Jumat, 13 Mei 2016

KEJAHATAN SEXUAL PADA ANAK




Oleh: Ahkam Jayadi

            Bangsa Indonesia beberapa hari belakangan ini semua tentu mencaci dan menyumpahi pelaku pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang anak perempuan berusia 14 tahun di Bengkulu oleh 14 orang pemuda tanggung. Di Bogor seorang pria (26 tahun) memperkosa dan membunuh anak perempuan usia 2 tahun 6 bulan. Anak perempuan usia 10 tahun di Lampung diperkosa dan dibunuh. Andika lelaki 32 tahun memperkosa keponakannya yang usai 12 tahun hingga kini hamil 6 bulan. Binatang, bejat, sadis, setan, anjing, iblis dan berbagai istilah lainnya rasanya semuanya pantas dan cocok untuk kita gelarkan kepada para pelaku tersebut. Kita bisa bayangkan bagaimana jika anak-anak gadis tersebut adalah anak kita. Apa yang akan kita rasakan dan apa pula yang akan kita lakukan kepada para pelakunya. Ada apa dengan bangsa ini? Padahal bangsa ini adalah bangsa yang religius, kemana pengaruh nilai-nilai agama itu yang dijanjikan akan membuat anak-anak bangsa ini menjadi manusia-manusia yang baik atau bertaqwa.
Ketika kita berbicara tentang sosok manusia maka pada hakikatnya manusia tidak akan pernah bisa berprilaku baik dan menjadi baik. Sejak lahir manusia telah membawa sifat-sifat: hawa, nafsu, setan, rakus, ingkar dan yang lainnya. Entitas diri inilah yang mendorong manusia senantiasa melakukan tindak kejahatan dengan tidak memperdulikan materi peraturan perundang-undangan yang ada bahkan tata nilai adat istiadat bahkan aturan agama sekalipun. Itulah sebabnya Nabi Muhammad, SAW telah mengingatkan sepulang dari peran Badr yang begitu dahsyat, bahwa kita baru pulang dari perang kecil dan akan menuju perang besar yaitu melawan hawa nafsu.
            Pada tataran inilah kita perlu memahami proses kejadian manusia, karena semua manusia di jagad ini apa pun suku dan bangsanya satu asal kejadiannya, kita jualah yang sering membeda-bedakannya. Semua manusia sama unsur kejadiaannya yang salah satu unsur kejadian tersebut adalah ketika berusia 4 bulan 10 hari di dalam kandungan ibunya, maka ditiupkanlah roh yang lagi-lagi asalnya adalah satu Tuhan yang sama. Pada ranah inilah sosok kejadian manusia dapat di bagi atas: ranah fisik (jasmaniah) dan ranah bathin. Ranah jasmaniah juga asal-usulnya sama dari 4 anasir (rahasiaku kata Tuhan) yaitu: anasir angin, air, tanah dan api. Anasir tersebut yang memmbawa sifat-sifat; pantang kelintasan, pantang kerendahan, pantang kurang dan sifat-sifat pantang kalah.
            Sifat-sifat jasamaniah ini sengaja Tuhan berikan agar manusia memiliki semangat hidup, akan tetapi harus dikendalikan. Untuk mengendilkannya maka datanglah sifat-sifat ke Tuhanan (di dalam Roh) dengan sifatnya yang siddiq, amanah, tabliq fatanah. Inilah sebenarnya sifat-sifat yang harus menguasai hajat hidup kita sehari-hari akan tetapi sayangnya sifat-sifat tersebut  terkubur karena dikalahkan oleh sifat-sifat jasmaniah tadi. Selama manusia (penegak hukum) belum memahami hakekat dirinya dari sudut pandang agama (religi) maka selama itu pula kekeliruan dan penghancuran terhadap hidup dan kehidupan ini akan selalu terjadi.
            Pendekatan agama (aspek religius) sebagai sumber nilai-nilai kehidupan yang akan menyelesaikan berbagai persoalan hidup dan kehidupan yang melanda ummat manusia di berbagai belahan bumi tentu saja bukan dengan pemaknaan yang umum sebagaimana selama ini kita pahami. Nilai-nilai agama yang dimaksud tentu saja nilai-nilai agama yang dipahami secara benar sebagaimana telah diajarkan oleh Muhammad Rasulullah SAW, oleh karena 15 abad setelah kita ditinggal oleh Rasulullah SAW hakekat agama mulai bergeser dengan berbagai tafsiran sesuai dengan keinginan para pihak yang menafsirkannya. Akibatnya kita belajar agama dari keterangan ke keterangan sehingga makna dan hakekat agama menjadi hilang.
            Kita sangat keliru ketika masalah kejahatan dan berbagai masalah kemasyarakatan yang ada, dipahami dapat diselesaikan melalui penyadaran diri dalam bentuk: introspeksi, refleksi, kontemplasi, yoga, meditasi, iktikaf, tafakur, atau zikir. Apa yang bisa diselesaikan pendekatan seperti ini apabila diri yang sebenarnya diri pada kita tidak dipahami. Tuhan yang disembah-Nya tidak dikenal dan yang lebih fatal ketika Tuhan di klaim ada di dalam dadanya. Tuhan di pahami ada di urat lehernya. Kenapa diri yang sebenarnya diri (roh) itu yang esensi dalam diri kita? Karena jasad tak bisa apa-apa jika tidak ada roh. Karena yang beragama, berjalan, berpikir, berbuat, mendengar, merasa, dan yang berbicara melalui pancaindera adalah roh dengan nur-Nya. Pancaindera inilah yang disebut budi yang melahirkan adat istiadat, sehingga setiap wilayah memiliki adat istiadat yang berbeda. Budi tidak dapat lepas dari kontrol batin yang disebut juga dengan akhlak (moral force) dengan empat sifatnya: siddiq, amanah, tablig, dan fathanah.
            Dalam keseharian keberagamaan masyarakat, hawa, nafsu, dunia, setan inilah yang memerintah roh kita. Roh menjadi budaknya, padahal yang harus terjadi adalah sebaliknya, roh lah yang harus menjadi panglima. Ini pulahlah yang melahirkan 10 maksiat bathin yaitu: ajib, riya, takabbur, iri, dengki, hasut, fitnah, tamak, lobak dan sombong. Korupsi, membunuh, zinah, pencurian, pornografi dan pornoaksi, terorisme hanyalah implementasi dari 10 maksiat bathin itu dalam bentuk prilaku.         Untuk itu selama hal-hal ini tidak dipahami dengan baik maka selama itu pula fungsi agama untuk menjadi rahmat bagi diri kita, masyarakat, lingkungan, bangsa dan negara tidak akan pernah dapat terwujud. Manusia akan senantiasa berbuat jahat (tindak pidana) melebihi jahatnya binatang dan di akhir zaman ini semua itu tidak akan berkurang akan tetapi semakin bertambah kejahatan itu. Kejahatan sexual terhadap anak di bawah umur dan pelakunya yang juga di bawah umur hanyalah sebagian kecil dari kebejatan perilaku manusia yang akan muncul di akhir zaman ini. Demikian semoga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menemukan kebenaran sesungguhnya. Amin (Makassar, 13 Mei 2016)#