Selasa, 01 Maret 2016

HUKUM NEGARA DAN HUKUM TUHAN



Oleh: ahkam jayadi

            Sejak penulis masih mahasiswa, yang ketika itu bersama teman-teman sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (sejak tahun 80 an), maka perdebatan tentang Hukum Negara Indonesia dengan Hukum Agama Islam, sudah terjadi dan belum juga berhenti hingga sekarang. Beberapa orang sahabat penulis sejak mahasiswa hingga sebagai sarjana hukum dan bekerja di berbagai profesi dalam perkembangan kepahaman agamanya yang kebetulan intensif melakukan kajian-kajian agama, tetap perpegang pada prinsip bahwa hukum Negara Republik Indonesia adalah hukum kafir, hukum fasik dan hukum dzalim dan untuk itu semua pihak yang terkait di dalamnya adalah penghuni neraka jahanam.
Apa benar seperti itu? Pertanyaan lainnya adalah sejauh mana pemikiran tersebut bisa kita terima dan benarkan dalam sudut pandang ajaran Islam? Tulisan ini mencoba memberikan beberapa bahan pertimbangan untuk menjadi pemikiran agar kita bisa menemukan kebenaran sesungguhnya. Betapa kita sering kali keliru oleh karena kita menyangka informasi di atas kertas itulah kebenaran sesungguhnya, padahal kebenaran sesungguhnya adalah terbuktinya kebenaran informatif itu di dalam diri kita dan kita rasakan (ain). Kebenaran informatif bahwa air mendidih pada suhu 100 derajat celcius sehingga wujudnya menjadi panas. Apa tulisan ini kebenaran sesungguhnya? Apakah ditulisan itu kita dapat melihat air mendidih dan merasakan panasnya, tentu saja tidak. Kalau mau melihat dan merasakan kebenaran sesungguhnya maka ambil air panaskan dan buktikan dia mendidih dan sentuh apa benar dia panas atau tidak. Pertanyaan berikutnya siapa yang melihat air itu mendidih dan siapa yang merasakan air itu panas?
Kekeliruan dan kesalahan kita di dalam memahami hukum Negara dan hukum Tuhan (hukum agama/Islam) sejatinya menjadi salah satu penyebab timbulnya sikap-sikap ekstrim pada sebagain anak-anak bangsa ini. Bayangkan sebagaimana dinyatakan di awal tulisan ini dengan mengutip Alqur’an Surat Al Maidah ayat 44, 45 dan 47 bila kita sudah mengklaim dan meyakininya bahwa hukum-hukum Negara kita adalah hukum kafir, fazik dan dzalim. Ujung-ujungnya adalah kita harus berperan (dan inilah yang kemudian kita lawan pula dengan menyebutnya sebagai teroris) untuk melawannya karena kita tidak mau menjadi bagian penghuni neraka akibat hukum tersebut yang dibiarkan berlaku. Belum lagi pimpinan bangsa ini dari pusat hingga daerah (aparat sipil Negara) di klaimnya sebagai “thogut”.
Hukum Tuhan sebenarnya turun bersamaan dengan awal diciptakannya manusia dipermukaan bumi (Nabi Adan dan Siti Hawa) hingga berkesenimbangun dari nabi ke nabi. Mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW semua sama misi kenabiannya adalah, “ketauhidan, aqidah dan akhlak”. Terakhir Rasulullah Muhammad SAW menyatakan bahwa, “aku di bangkitkan untuk memperbaiki akhlakul kharimah”. Dengan demikian ajaran-ajaran agama sebenarnya yang awal dan utama diperbaiki adalah aspek terdalam dari diri manusia karena jika ini baik maka implementasinya keluar juga pasti akan baik.
Rasulullah Muhammad SAW menyatakan dalam hadits qudzi, “aku daripada Allah dan mukmin itu daripada aku”, dari situlah kita mengenal bahwa sosok kita ini adalah “nur Muhamad” atau turunan beliau sehingga pada diri kita juga turun sifat-sifat beliau yaitu: siddiq, amanah, tabligh dan fatonah. Kalau kita tidak berhukum pada sifat-sifat ini maka inilah sebenarnya yang akan membuat kita menjadi kafir, fazik dan dzalim. Siddiq adalah benar semua yang keluar dari bisikan hati ini pasti benar tidak akan pernah salah. Kalau kita hendak melakukan sesuatu pasti dia paling awal mengingatkan apakah itu hal yang baik terlebih lagi hal yang buruk atau salah, hanya terkadang kita mengabaikannya karena alasan subyektif praktis plus pragmatisme. Amanah oleh karena dialah amanah Tuhan kepercayan Tuhan yang nantinya akan bertanggung-jawab atas segala kelakuan kita selama hidup. Tabligh, dialah yang senantiasa membisikkan kebenaran di dalam hati kita. Fatonah, bahwa meskipun kita tau itu benar dan itu salah tidak dengan serta merta harus bertindak akan tetapi kita harus bijaksana atau timbang rasa terlebih dahulu.
Dengan demikian aparat penegak hukum kita sebenarnya tidak perlu susah-susah mencari alat-alat bukti didalam menyelidiki atau menyidik suatu kasus. Siapa pun dia dan apa pun bentuk tindak pidana yang dia lakukan (pencurian, pembunuhuan, pemerkosaan, korupsi dan yang lainnya) cukup suruh dia tafakkur sejenak dan mengeluarkan bisikan hatinya kalau dia pelaku maka pasti hatinya gak bisa bohong dia siddiq. Semua orang bisa kita bohongi, aparat penegak hukum, suami atau isteri, saudara atau teman akan tetapi adakah orang yang bisa membohongi dirinya? Jawabnya tidak akan ada satu pun orang yang bisa. Bahkan dari awal sebelum seseorang melakukan suatu perbuatan maksiat, jahat atau tindak pidana maka pasti mukminnya sudah memperingatkan bahwa itu perbuatan salah, jangan dilakukan namun kita menampiknya dan tetap melakukan perbuatan itu. Demikian juga setelah perbuatan itu dilakukan maka semua pelakunya pasti menyadari betul dan pada saat itu pasti menyesali namun apa dikata, nasi sudah jadi bubur. Dengan demikian kalau salah, hati akan mengatakan salah kalau benar, hati akan menyatakan benar. Inilah hukum-hukum Tuhan yang seharusnya kita dahulukan di dalam melakukan atau menilai sesuatu sebab jika tidak jelas kita akan menjadi kafir karena mengingkari bisikan kebenaran yang disampaikan, dengan sendirinya akan menjadi fazik dan menganiaya diri.  Tentu ini akan menjadi sempurna dan bisa termanifestasi dalam kehidupan ketika hukum-hukum Negara yang ada sejalan. Demikian sebagai bahan pertimbangan, semoga ada manfaatnya untuk kita menemukan kebenaran sesungguhnya.#