Sabtu, 28 Mei 2016

HAKIM TERTANGKAP LAGI



Oleh: ahkam jayadi

            Fenomena apa lagi yang terjadi kali ini, hakim yang sekaligus Ketua Pengadilan Kapahiang Bengkulu tertangkap oleh KPK dalam opersi tangkap tangan (OTT) akibat korupsi (menerima sogok 150 juta rupiah) berkaitan dengan kasus korupsi yang sedang di tanganinya. Hakim JP yang tertangkap bersama seorang temannya (TT) yang juga hakim Tipikor adalah Ketua Pengadilan Negeri Kapahiyang Bengkulu dan sekaligus hakim pada Pengadilan Tipikor (hakim Tipikor ke 6 yang ditangkap KPK akibat korupsi). Maaf, sebagai perbandingan semata, bahwa bila hakim pengadilan tipikor saja masih bisa di sogok oleh terdakwa (pelaku tindak pidana korupsi) lantas bagaimana dengan hakim-hakim di jajaran pengadilan-pengadilan lainnya yang tidak mengadili perkara korupsi. Benar-benar kiamat sudah dunia hukum bangsa ini. Virus apa yang merusak akal, pikiran dan hati hakim JP ini sehingga sumpahnya, kode etiknya, tugas dan fungsinya sebagai hakim dan demikian juga gelar yang melekat padanya sebagai wakil Tuhan tidak mampu mencegahnya untuk berbuat jahat (korupsi).  
            Kurang apa hakim JP ini sehingga dengan mudahnya di rayu oleh terdakwa tindak pidana korupsi sehingga mau menerima sogokan. Bukankah dia orang pintar dan cerdas lepasan perguruan tinggi, telah melewati berbagai seleksi dan pendidikan profesi untuk menjadi hakim. Puluhan tahun sudah menjadi hakim, sehingga berkali-kali sudah menyatakan sumpah dihadapan Tuhan Yang Maha Esa. Apakah sebenarnya yang terjadi pada diri hakim seperti JP dan TT ini ketika dia memeriksa sebuah perkara dan berusaha memeriksa perkara tersebut dengan prinsip Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa akan tetapi bersamaan dengan itu prinsip tersebut di bayang-bayangi oleh pikiran jahatnya yang akan menerima sogokan dari terdakwa?
            Dari peristiwa tersebut tentu dapat kita simpulkan bahwa ternyata sisi kecerdasan intelektual ternyata tidak mampu menjaga dan membuat seseorang menjadi baik. Kecerdasan intelektual ternyata tidak lah susah dipermainkan oleh hawa nafsu. Ternyata kecerdasan intelektual yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi hanya bisa membuat seseorang menjadi pintar dan cerdas akan tetapi tidak mampu membuat seseorang menjadi bijaksana dan baik. Lantas bagaimana agar bisa menjadi baik dan bijaksana, tentu saja ini adalah ranah spiritualitas dan religiositas. Bukankah hakim JP dan TT juga orang beragama sejak kecil dengan demikian kita mestinya tidak perlu ragukan sisi spiritualitas dan religiositasnya karena di lembaga sekolahan hingga pendidikan profesi hakim aspek spiritualitas adalah aspek yang juga mendapat perhatian penting, lihat saja asas peradilan, “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Akhirnya apa lagi masalahnya?
            Spiritualitas dan religiositas tentu saja bukanlah hal yang gampang dan sederhana seperti yang kita bayangkan, bahwa ketika seseorang telah menganut sebuah agama sebagai agama atau pandangan hidupnya sejak kecil maka dengan sendirinya akan menjadi baik dan bijaksana. Agama tentu saja harus dipahami dan diamalkan dengan baik dan benar sebagaimana telah diajarkan oleh yang membawa agama tersebut, yaitu nabi atau rasul sebagaimana telah diutus oleh Tuhan Yang Maha Esa. Masalahnya kebanyakan umat beragama kita sekarang ini banyak memahami agama hanya berdasarkan hasil oleh pikir akal manusia yang bersumber dari hasil bacaan sesuai dengan kemanpuan nalar dan idenya. Untuk itu ajaran awal agama yang harus dipahami oleh umat beragama adalah mengenal diri. Bagaimana proses kejadian kita, mana kejadian yang bersumber dari ibu dan bapak kita dan mana kejadian yang bersumber dari Tuhan. Dengan demikian kita akan tau mana aspek fisik dan mana yang aspek non fisik (bathin) pada diri kita, bagaimana kedudukan dan eksistensi keduanya dalam beragama dan bagaimana memperlakukan keduanya, mana yang menjadi ranah kita dan mana yang menjadi ranah Tuhan. Setelah hal ini jelas barulah kita bisa bicara lebih lanjut aspek sipiritualitas dan religiositas tersebut, karena di dalam ajaran Islam (pada Surat Al Maarijz ayat 1-3) dinyatakan bahwa yang dari pada Tuhan itu ada tangga-tangga kenaikan.
Kurangnya dan lemahnya pemahaman agama sebagaimana semestinya inilah sebenarnya yang membuat umat manusia dipermukaan bumi ini menjadi jahat bahkan semakin jahat. Inilah bukti peringatan Tuhan (Surat Al A’raf ayat 179) bahwa dalam kondisi tertentu manusia itu bisa lebih jahat bahkan lebih hina dari binatang, tidak perduli apakah dia hakim, anggota legislatif, pejabat eksekutif, dan tokoh-tokoh politik semuanya bisa terjerembab dalam lembah kehinaan ini bila dia tidak memahami kedudukan agama dalam hidup dan kehidupannya. Apalagi memposisikan agama sederajat atau bahkan dibawah sain dan teknologi. Demikian sementara semoga ada manfaatnya untuk kita menemukan kebenaran sesungguhnya. Amin.#

