Jumat, 26 Februari 2016

NARKOBA DAN APARAT


Oleh: Ahkam Jayadi

            Penangkapan sejumlah aparat dalam sebuah pesta narkoba (tentara, polisi dan keterlibatan seorang anggota DPR yang anak mantan wakil presiden yang notabene seorang tokoh agama) sungguh mengagetkan yang sejatinya tidak perlu mengagetkan oleh karena realitas seperti ini memang ada di tengah masyarakat. Lagi-lagi peristiwa ini membuktikan secara berulang-ulang akan keterlibatan aparat di dalam penggunaan dan jaringan narkoba. Penulis yakin peristiwa ini hanya akan menyita perhatian selama beberapa hari dan setelah itu menghilang entah kemana dan baru lagi kita tersentak jika terjadi lagi secara berulang melibatkan aparat negara (baik sipil maupun militer).
            Terjeratnya seseorang menjadi pengguna, pengedar dan bandar narkoba sebenarnya tidak ada hubungan lansung dengan status seseorang sebagai aparatur negara. Apakah dia aparatur negara, masyarakat biasa ataupun  anggota legislatif bila godaan itu sudah mencul maka siapa pun bisa menjadi pengguna dan pengedar. Hanya saja bahwa seorang aparatur negara tentu seharusnya menghormati dan menjunjung tinggi status dan kedudukannya sebagai aparatur negara atau anggota legislatif karena itu adalah, “status terhormat” yang harus dijaga dari perbuatan-perbuatan tercela. Ternyata realitas menunjukkan bahwa status terhormat tersebut tidak mampu menghalangi seseorang ketika pikiran kotor dan nafsu setannya mulai menguasainya.
            Keterlibatan sebagai pengguna atau pengedar narkoba memang bisa dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat oleh karena bisnis narkoba adalah bisnis yang istilahnya adalah bisnis yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu yang singkat. Bagi orang yang memiliki banyak uang (kaya raya) maka keterlibatan sebagai pengguna atau pengedar narkoba, disamping sebagai ajang hura-hura untuk memenuhi nafsu setannya maka juga untuk menghamburkan uang yang berlebihan (kultur hedonis). Bagi masyarakat miskin hingga menengah ini adalah bisnis yang tidak susah dan cepat bisa menghasilkan uang banyak. Bagi aparatur biasanya selain bisa berlindung dari statusnya sebagai aparat (penegak hukum) maka biasanya mereka dekat dengan pihak-pihak yang terlibat dalam penggunaan dan peredaran narkoba.
            Bila kita memandang aparatur negara, anggota legislatif (sebagai manusia biasa) baik pengguna maupun sebagai pengadar atau bandar, maka penyalahgunaan narkoba itu tidak akan pernah berhenti atau akan senantiasa terjadi setiap saat dan dimana saja serta bisa dilakukan oleh siapa saja. Manusia akibat proses kejadiannya akan senantiasa menjadi sumber atau penyebab terjadinya berbagai tindak kejahatan. Anasir yang membentuk dan membangun manusia adalah: hawa, nafsu, dunia dan setan. Keinginan dan perilaku manusia dari dahulu hingga sampai kapan pun adalah memenuhi atau menuruti keinginan dan kehendak hawa nafsunya. Manusia yang senantiasa di dalam hidup dan kehidupannya hanya memenuhi atau menuruti kehendak hawa nafsunya, maka itulah yang dalam bahasa alqur’an disebut atau digolongkan sebagai, “kafir”. Terminologi kafir bukanlahlah bangsanya akan tetapi ada di dalam diri setiap orang (esensi diri). Dalam bahasa Alqur’an Surat At Taghabuun ayat (2) menegaskan bahwa: “Dia Nya Allah yang telah menjadikan di antara mu ada yang kafir dan ada yang mukmin. Sungguh Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan”.
            Bila esensi kafir ini kita tidak pahami maka diri kita tidak akan pernah dapat mengendalikannya, bahkan diri kita akan dibawa terjerumus ke kedalam lembah kenistaan  dengan berbagai bentuknya seperti: mencuri, memperkosah, membunuh dan menjadi pengguna, pengedar dan bandar narkoba. Pada tataran inilah “hukum negara” tidak mampu menyelesaikan persoalan ini.  Sebaliknya dalam proses kejadian manusia juga dikenal adanya esensi “mukmin” yang senantiasa mengajak kepada kebaikan, keselamatan dan kasih sayang kepada sesama manusia (hamba Allah). Untuk itu kita harus kenal betul kedua esensi diri ini dan senantiasa berusaha untuk mengenali dan mengasahnya melalui pengamalan. Ketika kita mendapatkan bisikan untuk berbuat jahat maka itulah kafir (ingkar) jangan dituruti akan tetapi ikuti bisikan dari si mukmin yang biasanya ketika bisikan kafir muncul maka dia pasti akan muncul untuk mengingatkan sebagi sesuatu yang salah, tinggalah terserah pada kita yang mana kita hendak ikuti.#