Selasa, 16 Februari 2016

PENANGKAPAN PEJABAT MAHKAMAH AGUNG


Oleh: Ahkam Jayadi
         (pemerhati hukum dan sosial keagamaan tinggal di Makassar)

Untuk kesekian kalinya penangkapan pejabat (operasi tangkap tangan) karena korupsi terulang dan terulang lagi. Kejadian (penyalahgunaan jabatan dan korupsi) yang entah kapan akan senantiasa berulang dan berulang, sehingga patut untuk kita pertanyakan kemana pengaruh pembinaan pejabat yang selama ini dilakukan? Kemana pengaruh pejabat terdahulu yang ditangkap kemudian di penjara yang seharusnya menjadi pelajaran bagi pejabat-pejabat lainnya. Kemana pengaruh revolusi mental yang dicanangkan oleh presiden dan para anggota kabinetnya?
Penangkapan pejabat Mahkamah Agung (Andri Tristianto Sutrisna sebagai Kasubdit PK dan Kasasi, Jumat 12 Februari 2016) sungguh sebuah kejadian yang amat sangat memalukan dalam membuka lembaran baru tahun 2016 di saat Presiden Jokowi menegaskan tahun 2016 ini sebagai tahun kerja keras terutama dalam mewujudkan “revolusi mental”. Meskipun yang di tangkap adalah personal dari MA, tapi pertanyaan yang timbul adalah, apakah hanya dia yang sendiri melakukan tindakan korupsi dalam bentuk penyalahgunaan kewenangan atau jabatan tersebut. Apakah teman-temannya dalam satu bidang di MA, demikian juga atasannya hingga ke puncak Ketua MA tidak tau perbuatannya tersebut ataukah ada kerjasama di dalam melakukan tindakan tersebut yang sering kita kenal dengan korupsi berjamaah dalam bentuk hasil-hasil korupsinya itu yang dibagi-bagi ke pegawai yang lain.
Kita tidak menelusuri jawaban dari pertanyaan tersebut di atas oleh karena itu tugas dari aparat penegak hukum, tugas dari kolega dan atasannya di MA untuk menjawabnya. Selanjutnya yang akan kita telusuri adalah ada apa sebenarnya para pejabat kita termasuk tentu anak-anak bangsa yang lainnya, masih senantiasa melakukan tindak pidana korupsi dan penyelahgunaan jabatan dan kekuasaan. Kejadian-kejadian yang ada sebelumnya tidak pernah menjadi pelajaran yang baik untuk tidak mengulang perbuatan tersebut (melakukan berbagai tindak pidana korupsi). Sebenarnya kejadian-kejadian sebelumnya telah menjadi pelajaran, hanya saja pelajaran yang dimaksud adalah, jika si A bisa menyalahgunakan kekuasaannya mengapa saya tidak, jika si B bisa korupsi sehingga memiliki kekayaan yang melimpah (uang yang banyak, rumah mewah yang banyak, tanah dimana-mana, koleksi mobil mewah) mengapa saya tidak bisa lach wong ada peluang?
Dalam banyak tulisan saya sebelumnya, telah penulis nyatakan bahwa saatnya kita coba pertanyakan eksistensi dan kemampuan peraturan perundang-undangan untuk mencegah orang melakukan tindak pidana. Demikian juga patut kita mempertanyakan proses-proses dan hasil didikan sekolah (mulai dari tingkat Taman kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi) yang tidak mampu membuat manusia menjadi baik lahir bathin. Kemana pengaruh dari berbagai akitivitas keagamaan melalui berbagai cara (ceramah, pelatihan dan ibadah ritual) dalam mencegah ummat-Nya melakukan berbagai kejahatan. Bahkan beberapa waktu lalu (tahun 2014) di Kementerian Agama malah terjadi tindak pidana korupsi dan yang dikorupsi adalah pengadaan Kitab Suci Alquran. Akhir tahun 2015 hingga memasuki awal tahun 2016, kita dibuat prihatin karena Menteri Agama (SDA) dipenjara karena kasus korupsi dana haji.