PARTAI BARU MUNCUL LAGI



Oleh: ahkam jayadi

            Enam partai baru akan mencari keberuntungan di masyarakat dan di Kementerian Hukum dan HAM melalui verifikasi untuk dapat ikut dalam pemilihan umum tahun 2018 yang akan datang. Bila kita bandingkan dengan Negara-negara lain maka pada sisi kepartain politik Indonesia mungkin bisa disebut lebih maju dari Negara-negara lain bahkan terhadap Negara-negara yang sering disebut sebagai neneknya paham demokrasi, kenapa? Selain adanya di Indonesia, maka kita tidak akan jumpai lagi di negara-negara setiap saat muncul partai-partai baru.
            Dari sisi partai politik lah salah satu alasan kenapa penulis sering kali nyatakan bahwa, “Indonesia” adalah Negara yang tidak pernah selesai oleh karena masih senantiasa uji coba terhadap banyak hal. Negara yang hingga kini masih senantiasa uji coba dan entah sampai kapan akan berakhir. Sampai kapan hal-hal dasar dan mendasar dalam kehidupan bernegara kita selesai dan bukan lagi masalah yang senantiasa muncul setiap saat dan salah satunya adalah partai politik. Sampai kapan partai politik baru akan dibiarkan lahir terus menerus. Ketika seseorang gagal jadi pimpinan partai yang sudah ada maka kemudian bentuk partai baru agar bisa menjadi pimpinan. Ketika kepentingan politiknya tidak diwujudkan oleh sebuah partai maka kemudian dia bentuk partai baru. Bagaimana mungkin kita bisa berharap pada sebuah partai untuk mengurus bangsa dan Negara ini kalau masih baru dan untuk mewujudkan serta mempertahankan institusinya saja agar baik dan benar sungguh sebuah masalah yang tidak gampang.
            Amerika Serikat saja sebagai Negara yang dikenal sebagai moyangnya demokrasi tempat hidupnya para pakar politik orang-orang pinter dan cerdas sudah ratusan tahun hanya mengenal dua partai (partai demokrat dan partai republik). Di Indonesia sungguh aneh dan ajaib untuk partai yang beraliran nasionalis saja ada banyak partai. Untuk partai yang berbasis ideologi agama yang sama terpecah menjadi beberapa partai, koq bisa ya, ini ada apa? Mungkin ini dosa orang tua kita dulu, guru-guru kita dulu, para tokoh-tokoh agama kita dulu, para tokoh-tokoh masyarakat kita dulu yang selalu mengajarkan kepada kita bagaimana nantinya di masa depan kita menjadi orang hebat, pinter, kaya dan yang paling penting senantiasa menjadi pemimpin di mana pun dan dalam hal apa pun. Maka apa yang terjadi sekarang semuanya mau jadi pemimpin dan celakanya apa pun caranya akan dilakukan yang penting jadi pemimpin.
