Minggu, 21 Februari 2016

QUO VADIS PEMILIHAN PUTRI INDONESIA


Oleh: Ahkam Jayadi
            Semalam di Jakarta (Jumat, 19 Februari 2016) dilaksanakan puncak pemilihan putri  tercantik Indonesia. Pemilihan tersebut telah berhasil memilih wanita atau putri tercantik Indonesia tahun 2016 yang berasal dari Menado (Sulawesi Selatan) bernama “Kezia Roslin Cikita Warouw” sarjana teknik informatika dan pegawai pada sebuah bank. Keke panggilan akrabnya akan mewakili Indonesia dalam bentuk duta Indonesia pada berbagai event serta mewakili Indonesia dalam pemilihan putri tercantik tingkat internasional.
            Pemilihan putri Indonesia demikian juga pemilihan-pemilihan dalam skala internasional aspek-aspek yang dinilai antara lain: kecantikan fisik serta kesesuaian bentuk fisik, kecerdasan intelektual yang wujudnya antara lain keluasan wawasan kemampuan berbicara baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa internasional lainnya. Entitas lain yang tidak kalah pentingnya adalah kecantikan internalnya dalam bentuk akhlak dan moralitas yang kesemuanya sering dikenal dengan kecantikan luar dalam atau kecantikan lahir bathin. Dalam kaitan itu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menilai kecantikan bathin atau kecantikan internal. Apa sebenarnya yang dimaksud mereka para pengelola pemilihan putri tersebut dan apa indikator yang digunakan untuk menilainya. Pertanyaan ini penting untuk kita ajukan mengingat salah satu vinalis pemilihan putri tercantik tahun 2015 lalu terjebak prostitusi kelas atas.
            Penulis yakin kalau kita pahami betul, “harkat, martabat dan hakekat” dari sosok seorang perempuan maka ajang perlombaan atau pemilihan yang mengeksploitasi sosok perempuan tidak akan pernah terjadi. Perempuan adalah sosok yang sangat tinggi dan luarbiasa kemuliaannya bila dibandingkan dengan laki-laki sayang kebanyakan kita tidak tau dan paham hal tersebut. Akibatnya perempuan seringkali kita rendahkan harkat, martabat dan derajat dalam segala lini kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
            Semua agama yang ada sejak dahulu hingga sekarang (mulai dari Yahudi, Kristen hingga Islam) memahami betul bahwa asal usul atau kakek moyang manusia itu adalah, “Nabi Adam” dan nenek moyangnya adalah, “hawa”. Adam adalah kejadian yang pertama, Hawa adalah kejadian yang kedua dan kita ummat manusia adalah kejadian yang ke tiga. Dari situlah kemudian manusia beranak pinak hingga sekarang dan mendiami permukaan bumi hingga mencapai sekitar 6 milyar penduduk bumi. Adam diciptakan diluar sorga kemudian diangkat masuk ke sorga. Di Sorga itulah kemudian memohon dan berdoa kepada Tuhan agar diciptakan Hawa. Dengan latar belakang ini makanya di dalam ajaran Islam jika isteri kita melahirkan anak, bila anak itu laki-laki maka harus di azankan lalu di iqamahkan sedangkan bayi perempuan cukup di iqamahkan tidak perlu di azankan, mengapa? Karena laki-laki harus dipanggil masuk ke sorga, sedangkan perempuan yang sudah makhluk sorga atau penghuni sorga tidak perlu dipanggil maka cukup di iqamahkan. Jadi sejatinya perempuan itu lebih mulia dari pada laki-laki. Hanya sayangnya karena tidak tau dan tidak paham kemulian ini banyak direndahkan sendiri oleh kalangan perempuan. Setiap hari diberbagai tempat kita bisa saksikan bangaimana perempuan yang tidak memuliakan diri dengan menutup auratnya. Apalagi kalau yang melakukannya dan yang menggodanya untuk merendahkan kemuliaannya adalah laki-laki yang bukan makhluk sorga tadi.
            Keluar-biasaan lain perempuan yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang pria adalah kemampuan perempuan untuk mengandung dan melahirkan anak. Dalam sejarah kenabian  sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW, bahwa ada sahabat yang dikandung dan lahir dari seorang perempuan tampa campur tangan seorang laki-laki salah satunya yang kita kenal adalah Nabi Isa. Laki-laki tidak akan bakal bisa memiliki keturunan (anak) bila tidak ada perempuan (Isteri). Demikian juga perjuangan untuk mengandung hingga sembilan bulan sepuluh hari hingga melahirkan adalah sebuah kemuliaan yang kita kenal dengan pertarungan hidup mati. Dalam kandungannya kemudian perempuan bisa menampung “dua roh” di dalam tubuhnya yang lagi-lagi tidak mungkin bisa dilakukan oleh seorang laki-laki. Roh dia sendiri dan roh dari anak yang dikandungnya.
            Untuk itu sejatinya perempuan adalah sosok yang sangat agamis dan tentu tidak pada tempatnya perempuan itu tidak paham dan tidak mengamalkan perintah-perintah ajaran agama dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian masihkah kita mau melakukan kegiatan-kegiatan yang  melecehkan dan merendahkan harkat, martabat dan hakekat perempuan sebagai makhluk mulia yang sangat dicintai dan di sayangi oleh Tuhan. Tentu kembali kepada kita semua apakah kita masih hidup pada ranah lebih mencintai dunia dengan segala aspeknya di banding dengan mencintai Allah dan Rasul-NYa, hidup sangat singkat untuk kita sia-siakan.#