Selasa, 15 Maret 2016

POLISI MUTILASI ANAKNYA


Oleh; Ahkam Jayadi

Sungguh sebuah berita yang sangat mengangetkan bercampur kebingungan dan tak percaya bahwa, seorang polisi berpangkat Brigadir Petrus yang sehari-hari bekerja di Kepolisian Melawi Kalimantan barat beberapa hari lalu telah memutilasi dua orang anaknya yang masih anak-anak. Cerita dari hasil penyelidikan kepolisian peristiwa itu di awali dengan perselingkuhan Petrus dengan seorang perempuan yang akhirnya diketahui oleh isterinya sehingga keduanya tidak lagi harmonis dan kemudian isterinya mengajukan perceraian. Pertanyaan kita kemudian, sebegitu mudahkah seorang polisi yang telah dididik selama dalam pendidikan tidak hanya aspek fisiknya akan tetapi juga kita klaim pembinaan akhlak atau moralnya bahkan pembinaan pun terjadi setiap hari di dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai polisi, kemudian tiba-tiba bisa menjadi pembunuh sadis.
Cerita atau berita tentang kelakuan bejat dari Petrus di atas sebenarnya hanyalah salah satu berita yang muncul kepermukaan. Perbuatan jahat dan sadis banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat sebagaimana berulang-ulang dapat kita baca di berbagai media massa (baik cetak maupun elektronik). Ada anak yang membunuh ibu kandungnya, ada yang membunuh bapaknya. Ada anak yang menghamili ibu kandungnya serta ada ayah yang menghamili anak kandungnya setelah berkali-kali disetubuhi dan berlangsung sekian lama. Ada saudara kandung yang saling mebunuh karena soal sepele. Benar-benar sekarang ini tidak salah kalau kita sebut sebagai zaman edan. Semua realitas kehidupan terjadi dengan berbanding terbalik, yang selama ini kita sebut edan justru tidak lagi edan dan yang selama ini kita sebut tidak edan justru kini disebut edan.
Selama ini kuroptor adalah orang edan karena merampok uang Negara (uang rakyat) sehingga merugikan bangsa dan Negara kini malah jadi trend sehingga orang-orang yang tidak mau dan tidak ikut korupsi bahkan berusah menghalangi terjadinya korupsi atau melaporkannya ke yang berwajib justru mereka yang kini kita sebut orang edan. Orang yang kini menjadi bandar, pengedar dan pengguna narkoba dulu kita sebuat orang edan. Sebaliknya kini orang-orang yang tidak mau terlibat dalam lingkaran setan narkoba justru kini kita sebuat sebagai orang-orang gila. Demikian juga dalam kehidupan malam dan glamour orang-orang yang terlibat di dalamnya kini bukan lagi orang edan tetapi justru yang tidak ikut  dalam kultur hedonis tersebut yang kita sebut sebagai orang-orang gila.
Kehidupan seorang manusia atau sekelompok masyarakat dalam ajaran agama Islam telah diingatkan karena akibat sikap dan perilakunya maka mereka bisa tergolong sama dengan binatang bahkan lebih rendah dari binatang. Lihatlah peristiwa pembunuhan di atas, harimau saja sebagai binatang sadis (pembunuh) tidak akan pernah tega membunuh anak-anaknya. Kenapa manusia yang diperlengkapi dengan akal pikir justru tega membunuh anak-anaknya yang merupakan darah dagingnya sendiri. Pemikiran apa yang mendorong Pak Petrus sehingga bisa gelap mata (akal sehat dan moralitasnya tidak lagi berfungsi) sehingga melakukan pembunuhan sadis tersebut hatta terhadap kedua anak kandungnya sendiri.
Inilah akibat nyata dari sisi terdalam kehidupan manusia yang tidak dikenali dengan baik. Selama ini kita terkecoh karena percaya betul bahwa pendidikan dan pengajaran yang terjadi di sekolah (mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi) dapat memperbaiki manusia dan masyarakat. Boleh kita klaim dan percaya bahwa, bukankah di sekolah ada bagian yang mendidik dan mengajarkan tentang aspek “kognitif” untuk membentuk manusia-manusia cerdas. Ada bagian yang mendidikan dan mengajarkan aspek “afektif” agar terbentuk sikap-sikap yang baik dan benar. Ada bagian yang mendidik dan mengajarkan aspek “psikomotorik” agar perilakunya menjadi baik, sehingga hasil didikan sekolah kita klaim bisa menghasilkan manusia Indonesia yang paripurna. Apa benar itu? Fakta yang kita lihat dalam realitas kan yang membuat bangsa dan Negara ini masih jalan di tempat dengan segala korupsinya yang tidak juga hilang hingga sekarang adalah orang-orang luaran sekolah.
Kalau manusia atau masyarakat ingin menjadi baik dan  benar maka itu bukan ranahnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk membentuk manusia atau masyarakat yang paripurna maka kita harus menggunakan ajaran agama (Islam). Ruang itu adalah ranahnya agama bukan ilmu pengetahuan. Hanya saja selama ini kita keliru di dalam memahami mana ranah ilmu pengetahuan dan teknologi dan mana ranahnya agama (Islam). Manusia dengan segala corak dan perilakunya baik ia akademisi, ilmuan, praktisi, jajaran pemerintahan, tokoh agama dan tokoh masyarakat tidak akan bisa melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, melahirkan berbagai karya monumental, menulis berbagai buku best seller dan yang lainnya bila mereka tidak memiliki “roh”. Dengan adanya roh lah sehingga manusia bisa berfikir dan berbuat, bila roh tidak ada maka manusia menjadi jasad atau bangkai. Urusan roh adalah ranahnya agama dan inilah yang tidak duduk dengan sebenarnya dalam perbincangan kehidupan kita sehari-hari bahkan dalam institusi sekolahan. Demikian semoga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk kita menemukan kebenaran sesungguhnya.#