia bisa memahami nilai baik dan nilai buruk dalam hidup dan kehidupan ini, mengapa seorang pakar dengan puluhan titel kesarjanaan yang dimilikinya sehingga melahirkan berbagai teori keilmuan yang mengagungkan akan tetapi semenit setelah meninggal (dunia) maka otaknya yang cemerlan itu tidak bisa lagi berbuat apa-apa, padahal otaknya yang cemerlan itu masih ada, ada apa?
            Pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai membuka pintu ruang misteri kehidupan manusia. Jawaban-jawaban yang secara tepat dari pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya bisa di jawab oleh ajaran agama (Islam). Kehebatan manusia dalam melahirkan ilmu pengetahuan (sains dan teknologi) sebenarnya tidak akan bisa terjadi seandainya manusia tidak memiliki “roh”. Lagi-lagi urusan roh adalah urusan agama, ilmu pengetahuan sama sekali tidak memiliki kapasitas untuk membicarakan dan mengkaji hal tersebut. Roh hingga kini masih misteri dalam ilmu kedokteran, karena rahasianya belum bisa terungkap hingga sekarang. Ilmu pengetahuan adalah hasil karya manusia sedangkan manusia dengan rohnya adalah hasil karya Tuhan (Allah SWT). Bagaimana mungkin ilmu pengetahuan itu kemudian bisa dan mampu membahas dan mengkaji sosok manusia yang menciptakannya. Ciptaan tetaplah ciptaan dan pencipta tetaplah pencipta. Manusia dalam banyak hal memiliki keterbatasan dan keanehan-keanehan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan.
            Dalam Kitab Alquran pada Surat as Sajadah ayat (9) Tuhan berfirman bahwa:
kemudian Dia menyempurnakan kejadian manusia dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
            Jadi dengan adanya “roh” yang ditiupkan oleh Tuhan pada semua bayi yang ada dalam kandungan ketika berusia empat bulan sepuluh hari, maka bayi (manusia) pada akhirnya dapat melihat mendengar dan berfikir. Jadi roh yang dengan nur-Nya itulah yang mendengar di telinga yang melihat dimata dan yang berfikir di hati. Bukan otak yang berfikir tapi hati, otak hanyalah sarana jadi ada yang berfikr di otak itulah roh dengan nur-Nya. Untuk itu di Surat Al A’raf ayat (179) Tuhan telah berfirman bahwa:
dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka Itulah orang-orang yang lalai.
                Pesan dan makna yang terkadung di dalam ayat ini sungguh sangat nyata sekarang di tengah kehidupan masyarakat. Betapa banyak manusia dalam sosoknya akan tetapi sikap dan perilakunya adalah perilaku binatang. Kalau manusia bersikap dan berprilaku binatang bukan kah itu berarti manusia justru lebih rendah dan lebih hina dari binatang. Dalam bahasa alquran sangat berbeda dengan bahasa ilmu pengetahuan. Bagi ilmu pengetahuan yang berfikir adalah akal melalui syaraf-syarafnya yang ada di otak. Dalam bahasa alquran yang berfikir itu “hati”. Dari hati itu memancar nur-Nya ke syaraf-syaraf otak sehingga bisa berfikir dan disebut dengan “akal”. Itulah sebabnya ketika “Nur” itu sudah tidak ada atau dipanggil kembali oleh Tuhannya (sebagaimana orang yang meninggal) maka otak melalui akalnya tidak bisa lagi berfikir. Pada ranah inilah jelas sekali peran dan urgensi nilai-nilai agama menjadi niscaya adanya. Roh adalah entitas yang tidak terbantahkan oleh semua agama zamawi (mulai dari Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Isa hingga Nabi Muhammad), sayangnya pemahaman kita tentang roh itu sangat kurang dan sempit bahkan cenderung keliru. Roh terkadang hanya dipahami sebagai nafas yang keluar masuk dihidung dalam bentuk oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2), yang datang dan pergi begitu saja tanpa harus menjadi perhatian dan sesuatu yang harus dipikirkan eksistensinya. Pada hal tidak ada satu pun manusia didunia ini yang mau rohnya dicabut dan ditukar dengan sesuatu bahkan uang senilai trilyunan rupiah sekalipun. 
