Sabtu, 28 Mei 2016

PARTAI BARU MUNCUL LAGI



Oleh: ahkam jayadi

            Enam partai baru akan mencari keberuntungan di masyarakat dan di Kementerian Hukum dan HAM melalui verifikasi untuk dapat ikut dalam pemilihan umum tahun 2018 yang akan datang. Bila kita bandingkan dengan Negara-negara lain maka pada sisi kepartain politik Indonesia mungkin bisa disebut lebih maju dari Negara-negara lain bahkan terhadap Negara-negara yang sering disebut sebagai neneknya paham demokrasi, kenapa? Selain adanya di Indonesia, maka kita tidak akan jumpai lagi di negara-negara setiap saat muncul partai-partai baru.
            Dari sisi partai politik lah salah satu alasan kenapa penulis sering kali nyatakan bahwa, “Indonesia” adalah Negara yang tidak pernah selesai oleh karena masih senantiasa uji coba terhadap banyak hal. Negara yang hingga kini masih senantiasa uji coba dan entah sampai kapan akan berakhir. Sampai kapan hal-hal dasar dan mendasar dalam kehidupan bernegara kita selesai dan bukan lagi masalah yang senantiasa muncul setiap saat dan salah satunya adalah partai politik. Sampai kapan partai politik baru akan dibiarkan lahir terus menerus. Ketika seseorang gagal jadi pimpinan partai yang sudah ada maka kemudian bentuk partai baru agar bisa menjadi pimpinan. Ketika kepentingan politiknya tidak diwujudkan oleh sebuah partai maka kemudian dia bentuk partai baru. Bagaimana mungkin kita bisa berharap pada sebuah partai untuk mengurus bangsa dan Negara ini kalau masih baru dan untuk mewujudkan serta mempertahankan institusinya saja agar baik dan benar sungguh sebuah masalah yang tidak gampang.
            Amerika Serikat saja sebagai Negara yang dikenal sebagai moyangnya demokrasi tempat hidupnya para pakar politik orang-orang pinter dan cerdas sudah ratusan tahun hanya mengenal dua partai (partai demokrat dan partai republik). Di Indonesia sungguh aneh dan ajaib untuk partai yang beraliran nasionalis saja ada banyak partai. Untuk partai yang berbasis ideologi agama yang sama terpecah menjadi beberapa partai, koq bisa ya, ini ada apa? Mungkin ini dosa orang tua kita dulu, guru-guru kita dulu, para tokoh-tokoh agama kita dulu, para tokoh-tokoh masyarakat kita dulu yang selalu mengajarkan kepada kita bagaimana nantinya di masa depan kita menjadi orang hebat, pinter, kaya dan yang paling penting senantiasa menjadi pemimpin di mana pun dan dalam hal apa pun. Maka apa yang terjadi sekarang semuanya mau jadi pemimpin dan celakanya apa pun caranya akan dilakukan yang penting jadi pemimpin.
            Hal yang paling penting dan mendesak dibutuhkan bangsa dan Negara ini bukanlah partai-partai baru, bukan tokoh-tokoh politik baru, orang-orang yang hanya akan memanfaatkan masyarakat untuk kepentingan dan ambisi politik kekuasaan. Yang dibutuhkan sekarang oleh bangsa dan Negara ini adalah orang-orang jujur dalam berbagai kesempatan, orang-orang yang mau bekerja untuk kepentingan bangsa dan Negara ini tanpa tipu-tipu. Orang-orang yang tidak hanya jago mengklain diri dan kelompoknya lah yang terbaik dan juga orang-orang yang bisa menyadarkan segenap komponen bangsa dan Negara ini untuk tetap konsisten dan berpegang teguh pada persatuan dan kesatuan demi kepentingan bangsa dan Negara, lagi-lagi bukan tipu-tipu politik untuk kepentingan pragmatis personal dan kelompok.
            Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sudah sangat tua usinya sudah ratusan tahun jauh sebelum di proklamirkan sebagai Negara di tahun 1945. Demikian juga Indonesia sebagai Negara sudah berusia 71 tahun di usia yang dalam skala manusia sudah cukup tua akan tetapi kalau kita tanya kepada diri kita apa yang sekarang kita bisa bangggakan sebagai anak-anak bangsa. Apakah masih wajar dalam usia seperti itu masalah-masalah dasar dalam bernegara (partai politik, rasa persatuan dan kesatuan, kesadaran berbangsa dan bernegara, Undang Undang Dasar, kesehatan, kemiskinan, pengangguran, kejahatan, korupsi dan yang lainnya) belum juga selesai-selesai sampai sekarang agar kita bisa meningkat ke ranah kualitas.
            Sejatinya orang-orang yang sudah lepasan perguruan tinggi, orang-orang yang menjadi tokoh-tokoh politik, anggota legislatif, jajaran eksekutif pusat hingga daerah, jajaran penegak hukum (polisi, jaksa, advokat dan hakim) adalah orang-orang terpelajar yang tidak perlu lagi kita ragukan kejujurannya, keberaniannya, profesionalismenya, tanggung-jawabnya, spitualitas dan relgiositasnya) akan tetapi realitasnya bagaimana? Semua institusi-institusi tersebut dari pusat hingga daerah, pada jajaran puncak hingga bawahan masih dilingkupi oleh orang-orang yang gak benar yang mulut dan kata-katanya luar biasa ketika bersumpah sebagi pejabat, ketika bicara dihadapan publik akan tetapi implementasinya apa yang terjadi silih berganti mereka di tangkap aparat penegak hukum (mereka masih terlibat korupsi, perselingkuhan, narkoba, tipu sana tipu sini dan yang lainnya). Sampai kapan semuanya akan menjadi baik sehingga akan terbangun Negara yang baldatun tayyibun warabbun gaffur, semuanya tentu terpulang kepada kita semua. Amin#