Jumat, 13 Mei 2016

AYAH YANG MEMBUNUH ANAKNYA



Oleh: Ahkam Jayadi

            Jagad dunia hukum Indonesia beberapa hari terakhir ini dihebohkan dengan terjadi beberapa kali peristiwa pembunuhan yang cukup sadis yaitu pembunahan yang dilakukan oleh seorang ayah kepada anaknya yang masih balita sebagaimana terjadi di Kota Makassar. Demikian juga pemerkosaan dan disertai pembunuhan terhadap anak perempuan di bawah umur (Usia 14 tahun) dan pelakunya sebanyak 14 orang 7 diantaranya adalah anak remaja tanggung. Dan yang lebih sadis lagi pemerkosaan dan pembunuhan terhadap anak usia 2,5 tahun yang kemudian dibunuh. Gejala apa semua ini dan ada apa dengan bangsa ini, bukankah ceramah-ceramah agama semakin marak di mana-mana dan diberbagai tempat dan media akan tetapi toch kelakuan anak-anak bangsa ini semakin bejat dan sadis. Ada apa dengan bangsa ini?
Esensi yang menjadi penyebab mengapa manusia menjadi jahat selama ini kita tidak pahami. Pada rana inilah sebenarnya yang selama ini banyak tidak dipahami bahwa ketika kita berbicara tentang sosok manusia maka pada hakikatnya manusia tidak akan pernah bisa berprilaku baik dan menjadi baik. Sejak lahir manusia telah membawa esensi diri yang disebur dengan: hawa, nafsu, dunia dan setan. Rana inilah yang mendorong manusia senantiasa melakukan tindak kejahatan dengan tidak memperdulikan materi peraturan perundang-undangan yang ada bahkan tata nilai adat istiadat bahkan aturan agama sekalipun, oleh karena manusia tidak lagi memahami hakekat dirinya.
            Esensi kejadian manusia dapat di bagi atas: rana fisik (jasmaniah) dan rana roh. Rana jasmaniah asal-usulnya sama dari 4 anasir (rahasiaku kata Tuhan) yaitu: anasir angin, air, tanah dan api yang terwujud dalam sari pati tanah dari hasil memakan produk-produk pertanian dan hewan yang memakannya yang kemudian dimakan oleh manusia dan yang mewujud dalam sperma dan sel telur orang tua yang melahirkan. Anasir angin yang memenuhi segala rongga pada jasad membawa sifat-sifat pantang kelintasan. Tidak bisa sembarang mendengar. Jalurnya adalah lewat telingan. Anasir air menjadi urat, benak, tulang pada jasmani dengan membawa sifat-sifat pantang kerendahan. Dengan demikian sifat asli jasmani manusia tidak akan pernah mau dibawa selalu mau di atas. Anasir tanah menjadi daging kulit bulu atau roma pada kita membawa sifat-sifat pantang kurang, tidak ada puasnya. Dan anasir api menjadi darah pada kita membawa sifat-sifat pantang kalah. Manusia dengan sifat ini tidak pernah mau kalah meskipun nyata-nyata dia salah.         Sifat-sifat jasamaniah ini sengaja Tuhan berikan agar manusia memiliki semangat hidup, akan tetapi harus dikendalikan.
Untuk mengendilkannya maka datanglah sifat-sifat ke Tuhanan (di dalam Roh) dengan sifatnya yang siddiq, amanah, tabliq fatanah. Inilah sebenarnya sifat-sifat yang harus menguasai hajat hidup kita sehari-hari akan tetapi sayangnya sifat-sifat tersebut  terkubur karena dikalahkan oleh sifat-sifat jasmaniah tadi. Pada tataran inilah kita perlu memahami sisi dan proses kejadian manusia (secara universal), karena semua manusia di jagad ini apa pun suku dan bangsanya satu asal kejadiannya, kita jualah yang sering membeda-bedakannya. Semua manusia sama unsur kejadiaannya yang salah satu unsur kejadian tersebut adalah ketika berusia 4 bulan 10 hari di dalam kandungan ibunya, maka ditiupkanlah roh yang lagi-lagi asalnya adalah satu Tuhan yang sama. Inilah sebenarnya wujud nyata semua manusia itu bersaudara.
             Selama manusia (penegak hukum) belum memahami hakekat dirinya dari sudut pandang agama (religi) maka selama itu pula kekeliruan dan penghancuran terhadap hidup dan kehidupan ini akan selalu terjadi. Hukum (Ronny RN, 2007) bahkan akan menjadi alat kejahatan (law as tool of crime) Bahkan umat beragama sekalipun dapat menjadi agressif, repressif dan anarkhis. Apatah lagi bila manusia yang ada di permukaan bumi ini masih membanggakan kemampuan sains dan teknologi untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan manusia.
            Pendekatan agama (aspek religius) sebagai sumber nilai kehidupan yang akan menyelesaikan berbagai persoalan hidup dan kehidupan yang melanda umat manusia di berbagai belahan bumi tentu saja bukan dengan pemaknaan yang umum sebagaimana selama ini kita pahami. Nilai-nilai agama yang dimaksud tentu saja nilai-nilai agama yang dipahami secara benar sebagaimana telah diajarkan oleh Muhammad Rasulullah SAW. Oleh karena 15 abad setelah kita ditinggal oleh Rasulullah SAW hakekat agama mulai bergeser dengan berbagai tafsiran sesuai dengan keinginan para pihak yang menafsirkannya. Akibatnya kita belajar agama dari keterangan ke keterangan sehingga makna dan hakekat agama menjadi hilang.
            Kita sangat keliru ketika masalah seperti ini (kejahatan dan berbagai masalah kemasyarakatan yang ada) dipahami dapat diselesaikan melalui penyadaran diri dalam bentuk: introspeksi, refleksi, kontemplasi, yoga, meditasi, iktikaf, tafakur, atau zikir. Apa yang bisa diselesaikan pendekatan seperti ini apabila diri yang sebenarnya diri pada kita tidak dipahami. Tuhan yang disembah-Nya tidak dikenal dan yang lebih fatal ketika Tuhan di klaim ada di dalam dadanya. Tuhan di pahami ada di urat lehernya. Kenapa diri yang sebenarnya diri (roh) itu yang esensi dalam diri kita? Karena jasad tak bisa apa-apa jika tidak ada roh. Karena yang beragama, berjalan, berpikir, berbuat, mendengar, merasa, dan yang berbicara melalui pancaindera adalah roh dengan nur-Nya. Pancaindera inilah yang disebut budi. Budi tidak dapat lepas dari kontrol batin yang disebut juga dengan akhlak (moral force) dengan empat sifatnya: siddiq, amanah, tablig, dan fathanah.
            Dalam keseharian keberagamaan masyarakat, hawa nafsu dunia inilah yang memerintah roh kita. Roh menjadi budaknya, padahal yang harus terjadi adalah sebaliknya, roh lah yang harus menjadi panglima. Hawa nafsu ini pulahlah yang melahirkan 10 maksiat bathin yaitu: ajib, riya, takabbur, iri, dengki, hasut, fitnah, tamak, lobak dan sombong. Pembunuhan, perampokan, korupsi, membunuh, zinah, pencurian, pornografi dan pornoaksi, terorisme hanyalah implementasi dari 10 maksiat bathin itu dalam bentuk prilaku, tidak perduli ayah terhadap anaknya, anak terhadap orang tuanya satu sama lain bisa saling membunuh. Demikian semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menemukan kebenaran sesungguhnya.#