                Selanjutnya Tuhan berfirman di dalam Surat Al Israa ayat (85) yang menjelaskan tentang entitas roh sebagai aspek terdalam dalam kedirian manusia, yaitu: 
š 
dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
Untuk itu apa moral itu  sebenarnya dalam sudut pandang agama. Rasulullah Muhammad SAW telah menegaskan bahwa misi kerasulan beliau adalah memperbaiki akhlak (moral) dan itu adalah otoritas penuh beliau (Aku dibangkitkan untuk memperbaiki akhlak mulia). Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa memperbaiki akhlak (moral), tokoh-tokoh agama sekalipun tidak bisa, yang mereka bisa lakukan adalah menunjukkan jalan dan tempat dimana Rasul memperbaiki akhlak atau moral itu. Sayangnya era sekarang ini banyak tokoh-tokoh agama yang mengambil alih kewenangan itu, seakan dia yang punya kewenangan memperbaiki akhlak. Padahal apanya akhlak yang bisa mereka perbaiki bila benda atau wujud akhlak yang hendak diperbaiki itu mereka tidak tahu dan kenal. Mungkikah mesin sebuah mobil yang rusak dapat diperbaiki bila kita hanya mengenal merek mobilnya tapi mobil dan mesinnya yang rusak itu kita tidak tau dan tidak pernah kita lihat atau ketemu? Jelasnya jawabannya tentu saja tidak.
Berbagai upaya seperti: cermah, pendidikan dan pelatihan telah dilakukan oleh semua eleman masyarakat, bangsa dan Negara guna memperbaiki akhlak dan moral, namun adakah akhlak atau moral anak-anak bangsa ini menjadi baik? Perbuatan maksiat semakin menjadi-jadi, kejahatan semakin memprihatinkan dan mengerikan yang tidak hanya terjadi secara konvensional tapi juga semakin canggih. Demikian juga tidak lagi antara individu akan tetapi juga terjadi secara berkelompok (komunitas) dan melanda semua level masyarakat, mulai dari masyarakar yang tidak terpelajar hingga masyarakat terpelajar, mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat tinggi (Negara). Hal yang paling sadis adalah saudara-saudara kita yang beralasan perintah agama justru melakukan berbagai kejahatan seperti teror dan pembunuhan. Semuanya hanya sebatas permainan kata-kata, tidak mewujud secara langsung kepada wujud akhlak atau moral itu sebagaimana seharusnya. Padahal jika akhlak (moral) itu baik maka pasti sikap dan perilaku manusia akan menjadi baik pula.
Untuk memahami eksistensi roh dalam diri manusia, maka lebih lanjut harus dipahami proses kejadian manusia. Proses kejadian manusia dapat dilihat salah satunya di dalam Surat At Taghabun ayat (2) yang menjelaskan bahwa:
Dia-lah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.
Sayangnya makna ayat tersebut di atas dimaknakan keluar. Jadi dalam sebuah komunitas masyarakat, maka disitu ada orang yang kafir (tidak beragama Islam) dan ada orang mukmin (yang beragama Islam). Padahal makna ayat ini ke dalam diri kita (tubuh sebatang).  Setiap sosok tubuh manusia yang sehari-hari kita lihat atau kita lakukan sendiri seperti: berbaring, duduk dan berlari maka pada bagian terdalam dari tubuh manusia itu terdapat unsur atau esensi “kafir” dan ada esensi “mukmin”. Ada esensi kafir yang senantiasa membisikkan atau mengajak kepada yang tidak baik (perbuatan dosa) dan ada esensi mukmin yang senantiasa mengajak kepada kebaikan (perbuatan baik). Kedua esensi inilah yang mengendalikan “sikap dan perilaku” setiap manusia. Bila yang dominan atau yang menang esensi kafir maka sikap dan perilaku seseorang akan menjadi jahat sehingga dapat kita lihat orang menjadi: pencuri, pembunuh, pemerkosa, korupsi dan yang lainnya. Bila yang dominan atau yang menang adalah sifat mukmin maka dapat lah kita terhindar dari perilaku jahat atau tidak baik.
