Jumat, 18 Maret 2016

PARADIGMA ILMU PENGETAHUAN (HUKUM)


Oleh: Ahkam Jayadi

            Sejak lama sebenarnya telah terjadi kesalahan paradigma berfikir dalam ilmu pengetahuan (sains dan teknologi). Telah menjadi keyakinan di kalangan ilmuan bahwa ilmu pengetahuan adalah sebuah maha karya manusia yang terlepas dari keterlibatan ilahi (spiritualitas). Tentu saja sebuah pemikiran yang sangar keliru jika kita pahami dari mana asal usul kejadian manusia. Hanya saja dalam awal proses berfikir manusia (khususnya para filosof) yang pada akhirnya melahirkan berbagai corak dan ragam ilmu  pengetahuan, manusia hanya menerima begitu saja kehadiran akal pikirnya sehingga tinggal digunakan dan tidak pernah mencoba untuk mempertanyakan dari mana asal usul kemampuan akal untuk berfikir. Paling banter yang bisa dilakukan adalah melahirkan metode-metode berfikir agar proses dan cara berfikir itu bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah sehingga hasil nya juga dapat diterima.
            Memang mungkin, ada hal yang sulit dipertemukan ketika ilmu pengetahuan dengan paradigmanya serta semua ilmuan yang ada hendak diajak untuk berfikir di rana spiritual. Hal itu terjadi oleh karena ilmu pengetahuan basisnya adalah realitas kehidupan dengan segala aspeknya baik yang mikro kosmos maupun makro kosmos, sehingga hal-hal yang bagi mereka bersifat hayalan atau pun keyakinan agama yang bersifat transenden akan ditolak mentah-mentah. Ranah iptek adalah rasional obyektif dan hasil-hasil temuanya harus bisa diuji secara empiris baik oleh penemunya maupun oleh orang lain yang hendak menguji kembali. Ranah agama adalah “hikmah” dan pengalaman bathin yang terkadang wujud empirikalnya tidak massif.
            Sebenarnya pola berfikir kontradiktif seperti dikemukakan di atas tidak perlu terjadi bila kita sedikit terbuka dan mau menerima masukan. Kehebatan konstruksi patologis dan akal manusia bukanlah sebuah proses alamiah yang berawal dari proses pembuahan sperma dan ovum yang alamiah, akan tetapi sebuah kehidupan yang dikontrol oleh Ilahi (kekuatan spiritual). Ingat bahwa hingga kini salah satu hal yang tidak bisa di jawab oleh ilmu pengetahuan (khususnya ilmu kedokteran) adalah dari mana jantung itu bisa memperoleh denyutan dan bagaimana pula denyutan itu pada akhirnya hilang?        Demikian juga dari mana dan kenapa mesti seorang janin yang bertumbuh di dalam rahim ibunya baru akan bisa terasa bergerak bila telah ada roh di dalam tubuhnya dan itu baru terjadi setelah janin berusia empat bulan sepuluh hari? Pada tataran inilah sejatinya kita dapat tersadar ketika ajaran agama (Islam) mengingatkan kepada kita bahwa: “hendaklah manusia itu memikirkan dari apakah asal kejadiannya”. Dari mana, sedang dimana dan hendak kemana akhirnya? Dalam kaitan ini kematian tidak seharusnya dipahami hanyalah sekedar proses bilogis hilangnya kehidupan dan atau berhentinya kehidupan. Sebab bila itu hanya proses biologis, kenapa hingga kini tidak ada ilmuan yang mampu menahan kematian itu (atau menahan ketuaan) serta menghentikan kematian itu?
            Kehebatan seorang ilmuan sebenarnya bukan karena memiliki akal (otak) centrum proses berfikir terjadi yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan (baik ilmu pengetahuan murni maupun ilmu pengetahuan terapan) akan tetapi yang hebat sebenarnya adalah karena adanya anugerah Tuhan yang ditiupkan pada saat janin berusia empat bulan sepuluh hari yang pada akhirnya itulah yang berfikir di otak (akal). Jadi bukan otak atau akal yang berfikir, otak atau akal hanya alat akan tetapi ada yang berfikir di otak atau akal itu. Bukan mata yang melihat tapi ada yang melihat dimana. Bukan telingan yang mendengar akan tetapi ada yang mendengar di telinga.
            Pembuktian akan kebenaran pemikiran di atas dapat dilihat ketika seorang ilmuan yang bergelar professor sekalipun meninggal, apakah otak, mata, telinga dan akalnya masih ada? Jelas masih ada dan lengkap, pertanyaannya kemudian kenapa otak atau akalnya tersebut tidak bisa lagi berfikir? Jelas sudah karena bukan otak atau akal yang berfikir, akan tetapi yang berfikir di otak atau akal  yaitu, “roh” telah tidak ada di dalam tubuhnya. Roh itu telah kembali ke Tuhan-Nya. Inilah yang sesungguhnya yang disebut dengan kematian (innalillah wainna ilaihi rajiun). Hal Inilah dalam setiap kehidupan manusia siapa pun dia-Nya dan dimana pun dia-Nya yang harus diselamatkan (sebagaimana dia datang sebagaimana dia kembali).
            Dengan uraian singkat di atas kita dapat simpulkan bahwa, peran ilmu pengetahuan hanya sebatas kehidupan duniawi. Demikian juga ilmu pengetahuan tidak ada satu pun (dari disiplin ilmu mana pun baik ilmu-ilmu sosial atau humaniora maupun ilmu-ilmu exacta) yang dapat menyelamatkan kehidupan manusia (baik di dunia terlebih lagi di akhirat kelak). Kita semua mungkin sudah tau bahwa yang hendak diselamatkan adalah yang datang dari pada Tuhan tadi “roh” (innalillahi wainna ilaihi rajiun). Coba kita ingat kembali bidang-bidang ilmu yang pernah kita pelajari di bangku sekolah bidang ilmu pengetahuan yang mana yang memiliki ajaran atau sistem nilai yang mengajarkan bagaimana menyelamatkan roh itu.  Satu-satunya yang mempunyai ajaran tentang bagaimana menyelamatkan roh kita itu adalah “agama (Islam)”.
            Pada tataran ini pulah lah kita harus pahami bahwa gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan yang telah bergulir selama ini akan salah langkah dan tidak akan pernah dapat mencapai tujuan bila yang dipahami hanyalah sebatas bagaimana ayat-ayat Kitab Suci seperti Alqur’an itu diselipkan pada konsep-konsep ilmu pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmu yang ada. Islamisasi ilmu pengetahuan adalah menyadarkan semua ilmuan dan orang-orang yang terlibat dalam proses keilmuan yang terjadi bahwa: siapa pun dia Nya dan dimana pun dia Nya, tidak akan mungkin dapat melahirkan ilmu pengetahuan bila dia tidak memiliki roh. Roh inilah yang menyebabkan otak atau akal bisa berfikir sehingga lahir ilmu pengetahuan. Demikian untuk sementara semoga bisa menjadi bahan pertimbangan guna menemukan kebenaran sesungguhnya.#