Ada apa sebenarnya dengan para pelaku kejahatan dalam berbagai bentuknya (ic. Korupsi) yang pelakunya adalah manusia yang dalam bahasa agama (Islam) mereka-mereka itu adalah “wakil Tuhan di permukaan bumi” (khalifah). Pada berbagai tulisan penulis juga sudah mengulas hal tersebut, bahwa selama ini kita kebanyakan tidak memahami “hakekat diri” sebagai manusia. Mungkin pada sebagian orang mengatakan memahami hakekat dirinya akan tetapi sayang pemahaman yang sampai ke mereka itu kebanyakan keliru untuk tidak menyatakan salah. Dalam ajaran (Islam) misalnya kita paham dan sadar betul bahwa shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar sebagaimana Firman Tuhan dalam Surat Al Ankabuut ayat (45) sebagaimana berikut ini: bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar, dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
            Mana gerangan pengaruh shalat dalam mencegah seseorang melakukan perbuatan keji (kolusi, korupsi, nepotisme dan yang lainnya) dan mungkar. Bahkan yang senantiasa bisa kita saksikan para pelaku kejahatan tindak pidana korupsi sudah divonis pun mereka masih juga membela diri tidak bersalah sehingga seluruh upaya hukum perlawanan di gunakannya. Padahal secara kasak mata kita sudah bisa saksikan kekayaannya yang melimpah berupa rumah mewah dimana-mana, mobil mewah dimana-mana dan seterusnya kita tidak tau dari mana dia memperolehnya kalau bukan dari hasil korupsi.
            Seseorang agar menjadi baik dalam setiap sikap dan perilakunya maka haruslah menggunakan piranti agama, bukan ilmu pengetahuan. Sayangnya semakin hari kita semakin terpesona dengan kehebatan ilmu pengetahuan bahkan cenderung agama kini ditempatkan sejajar bahkan di bawah level ilmu pengetahuan. Lihat di berbagai perguruan tinggi diajarakan tentang integrasi agama dengan ilmu pengetahuan. Sebuah realitas yang sebenarnya menunjukkan betapa kita tidak memahami kedudukan dan eksistensi agama dalam hidup dan kehidupan ini. Dalam bahasa Cak Nur (Nurcholis Madjid) agama kini hanya di tempatkan pada bagian belakang kehidupan. Agama hanya menjadi penting ketika hendak menjadi pejabat (syarat bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa) atau melamar sesuatu kerjaan atau ketika hendak menikah dengan melihat KTP nya (apa agamanya), apakah Islam, Kristen, Hindu atau Budha.
            Al insan atau yang lebih tepat mukmin adalah produk Tuhan untuk memahami dan dalam menjalani hidup dan kehidupan ini Tuhan melengkapinya dengan buku panduan (buku petunjuk) dalam bentuk kitab-kitab suci. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah hasil karya atau hasil proses berfikir manusia. Jadi ilmu pengetahuan adalah hasil ciptaan manusia, sedangkan al insan adalah ciptaan Tuhan. Mana mungkin ilmu pengetahuan dan teknologi bisa menjelaskan eksistensi manusia. Ciptaan adalah tetap ciptaan, pencipta adalah tetap ciptaan. Al insan sebenarnya hanya bisa melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi karena adanya roh (pemberian Tuhan) di dalam tubuhnya. Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan bisa lahir seandainya al insan tidak memiliki roh.
