Jumat, 13 Mei 2016

EFEKTIVITAS HUKUMAN KEBIRI



Oleh: Ahkam Jayadi

            Pemerkosaan dan pembunuhan adalah kejahatan yang dari dulu sebelum bangsa Indonesia menjadi satu Negara yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia telah banyak terjadi. Namun entah kenapa memasuki bulan Mei 2016 ini menjadi heboh. Apakah kehebohan itu benar-benar karena penyakit masyarakat itu semakin meresahkan ataukah sekedar isu politik untuk mengalihkan perhatian. Bisa juga terjadi, mungkin karena pelakunya lebih dari satu orang bahkan puluhan dan korbannya adalah anak dibawah umur. Dari sekian banyak bentuk kejahatan yang marak terjadi di tengah masyarakat, mengapa pemerintah hanya  mengkategorikan tindak pidana sexual tersebut sebagai kejahatan luar biasa, tak pelak lagi presiden bersama menteri-menterinya melakukan rapat khusus dan terbatas untuk membicarakan hal tersebut. Bahkan akan diterbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang (PERPU).
            Entah bagaimana sebenarnya cara berfikir pemerintah dalam menempatkan kejahatan sexual sebagai kejahatan luar biasa sehingga akan diterbitkan Perpu. Kejahatan sexual hanyalah sebagian kecil kejahatan yang banyak terjadi di seluruh bagian wilayah negeri ini dan sayangnya hal ini belum mampu diantisipasi oleh pemerintah dengan aparat keamanannya. Keamanan dan ketertiban masih menjadi momok yang menakutkan masyarakat. Kejahatan perampokan, pencurian, pembunuhan, penyalahgunaan minuman keras dan narkoba demikian juga korupsi masih terjadi dimana-mana. Pelakunya banyak berkeliaran ditengah-tengah masyarakat sehingga keamanan dan ketertiban masyarakat senantiasa terganggu hingga kini sehingga iteraksi social menjadi terganggu dan masih menakutkan.
            Dengan masih maraknya berbagai kejahatan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat sebenarnya menjadi bukti akan kegagalan hukum untuk membuat seorang pelaku kejahatan menjadi sadar dan dengan demikian menjadi jera untuk kembali melakukan kejahatan. Demikian juga sebenarnya dengan hukuman tersebut diharapkan menyadarkan orang-orang lain menjadi takut untuk melakukan kejahatan tersebut. Dengan demikian kita patut pertanyakan, apakah hukuman berat dan hukuman kebiri terhadap pelaku kejahatan sexual terhadap anak dapat menyelesaikan masalah tersebut. Jawaban singkatnya tentu saja tidak oleh karena hukum tidak mampu dan tidak dapat menembus kepada aspek terdalam dari diri manusia yang menjadi penyebab seseorang menjadi jahat.
            Hukum perundang-undangan telah gagal akan tetapi kita masih juga bersandar padanya untuk meperbaiki manusia atau mengurangi kejahatan sehingga kalau pun terjadi maka hukum akan bertindak untuk menhukum pelakunya (pelaku kejahatan). Hukum perundang-undangan adalah produk akal melalui hasil perdebatan di lembaga yang memproduksi peraturan perundang-undangan yang kita sebut dengan lembaga legislatif (DPR dab DPRD) di satu sisi akan tetapi di sisi lain akal itu pulah yang akan menginjak-injak peraturan perundang-undangat tersebut dengan melakukan berbagai kejahtan seperti kejahatan sexual terhadap anak di bawah umur. Bagaimana kita mendudukkan, memahami dan menjelaskan konstruksi tersebut di atas, tentu saja kalau kita tidak memahami esensi diri manusia sebagaimana dikemukakan di atas, maka kita akan membuat solusi yang hanya akan menyentuh lapisan permukaan masalah sehingga masalah tentu saja menjadi tidak dapat terselesaikan sebagaimana mestinya. Demikian halnya dengan hukuman berat dan hukuman kebiri kepada pelaku kejahatan sexual terhadap anak-anak di baw awah umur.
            Sudah saatnya kita mesti sadar bahwa solusi terbaik dan utama untuk menyelesaikan segala persoalan hidup yang terjadi di tengah masyarakat adalah agama. Nilai-nilai agama lah yang harus dufungsikan sebagaimana mestinya. Institusi agama tidak lagi pada tempatnya untuk difungsikan hanya dalam soal-soal ibadah ritual semata. Nilai-nilai agama haruslah masuk pada semua aspek kehidupan kita baik sebagai personal apalagi sebagai sebuah komunitas masyarakat atau bangsa. Hanya saja yang harus menjadi perhatian bahwa jika agama ingin ditempatkan sebagai pandangan hidup dan sumber nilai untuk menyelesaikan segala persoalan hidup dan kehidupan tentu saja agama itu terlebih dahulu harus dipahami dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya, oleh karena selama ini kita masih banyak keliru didalam memahami agama sebagai sebuah ajaran dan institusi kehidupan. Demikian semoga dapat dijadikan bahan pertimbngan untuk kita menemukan kebenaran sesungguhnya, amin. (Mks, 14 Mei 2016).#