Minggu, 03 April 2016

KAWIN ATAU NIKAH




Oleh: Ahkam Jayadi

            Terminologi kawin dan nikah masih banyak dipahami dan digunakan secara salah di tengah masyarakat. Perkawinan terbentuk dari kata kawin dan pernikahan terbentuk dari kata nikah. Kedua kata ini (kawin dan nikah) serta kata bentukannya (perkawinan dan pernikahan) memiliki makna dan asal usul yang berbeda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008:639) diuraikan bahwa: kata kawin bermakna membentuk keluarga dengan lawan jenis, menikahi, melakukan hubungan kelamin (untuk hewan), bersetubuh.  Kata nikah dimaknakan sebagai ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama.
            Kata kawin berasal dari dan atau istilah yang dikenal dalam ilmu pengetahuan. Untuk itu kita kenal istilah “kawin” untuk mempertemukan serbuk sari dengan putik sari untuk menghasilkan pembuahan yang akhirnya menghasilkan buah. Istilah kawin ini juga digunakan untuk binatang sehingga misalnya terbentuk istilah kawin silang dan sebagainya. Kejadian seperti ini untuk manusia digunakan istilah “nikah” dan “pernikahan”. Dalam konteks manusia kawin tentu saja tidak boleh ditonton oleh siapa pun kecuali mereka berdua yang melakukannya di dalam kamar. Kejadian yang bisa kita tonton atau saksikan adalah pernikahan. Istilah “nikah” adalah bahasa agama (dalam agama Islam) tercantum di dalam Kitab Suci Alqur’an. Dalam Surat An Nisa ayat (3) dinyatakan bahwa: Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja.
Dengan demikian penggunakan istilah kawin bermakna, “hubungan biologis untuk menghasilkan buah atau keturunan (untuk tanaman dan hewan bukan untuk manusia). Sayang sekali istilah itu juga digunakan untuk manusia dan bahkan telah memjadi istilah yang umum digunakan di tengah masyarakat. Kesalahan itu terjadi oleh karena kesalahan awal yang terbentuk akibat penggunaannya yang salah di dalam UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Seharusnya undang-undang ini bukan bernama undang-undang perkawinan akan tetapi undang-undang pernikahan. Bagaimana mungkin urusan kawin hendak di atur-atur, yang bisa diatur adalah urusan pernikahan. Hal-hal yang diatur tentu saja antara lain adalah: tata cara pernikahan, syarat dan rukunnya serta hak dan kewajiban satu sama lainnya sebagai suami istri serta berbagai aspek lainnya yang berkaitan dengan pernikahan.
Mari kita lihat Pasal 1 UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, pasal tersebut mengatur bahwa: Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemudian dalam Pasal 2 ayat (1) diatur bahwa: Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.  Peristiwa yang diuraikan ini dalam bahasa agama (Islam) adalah nikah bukan kawin. Kawin dalam bahasa agama (Islam) hanya bisa dilakukan dengan istri yang sah tidak boleh atau haram dilakukan dengan yang bukan istri atau suaminya.
Pasal di atas jelas sebenarnya mengisyaratkan kepada kita bahwa yang hendak di atur sebenarnya adalah urusan pernikahan, bukan urusan perkawinan. Dengan demikian jelas pula bahwa kita keliru jika yang dimaksud adalah pernikahan tapi kita menggunakan istilah perkawinan, serta sebaliknya bila yang kita maksudkan adalah perkawinan maka tentu saja keliru jika kita menggunakan kata nikah. Dengan dasar pemikiran ini tentu saja kita mengusulkan kepada pemerintah (eksekutif) dan pihak DPR (legislatif) untuk merevisi undang-undang dan berbagai peraturan lainnya yang berkaitan dengan apa yang di uraikan di atas agar tidak terjadi kesalahan dalam pengaturannya dan pada akhirnya berimplikasi pada penggunannya di dalam masyarakat. Pernikahan adalah urusan dan menjadi ranah agama (urusan hamba dengan TuhanNya) dengan demikian kita tidak boleh salah atau keliru di dalam mengatur hal tersebut. Urusan nikah sudah jelas dan lengkap pengaturannya di dalam ajaran agam Islam sebagaimana di atur di dalam Alqur’an dan Hadits Nabi sebagaiman kita kenal dalam “kitab fiqih”. Demikian semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk kita menemukan kebenaran sesungguhnya.#