Selasa, 15 Maret 2016

BUPATI NARKOBA


Oleh: Ahkam Jayadi

Ahmad Wazir Nofiadi Mawardi salah satu bupati (Bupati Ogan Ilir Sumatera Selatan) yang baru di lantik sekitar sebulan lalu usinya baru 27 tahun tertangkap oleh BNN karena menkonsumsi sabu-sabu bersama beberapa orang temannya. Penjelasan BNN (Senin 14 Maret 2016) yang kita bisa tangkap bahwa yang bersangkuta telah lama menkonsumsi narkoba bersama teman-temannya. Pertanyaan kemudian bagaimana hasil pemeriksaan kesehatannya (cek up menyeluruh) oleh tim dokter ketika dia maju sebagai calon bupati. Kalau benar (dan bisa dipastikam pasti ada permainan) ada permainan dengan tim dokter yang bersangkutan maka semua pihak harus bertanggung jawab dan diproses secara hukum dan keterpilahannya serta pelantikannya sebagai bupati harus dibatalkan demi hukum.
Semakin kacau begitukah sistem hukum bangsa ini? Khususnya peraturan perundang-undangan yang mangetur tentang pemilihan kepala daerah sehingga seorang pecandu narkoba (sabu-sabu) bisa sebagai calon dan terpilih menjadi bupati. Seorang penyanyi yang sama sekali tidak punya pengetahuan apa lagi pengalaman dalam urusan pemerintahan daerah bisa terpilih menjadi wakil walikota dan lucunya malah marah-marah ketika salah-salah di dalam memimpin sebuah upacara. Apakah memang kita tidak lagi memiliki anak-anak bangsa yang layak dan pantas untuk menjadi kepala daerah karena memiliki pengetahuan yang maksimal dan pengamalan dalam mengurus pemerintahan. Apakah ini wujud nyata dari hasil reformasi yang telah di canangkan sejak jatuhnya Pemerintah Orde Baru khususnya reformasi dibidang hukum dan pemerintahan.
Kita suku tidak suka, kita setuju tidak setuju penangkapan bupati narkoba di atas telah menjadi tamparan keras kepada segenap institusi penyelenggaran pemlihan umum kepala daerah baik komisi pemilihan umum maupun panitia pengawas pemilihan umum. Sejatinya sosok-sosok seperti Nofiadi ini tidak lolos dalam seleksi pencalonan calon kepala daerah tetapi toh kenapa bisa lolos. Demikian juga setelah lolos sebagai calon kepala daerah, koq kemudian bisa lolos dan terpilih sebagai kepala daerah. Kalau Nofiadi sebagai pengguna dan pencandu narkoba, maka tidak mungkin tidak ada satupun orang di Ogan Ilir yang tau kelakuan yang bersangkutan sebagai pemakai sabu-sabu. Demikian juga kasus lainnya koq bisa seorang Bupati baru ketauan menggunakan ijzah palsu setelah terpilih jadi bupati dan berbagai kasus lainnya.
Inilah yang jauh-jauh hari didalam ajaran Islam telah diingatkan oleh Tuhan di dalam Alqur’an Surat At Taubah ayat (23) yang menjelaskan bahwa: Hai orang-orang yang berimana janganlah kamu menjadikan bapak-bapakmu saudara-saudaramu menjadi pemimpin jika mereka lebih menyukai kekafiran atas keimanan, dan barangsiapa yang di antara kamu menjadikan mereka pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Sungguh keras peringatan Tuhan di atas, janganka orang lain, sahabat, satu organisasi, satu ras dan yang lainnya hatta terhadap orang tua sendiri saja dilarang memilihnya menjadi pemimpin bila mereka bukanlah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Namun apa yang terjadi di tengah masyarakat kita asal sudah satu kelompok satu asal daerah satu partai dan berbagai faktor kedekatan lainnya maka semua upaya kita lakukan agar bisa terpilih dan semua rintangan coba kita lawan hatta dengan cara saling ejel mengejek, saling fitnah memfitnah, saling mengungkap aib satu sama lain. Fatal sungguh fatal bila hal-hal ini terus-terus terjadi di tengah masyarakat. Demikian semoga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk kita melakukan perubahan, amin.#