            Hal yang paling penting dan mendesak dibutuhkan bangsa dan Negara ini bukanlah partai-partai baru, bukan tokoh-tokoh politik baru, orang-orang yang hanya akan memanfaatkan masyarakat untuk kepentingan dan ambisi politik kekuasaan. Yang dibutuhkan sekarang oleh bangsa dan Negara ini adalah orang-orang jujur dalam berbagai kesempatan, orang-orang yang mau bekerja untuk kepentingan bangsa dan Negara ini tanpa tipu-tipu. Orang-orang yang tidak hanya jago mengklain diri dan kelompoknya lah yang terbaik dan juga orang-orang yang bisa menyadarkan segenap komponen bangsa dan Negara ini untuk tetap konsisten dan berpegang teguh pada persatuan dan kesatuan demi kepentingan bangsa dan Negara, lagi-lagi bukan tipu-tipu politik untuk kepentingan pragmatis personal dan kelompok.
            Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sudah sangat tua usinya sudah ratusan tahun jauh sebelum di proklamirkan sebagai Negara di tahun 1945. Demikian juga Indonesia sebagai Negara sudah berusia 71 tahun di usia yang dalam skala manusia sudah cukup tua akan tetapi kalau kita tanya kepada diri kita apa yang sekarang kita bisa bangggakan sebagai anak-anak bangsa. Apakah masih wajar dalam usia seperti itu masalah-masalah dasar dalam bernegara (partai politik, rasa persatuan dan kesatuan, kesadaran berbangsa dan bernegara, Undang Undang Dasar, kesehatan, kemiskinan, pengangguran, kejahatan, korupsi dan yang lainnya) belum juga selesai-selesai sampai sekarang agar kita bisa meningkat ke ranah kualitas.
            Sejatinya orang-orang yang sudah lepasan perguruan tinggi, orang-orang yang menjadi tokoh-tokoh politik, anggota legislatif, jajaran eksekutif pusat hingga daerah, jajaran penegak hukum (polisi, jaksa, advokat dan hakim) adalah orang-orang terpelajar yang tidak perlu lagi kita ragukan kejujurannya, keberaniannya, profesionalismenya, tanggung-jawabnya, spitualitas dan relgiositasnya) akan tetapi realitasnya bagaimana? Semua institusi-institusi tersebut dari pusat hingga daerah, pada jajaran puncak hingga bawahan masih dilingkupi oleh orang-orang yang gak benar yang mulut dan kata-katanya luar biasa ketika bersumpah sebagi pejabat, ketika bicara dihadapan publik akan tetapi implementasinya apa yang terjadi silih berganti mereka di tangkap aparat penegak hukum (mereka masih terlibat korupsi, perselingkuhan, narkoba, tipu sana tipu sini dan yang lainnya). Sampai kapan semuanya akan menjadi baik sehingga akan terbangun Negara yang baldatun tayyibun warabbun gaffur, semuanya tentu terpulang kepada kita semua. Amin#