Esensi kafir adalah sifat dasar manusia yang terbentuk dari proses kejadian yang bersumber dari ibu bapak kita. Wujudnya dapat dikenali melalui zatnya berupa hawa, nafsu, dunia dan setan. Esensi mukmin adalah sifat dasar roh yang terbentuk dari proses kejadian yang bersumber dari Tuhan (lihat Surat As Sajadah ayat 9). Wujudnya dapat dikenali melalui zatnya berupa siddiq, amanah, tabligh dan fatanoh. Seharusnya esensi mukmin yang senantiasa mewujud dalam sikap dan perilaku kita akan tetapi sifat-sifat itu terkalahkan oleh sifat-sifat kafir oleh karena roh kita tidak dikontrol oleh TuhanNya (Surat Al Israa ayat 85).
Roh itulah bendanya akhlak (moral) agar dia baik dan terjaga maka harus dikontrol atau diurus oleh TuhanNya. Bila tidak di urus atau dikontrol oleh Tuhan maka yang akan mengendalikannya adalah sifat kafir. Maka dari itu didikan sekolah dan ilmu pengetahuan yang didapatkannya tidak dapat memperbaiki akhlak (moral). Lihatlah para pelaku kejahatan (khususnya pelaku korupsi misalnya) yang luaran perguruan tinggi tetap saja melakukan berbagai kejahatan oleh karena esensi dasar dirinya yang tidak dipahami dengan baik. Hukum dan kebanyakan elemen anak bangsa ini (pemerintah, anggota DPR, hakim polisi dan jaksa) hanya mengandalkan hukum (dengan ranah ekternalnya) untuk memperbaiki manusia dengan cara menghukum bila melakukan kejahatan, padahal yang seharusnya dijaga dan dikendalikan adalah aspek internal sebagaimana dikemukakan di atas.
Sejatinya sebuah dekonstruksi dan restorasi luar biasa untuk merubah berbagai teori, konsep dan materi pelajaran tentang akhlak (moral) yang selama ini ada dan diajarkan dilembaga-lembaga pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi tentang apa itu akhlak (moral). Tanpa perubahan sebagaimana dikemukakan di atas maka akhlak (moral) segenap anak-anak bangsa ini tentu saja tidak akan bisa baik secara massif dan sistemik, kecuali dalam bentuknya yang sesaat. Ketika mereka menyadari dirinya dengan berbagai kesalahan yang telah dilakukannya maka menit itu dia akan menjadi baik, akan tetapi pada menit berikutnya ketika esensi kafir mulai bergerak maka ketika itulah dia akan menjadi jahat dan tidak ada siapa pun yang dapat mengendalikannya.#



*) Dosen fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar.
[1] Muchsin, Menggagas Etika dan Moral di Tengah Modernitas, (Surabaya: CV. Adis, 2002), hlm. 10.
[2] Ahmad Manshur Noor, Peranan Moral Dalam Membina Kesadaran Hukum, (Jakarta: Dirjen Bimbaga Islam Depag RI, 1985), hlm.7.
[3] Amril M, Etika Islam Telaah Pemikiran Filsafat Moral Raghib Al-Isfahani, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan LSFK2P, 2002), hlm.83.
[4] Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad, Ihya’ Ulm al-Din, Volume III, (Kairo: Dar al Hadith, 1994), hlm.86.