Minggu, 03 April 2016

DUKUNGAN PARTAI KEPADA AHOK



Oleh: Ahkam Jayadi

            Sungguh aneh partai politik di negeri ini. Sebagai institusi politik yang berfungsi melahirkan sumber daya manusia sebagai tokoh-tokoh bangsa untuk berbagai jenis jabatan tidak bisa diwujudkan sebagaimana mestinya. Realitas memilukan tersebut terlihat secara jelas dalam fenomena Ahok menuju kursi DKI 1 pada pemilihan kepala daerah (Gubernur DKI) tahun 20017 mendatang. Undang Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik pada Pasal 10 telah jelas mengatur bahwa: partai politik bertujuan untuk meningkatkan partisipasi politik anggota dan masyarakat dalam rangka penyelenggaraan kegiatan politik dan pemerintahan. Memperjuangkan cita-cita partai politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Membangun etika dan budaya politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  Pada pasal 11 diatur bahwa: partai politik berfungsi sebagai sarana pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi warga Negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bernegara. Penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat. Penyerap, penghimpun dan penyalur aspirasi politik masyarakat dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan Negara. Partisipasi politik warga Negara Indonesia dan rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender.
            Ahok bersama teman Ahok telah memproklamirkan bahwa Ahok akan maju sebagai calon gubernur melalui jalur independen. Dengan jumlah KTP awal yang berhasil dikumpulkan maka diputuskan juga tidak akan menggunakan jalur partai. Namun aneh bin ajaib serta tampa rasa malu dan rasa bersalah sedikit pun kemudian ada partai yang menyatakan dukungan dan mendukung Ahok sebagai calon gubernur, padahal Ahok tidak membutuhkannya. Pilihan Ahok untuk maju melalui jalur independen tentu saja pilihan yang rasional dan telah di pertimbangkan secara matang dalam berbagai aspek. Paling tidak Ahok melihat pengalamannya selama ini di dalam pemerintahan bahwa partai politik (melalui anggotanya yang duduk sebagai anggota legislatif) dalam banyak hal hanya merecoki pemerintahannya.
            Fenomena tersebut bagi penulis telah melahirkan dua kesimpulan, yaitu: pertama, partai tersebut tidak mampu membentuk serta melahirkan sumber daya manusia dan untuk itu tidak memiliki kader yang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menjadi calon gubernur yang hendak diajukan sebagai calon gubernur: kedua, partai politik tersebut numpang beken dengan elektabilitas Ahok yang sangat tinggi (mencapai kisaran di atas 75 persen). Bila begini wujud partai politik yang ada di negeri ini, maka pantas saja kita tidak bisa berharap banyak pada kehadiran partai politik sebagai institusi politik Negara sebagaimana tujuan dan fungsinya, kecuali hanya melahirkan orang-orang yang hanya taunya memanfaatkan jabatan politik dan jabatan publik yang diembannya untuk memperkaya diri sendiri, keluarga dan partainya dengan cara melanggar hukum (korupsi, kolusi dan nepotisme).
            Sungguh kita tidak habis pikir dan bahkan akal sehat kita menjadi buntu ketika menyaksikan penangkapan (operasi tangkap tangan) anggota-anggota legislatif (mulai dari pusat hingga daerah)  yang tidak juga berhenti hingga kini. Ada apa sebenarnya dengan partai politik kita, ada apa sebenarnya dengan bangsa dan Negara ini? Bukankah bangsa ini dihuni oleh anak-anak bangsa yang religious. Sehari semalam tidak kurang sekitar 175 juta orang Indonesia yang melaksanakan shalat lima waktu tapi kenapa maksiat dan tindak pidana tidak juga hilang bahkan semakin merajalela dan dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Lembaga pendidikan kita mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi  setiap saat menggulirkan pentingnya akhlak sebagai anak-anak bangsa. Demikian juga pemerintahan sekarang telah menetapkan kebijakan, “revolusi mental”. Kemana semua pengaruh itu koq tidak mewujud? Kemana semua hal tersebut bermuara dan berujung? Akhirnya paling tidak ini pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama sebagai satu bangsa satu Negara, apakah kita bisa atau tidak memperbaikinya,  semuanya kembali kepada kita semua. Demikian sebagai bahan petimbangan semoga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menemukan kebenaran sesungguhnya.#