Jumat, 13 Mei 2016

EFEKTIVITAS HUKUMAN KEBIRI



Oleh: Ahkam Jayadi

            Pemerkosaan dan pembunuhan adalah kejahatan yang dari dulu sebelum bangsa Indonesia menjadi satu Negara yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia telah banyak terjadi. Namun entah kenapa memasuki bulan Mei 2016 ini menjadi heboh. Apakah kehebohan itu benar-benar karena penyakit masyarakat itu semakin meresahkan ataukah sekedar isu politik untuk mengalihkan perhatian. Bisa juga terjadi, mungkin karena pelakunya lebih dari satu orang bahkan puluhan dan korbannya adalah anak dibawah umur. Dari sekian banyak bentuk kejahatan yang marak terjadi di tengah masyarakat, mengapa pemerintah hanya  mengkategorikan tindak pidana sexual tersebut sebagai kejahatan luar biasa, tak pelak lagi presiden bersama menteri-menterinya melakukan rapat khusus dan terbatas untuk membicarakan hal tersebut. Bahkan akan diterbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang (PERPU).
            Entah bagaimana sebenarnya cara berfikir pemerintah dalam menempatkan kejahatan sexual sebagai kejahatan luar biasa sehingga akan diterbitkan Perpu. Kejahatan sexual hanyalah sebagian kecil kejahatan yang banyak terjadi di seluruh bagian wilayah negeri ini dan sayangnya hal ini belum mampu diantisipasi oleh pemerintah dengan aparat keamanannya. Keamanan dan ketertiban masih menjadi momok yang menakutkan masyarakat. Kejahatan perampokan, pencurian, pembunuhan, penyalahgunaan minuman keras dan narkoba demikian juga korupsi masih terjadi dimana-mana. Pelakunya banyak berkeliaran ditengah-tengah masyarakat sehingga keamanan dan ketertiban masyarakat senantiasa terganggu hingga kini sehingga iteraksi social menjadi terganggu dan masih menakutkan.
            Dengan masih maraknya berbagai kejahatan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat sebenarnya menjadi bukti akan kegagalan hukum untuk membuat seorang pelaku kejahatan menjadi sadar dan dengan demikian menjadi jera untuk kembali melakukan kejahatan. Demikian juga sebenarnya dengan hukuman tersebut diharapkan menyadarkan orang-orang lain menjadi takut untuk melakukan kejahatan tersebut. Dengan demikian kita patut pertanyakan, apakah hukuman berat dan hukuman kebiri terhadap pelaku kejahatan sexual terhadap anak dapat menyelesaikan masalah tersebut. Jawaban singkatnya tentu saja tidak oleh karena hukum tidak mampu dan tidak dapat menembus kepada aspek terdalam dari diri manusia yang menjadi penyebab seseorang menjadi jahat.
            Hukum perundang-undangan telah gagal akan tetapi kita masih juga bersandar padanya untuk meperbaiki manusia atau mengurangi kejahatan sehingga kalau pun terjadi maka hukum akan bertindak untuk menhukum pelakunya (pelaku kejahatan). Hukum perundang-undangan adalah produk akal melalui hasil perdebatan di lembaga yang memproduksi peraturan perundang-undangan yang kita sebut dengan lembaga legislatif (DPR dab DPRD) di satu sisi akan tetapi di sisi lain akal itu pulah yang akan menginjak-injak peraturan perundang-undangat tersebut dengan melakukan berbagai kejahtan seperti kejahatan sexual terhadap anak di bawah umur. Bagaimana kita mendudukkan, memahami dan menjelaskan konstruksi tersebut di atas, tentu saja kalau kita tidak memahami esensi diri manusia sebagaimana dikemukakan di atas, maka kita akan membuat solusi yang hanya akan menyentuh lapisan permukaan masalah sehingga masalah tentu saja menjadi tidak dapat terselesaikan sebagaimana mestinya. Demikian halnya dengan hukuman berat dan hukuman kebiri kepada pelaku kejahatan sexual terhadap anak-anak di baw awah umur.
            Sudah saatnya kita mesti sadar bahwa solusi terbaik dan utama untuk menyelesaikan segala persoalan hidup yang terjadi di tengah masyarakat adalah agama. Nilai-nilai agama lah yang harus dufungsikan sebagaimana mestinya. Institusi agama tidak lagi pada tempatnya untuk difungsikan hanya dalam soal-soal ibadah ritual semata. Nilai-nilai agama haruslah masuk pada semua aspek kehidupan kita baik sebagai personal apalagi sebagai sebuah komunitas masyarakat atau bangsa. Hanya saja yang harus menjadi perhatian bahwa jika agama ingin ditempatkan sebagai pandangan hidup dan sumber nilai untuk menyelesaikan segala persoalan hidup dan kehidupan tentu saja agama itu terlebih dahulu harus dipahami dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya, oleh karena selama ini kita masih banyak keliru didalam memahami agama sebagai sebuah ajaran dan institusi kehidupan. Demikian semoga dapat dijadikan bahan pertimbngan untuk kita menemukan kebenaran sesungguhnya, amin. (Mks, 14 Mei 2016).#
             

