Jumat, 04 Maret 2016

MEMPERTANYAKAN PENDIDIKAN KARAKTER


Oleh: Ahkam Jayadi

            Seiring dengan visi misi Presiden Jokowi dengan “revolusi mentalnya”, maka berbagai lembaga swasta serta lembaga pendidikan (mulai dari Taman kanak-kanak hingga Perguruan tinggi) telah membentuk lembaga khusus yang menangani projek pembentukan karakter. Berbagai perguruan tinggi Islam bahkan (misalnya Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar) membentuk suatu lembaga (Character Building Training/CBT) yang khusus melakukan pendidikan dan pengajaran untuk membentuk karakter mahasiswa agar menjadi mahasiswa yang baik dan benar. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “mental” apakah sama dengan “karakter” apakah juga sama dengan akhlak”. Bila istilah ini saja kita sudah tidak paham dan mengerti apa yang dimaksud lantas bagaimana pula kita akan merevolusi atau memperbaiki mental, karakter atau akhlak itu.
            Bahkan seiring dengan revolusi mental yang digagas pemerintah justru yang nampak kepermukaan adalah sikap mental yang tidak terpuji. Lihatlah kegaduhan yang senantiasa dimunculkan oleh menteri-menteri kabinet kerja yang saling konflik, bahkan konflik antara seorang menteri dengan wakil presiden. Serta konflik antara menteri yang satu dengan menteri yang lainnya. Demikian juga antara menteri hukum dan ham dengan partai politik yang bermasalah. Terlebih lagi konflik internal antara jaksa agung dengan jajaran pengurus dari partai asalnya yang terjebak korupsi. Pertanyaanya adalah sampai kapan konflik seperti ini akan terjadi dan kita tempatkan dimana revolusi mental itu. Apa mental dan revolusi mental itu sebenarnya?
            Sebagai sebuah ilustrasi, mungkikah kita dapat menikmati nikmatnya sepotong kue lapis bila kue lapis itu kita hanya mengenalnya dari namanya saja, mengenalnya hanya lewat hayalan bahkan melihat bentuk dan warnanya saja tidak pernah? Mana kue lapis itu senyatanya tidak pernah kita bertemu dan melihatnya. Singkatnya semuanya pasti hanya omong kosong belaka. Akibatnya kita hanya bangga secara verbal dan bila berdiskusi maka perdebatan tidak akan pernah selesai oleh karena kita akan mempertahankan sesuai dengan penguasaan teori yang kita miliki dan yakini kebenarannya.  Hal inilah yang terjadi dalam kehidupan ini ketika orang ramai berbicara, ramai memperbincangkan, ramai mewacanakan tentang pembentukan mental anak-anak bangsa agar memiliki mental kuat yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan bangsa dan Negara.
Dalam kamus  besar bahasa Indonesia “mental” adalah  bersangkutan dengan bathin dan watak manusia. Sikap mental disebut juga dengan moral. Moral berasal dari bahasa Latin mos (jamak: mores) yang berarti juga kebiasaan, adat dan dalam bahasa Belanda moural, yang berarti kesusilaan, budi pekerti[1]. Menurut W.J.S. Poerwadarminta, moral berarti, “ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan”[2]. Dalam Islam moral dikenal dengan istilah “akhlak” berasal dari kata “khuluqun”, artinya budi pekerti, perangai, tingkah laku, tabiat. Raghib Al-Isfahani, seorang filsuf muslim klasik, memaknai akhlak sebagai upaya manusia untuk melahirkan perbuatan yang bajik dan baik. Alasannya, kata akhlak merupakan plural dari khuluq yang berasal dari kata khalaqa. Menurutnya, ini ditujukan kepada ciptaan Tuhan yang bermuatan daya yang dapat disempurnakan oleh upaya manusia[3]. Menurut Ibnu Maskawih dalam bukunya Tahdzibul akhlaq wa that-hirul-a’raq, seperti dikutip oleh Rahmat Djatnika, menyebut akhlaq sebagai perangai, yang maksudnya adalah keadaan gerak jiwa yang mendorong ke arah melakukan perbuatan dengan tidak menghajatkan pikiran. Sedangkan menurut Al-Ghazali: akhlak merupakan tabiat jiwa, yang dengan mudah melahirkan perbuatan-perbuatan dengan perwatakan tertentu secara serta merta tanpa pemikiran dan pertimbangan. Apabila tabiat tersebut melahirkan perbuatan baik dan terpuji menurut akal dan agama, tabiat tersebut dinamakan akhlak yang baik. Apabila melahirkan perbuatan-perbuartan yang jelek, maka tabiat tersebut dinamakan akhlak yang jelek[4]. Pengertian ini juga semakin membawa kita kepada pemahaman yang keliru tentang apa itu akhlak.
Pertanyaan selanjutnya adalah mana wujud mental itu pada diri kita? Bagimana kita hendak memperbaiki mental (moral, akhlak) itu bila rusak dan bagaimana kita tetap mempertahankan agar tetap baik? Hal ini penting oleh karena esensinya sangat penting dalam diri dan kedirian kita. Kita tidak bisa hanya cukup memahami pada tataran teori, konsep dan defenisi akan tetap memahami betul wujd atau bendanya mental, akhlak atau moral itu pada diri kita sehingga kita mengenalnya. Pada akhirnya kita juga dapat mengetahui dengan benar, siapa yang punya ranah untuk memperbaikinya apakah ilmu pengetahuan atau agama atau adat istiadat. Demikian pertanyaan ini kita ajukan ke hadapan para cerdik pandai, tokoh agama dan tokoh masyarakat semoga dapat memberikan penjelasan sebagaimana mestinya.#



*) Dosen fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar.
[1] Muchsin, Menggagas Etika dan Moral di Tengah Modernitas, (Surabaya: CV. Adis, 2002), hlm. 10.
[2] Ahmad Manshur Noor, Peranan Moral Dalam Membina Kesadaran Hukum, (Jakarta: Dirjen Bimbaga Islam Depag RI, 1985), hlm.7.
[3] Amril M, Etika Islam Telaah Pemikiran Filsafat Moral Raghib Al-Isfahani, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan LSFK2P, 2002), hlm.83.
[4] Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad, Ihya’ Ulm al-Din, Volume III, (Kairo: Dar al Hadith, 1994), hlm.86.