Roh inilah yang esensi di dalam diri setiap manusia. Sayangnya kita kebanyakan tidak mengetahuinya. Kita (manusia) bisa melihat, bisa mendengar, bisa berfikir, bisa merasa karena ada roh di dalam tubuh kita. Jadi dia yang berfikir di otak, dia yang melihat dimata dan seterusnya. Lagi-lagi sayangnya eksistensi roh itu kita tidak pahami entitas dan urgensinya. Untuk itu lah Tuhan di dalam alquran Surat As Sajadah ayat (9) berfirman tentang proses kejadian manusia, yaitu: kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
Untuk memahami dengan baik apa yang Tuhan sampaikan di dalam ayat di atas, maka kita harus kaitkan dengan firman Tuhan di surat dan ayat yang lainnya, yaitu di dalam Surat Al Israa ayat (85) dimana Tuhan menjelaskan sebagai berikut: dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
Lurus nian sebenarnya pesan ayat ini, hanya kebanyakan kita lagi-lagi tidak paham dengan baik pesan dari ayat ini. Hal yang umum kita pahami, bahwa kita jangan membicarakan apalagi mendiskusikan tentang “roh” karena roh itu urusan Tuhan bukan urusan kita. Bagiamana mungkin kita dilarangan membicarakan roh padahal roh itu kita pakai dan menyertai kita setiap saat sehari semalam (24 jam). Sebagaimana telah dinyatakan di atas karena roh itulah kita bisa melihat, bisa mendengar dan bisa berfikir.
Sebagai bahan pertimbangan bahwa pesan atau makna ayat di atas hendak menegaskan kepada kita agar sikap dan perilaku kita menjadi baik maka roh kita juga harus baik dan terjaga sebab kalau tidak maka bisikan hawa, nafsu dan setan yang senantiasa yang akan menguasainya. Untuk itu jangan heran setiap saat orang bisa berubah dalam hitungan menit bahkan detik (dalam bahasa umum ini yang dikatakan bahwa iman manusia itu naik turun). Pada menit ini akan menjadi alim sekali tapi pada menit berikutnya bisa menjadi jahat sejahat-jahatnya. Dengan demikian agar roh kita baik dan terjaga maka harus di urus oleh Tuhan sebagi penciptanya. Wujudnya bagaimana? Yaitu senantiasa berhubungan dengan-Nya dalam bentuk hakekat sebagaimana di tegaskan di dalam Surat Al Baqarah ayat (149-150) yang menegaskan bahwa: dan dari mana saja kamu keluar (datang), Maka Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil haram, Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan; dan dari mana saja kamu (keluar), Maka Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, dan dimana saja kamu (sekalian) berada, Maka Palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja), dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.
            Tentu pertanyaan yang kemudian muncul adalah mana “masjidil haram” itu? Jawaban umum yang telah kita pahami selama ini adalah, masjidil haram adalah bangunan mesjid yang megah yang ada di Kota Mekkah yang kita datangi untuk tawaf, padahal itu fisik dan belakang adanya ribuan tahun setelah ayat tentang masjidil haram ini turun. Ayat tentang masjidil haram dapat dilihat pada Surat Al Imran ayat (96-97) yang menjelaskan bahwa: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia’; padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
            Selama hal-hal ini kita tidak pahami dengan baik kemudian di amalkan, maka selama itu pula manusia akan senantiasa melakukan berbagai pengrusakan di permukaan bumi. Ketika manusia belum memahami hakekat dirinya dengan baik sebagaimana penjelasan dalam ajaran agama (Islam) yang terhimpun di dalam Kitab Suci Alqu’ran maka berbagai kejahatan atau tindak pidana akan senantiasa terjadi. Berbagai tindak pidana korupsi akan senantiasa berulang dan berulang hingga akhir saman. Untuk itu kini sudah saatnya (meskipun sebenarnya sudah sangat terlambat) nilai-nilai ajaran agama harus di restorasi sebagaimana mestinya agar dapat fungsional pada diri kita dan pada gilirannya hidup dalam interaksi sosial kehidupan masyarakat dan yang pada akhirnya juga hidup dan mengejawantah dalam diri pejabat-pejabat negara (legislatif, eksekutif dan yudikatif) agar tercipta “baldatun tayyibatun warabbun gahffur” amin yan Rabbul alamin.#