AYAH YANG MEMBUNUH ANAKNYA



Oleh: Ahkam Jayadi

            Jagad dunia hukum Indonesia beberapa hari terakhir ini dihebohkan dengan terjadi beberapa kali peristiwa pembunuhan yang cukup sadis yaitu pembunahan yang dilakukan oleh seorang ayah kepada anaknya yang masih balita sebagaimana terjadi di Kota Makassar. Demikian juga pemerkosaan dan disertai pembunuhan terhadap anak perempuan di bawah umur (Usia 14 tahun) dan pelakunya sebanyak 14 orang 7 diantaranya adalah anak remaja tanggung. Dan yang lebih sadis lagi pemerkosaan dan pembunuhan terhadap anak usia 2,5 tahun yang kemudian dibunuh. Gejala apa semua ini dan ada apa dengan bangsa ini, bukankah ceramah-ceramah agama semakin marak di mana-mana dan diberbagai tempat dan media akan tetapi toch kelakuan anak-anak bangsa ini semakin bejat dan sadis. Ada apa dengan bangsa ini?
Esensi yang menjadi penyebab mengapa manusia menjadi jahat selama ini kita tidak pahami. Pada rana inilah sebenarnya yang selama ini banyak tidak dipahami bahwa ketika kita berbicara tentang sosok manusia maka pada hakikatnya manusia tidak akan pernah bisa berprilaku baik dan menjadi baik. Sejak lahir manusia telah membawa esensi diri yang disebur dengan: hawa, nafsu, dunia dan setan. Rana inilah yang mendorong manusia senantiasa melakukan tindak kejahatan dengan tidak memperdulikan materi peraturan perundang-undangan yang ada bahkan tata nilai adat istiadat bahkan aturan agama sekalipun, oleh karena manusia tidak lagi memahami hakekat dirinya.
            Esensi kejadian manusia dapat di bagi atas: rana fisik (jasmaniah) dan rana roh. Rana jasmaniah asal-usulnya sama dari 4 anasir (rahasiaku kata Tuhan) yaitu: anasir angin, air, tanah dan api yang terwujud dalam sari pati tanah dari hasil memakan produk-produk pertanian dan hewan yang memakannya yang kemudian dimakan oleh manusia dan yang mewujud dalam sperma dan sel telur orang tua yang melahirkan. Anasir angin yang memenuhi segala rongga pada jasad membawa sifat-sifat pantang kelintasan. Tidak bisa sembarang mendengar. Jalurnya adalah lewat telingan. Anasir air menjadi urat, benak, tulang pada jasmani dengan membawa sifat-sifat pantang kerendahan. Dengan demikian sifat asli jasmani manusia tidak akan pernah mau dibawa selalu mau di atas. Anasir tanah menjadi daging kulit bulu atau roma pada kita membawa sifat-sifat pantang kurang, tidak ada puasnya. Dan anasir api menjadi darah pada kita membawa sifat-sifat pantang kalah. Manusia dengan sifat ini tidak pernah mau kalah meskipun nyata-nyata dia salah.         Sifat-sifat jasamaniah ini sengaja Tuhan berikan agar manusia memiliki semangat hidup, akan tetapi harus dikendalikan.
Untuk mengendilkannya maka datanglah sifat-sifat ke Tuhanan (di dalam Roh) dengan sifatnya yang siddiq, amanah, tabliq fatanah. Inilah sebenarnya sifat-sifat yang harus menguasai hajat hidup kita sehari-hari akan tetapi sayangnya sifat-sifat tersebut  terkubur karena dikalahkan oleh sifat-sifat jasmaniah tadi. Pada tataran inilah kita perlu memahami sisi dan proses kejadian manusia (secara universal), karena semua manusia di jagad ini apa pun suku dan bangsanya satu asal kejadiannya, kita jualah yang sering membeda-bedakannya. Semua manusia sama unsur kejadiaannya yang salah satu unsur kejadian tersebut adalah ketika berusia 4 bulan 10 hari di dalam kandungan ibunya, maka ditiupkanlah roh yang lagi-lagi asalnya adalah satu Tuhan yang sama. Inilah sebenarnya wujud nyata semua manusia itu bersaudara.
             Selama manusia (penegak hukum) belum memahami hakekat dirinya dari sudut pandang agama (religi) maka selama itu pula kekeliruan dan penghancuran terhadap hidup dan kehidupan ini akan selalu terjadi. Hukum (Ronny RN, 2007) bahkan akan menjadi alat kejahatan (law as tool of crime) Bahkan umat beragama sekalipun dapat menjadi agressif, repressif dan anarkhis. Apatah lagi bila manusia yang ada di permukaan bumi ini masih membanggakan kemampuan sains dan teknologi untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan manusia.
            Pendekatan agama (aspek religius) sebagai sumber nilai kehidupan yang akan menyelesaikan berbagai persoalan hidup dan kehidupan yang melanda umat manusia di berbagai belahan bumi tentu saja bukan dengan pemaknaan yang umum sebagaimana selama ini kita pahami. Nilai-nilai agama yang dimaksud tentu saja nilai-nilai agama yang dipahami secara benar sebagaimana telah diajarkan oleh Muhammad Rasulullah SAW. Oleh karena 15 abad setelah kita ditinggal oleh Rasulullah SAW hakekat agama mulai bergeser dengan berbagai tafsiran sesuai dengan keinginan para pihak yang menafsirkannya. Akibatnya kita belajar agama dari keterangan ke keterangan sehingga makna dan hakekat agama menjadi hilang.
            Kita sangat keliru ketika masalah seperti ini (kejahatan dan berbagai masalah kemasyarakatan yang ada) dipahami dapat diselesaikan melalui penyadaran diri dalam bentuk: introspeksi, refleksi, kontemplasi, yoga, meditasi, iktikaf, tafakur, atau zikir. Apa yang bisa diselesaikan pendekatan seperti ini apabila diri yang sebenarnya diri pada kita tidak dipahami. Tuhan yang disembah-Nya tidak dikenal dan yang lebih fatal ketika Tuhan di klaim ada di dalam dadanya. Tuhan di pahami ada di urat lehernya. Kenapa diri yang sebenarnya diri (roh) itu yang esensi dalam diri kita? Karena jasad tak bisa apa-apa jika tidak ada roh. Karena yang beragama, berjalan, berpikir, berbuat, mendengar, merasa, dan yang berbicara melalui pancaindera adalah roh dengan nur-Nya. Pancaindera inilah yang disebut budi. Budi tidak dapat lepas dari kontrol batin yang disebut juga dengan akhlak (moral force) dengan empat sifatnya: siddiq, amanah, tablig, dan fathanah.
            Dalam keseharian keberagamaan masyarakat, hawa nafsu dunia inilah yang memerintah roh kita. Roh menjadi budaknya, padahal yang harus terjadi adalah sebaliknya, roh lah yang harus menjadi panglima. Hawa nafsu ini pulahlah yang melahirkan 10 maksiat bathin yaitu: ajib, riya, takabbur, iri, dengki, hasut, fitnah, tamak, lobak dan sombong. Pembunuhan, perampokan, korupsi, membunuh, zinah, pencurian, pornografi dan pornoaksi, terorisme hanyalah implementasi dari 10 maksiat bathin itu dalam bentuk prilaku, tidak perduli ayah terhadap anaknya, anak terhadap orang tuanya satu sama lain bisa saling membunuh. Demikian semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menemukan kebenaran sesungguhnya.#