Jumat, 13 Mei 2016

SAUT SITUMORANG DAN KORUPSI



Oleh: Ahkam Jayadi

            Beberapa hari belakang ini jagat korupsi di Indonesia menjadi ramai bukan karena terjadi korupsi atau perampokan uang rakyat trilyunan rupiah oleh koruptor akan tetapi akibat pernyataan serampangan dari salah satu komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) si Saut Situmorang yang menyebut mahasiswa-mahasiswa Hipunan Mahasiswa Islam (HMI) pinter-pinter akan tetapi setelah menjabat menjadi sangat jahat. Hal ini yang kemudian ditengarai bahwa koruptor banyak dari alumni HMI. Tak pelak lagi anggota HMI beserta anggota KAHMI berdemo dimana-mana mengecam pernyataan tersebut.
Pernyataan yang dibuat si Saut Situmorang tersebut adalah refleksi kekacauan berfikir yang selama ini melanda anak-anak bangsa oleh karena frustasi tidak tau lagi bagaimana mengajari, mengurangi atau bahkan menhilangkan berbagai perilaku jahat (tindak pidana), terkhusus korupsi yang tiada henti bahkan semakin menjadi-jadi. Hukum dan berbagai institusi yang bertugas menegakkannya hingga kini juga tidak mampu mencegah atau membuat jerah para pelaku kejahatan. Ada apa gerangan dengan Bangsa Indonesia ini?
Sebenarnya inilah wujud nyata kekeliruan sistemik yang berkepanjangan terjadi di bangsa ini ketika nilai-nilai ajaran agama diberi batasan pemberlakuannya. Persoalan kehidupan manusia dan masyarakat yang seharusnya menjadi ranah atau keweangan agama diambil alih oleh sains dan teknologi. Agama kemudian hanya diberi ruang pada aspek ibadah-ibadah ritual semata. Padahal manusia adalah produk Tuhan untuk memperbaikinya maka Tuhan telah turunkan buku manual (buku petunjuk) berupa Kitab Suci (Alqur’an dan Sunnah). Mengapa kita berbalik menjadikan sains dan teknologi yang produk akal manusia untuk menjadi sumber ajaran atau sumber nilai untuk memperbaiki manusia dan masyarakat? Sungguh suatu kekeliruan yang amat sangat nyata salah dan kelirunya.
Pada ranah inilah sebenarnya yang selama ini banyak tidak dipahami bahwa ketika kita berbicara tentang sosok manusia maka pada hakikatnya manusia tidak akan pernah bisa berprilaku baik dan menjadi baik. Sejak lahir manusia telah membawa sifat-sifat kafir, ingkar, rakus, tamak, dendam, benci dan lainnya. Rana inilah yang mendorong manusia senantiasa melakukan tindak kejahatan dengan tidak memperdulikan materi peraturan perundang-undangan yang ada bahkan tata nilai adat istiadat bahkan aturan agama sekalipun.
            Pada tataran inilah kita perlu memahami sisi dan proses kejadian manusia (secara universal), karena semua manusia di jagad ini apa pun suku dan bangsanya satu asal kejadiannya, kita jualah yang sering membeda-bedakannya. Semua manusia sama unsur kejadiaannya yang salah satu unsur kejadian tersebut adalah ketika berusia 4 bulan 10 hari di dalam kandungan ibunya, maka ditiupkanlah roh yang lagi-lagi asalnya adalah satu Tuhan yang sama. Inilah sebenarnya wujud nyata semua manusia itu bersaudara.
            Pada ranah inilah sosok kejadian manusia dapat di bagi atas: rana fisik (jasmaniah) dan rana bathin. Rana jasmaniah juga asal-usulnya sama dari 4 anasir (rahasiaku kata Tuhan) yaitu: anasir angin, air, tanah dan api yang terwujud dalam sari pati tanah dari hasil memakan produk-produk pertanian dan hewan yang memakannya yang kemudian dimakan oleh manusia dan yang mewujud dalam sperma dan sel telur orang tua yang melahirkan. Anasir angin yang membawa sifat-sifat pantang kelintasan. Tidak bisa sembarang mendengar. Jalurnya adalah lewat telingan. Anasir air membawa sifat-sifat pantang kerendahan. Dengan demikian sifat asli jasmani manusia tidak akan pernah mau dibawa selalu mau di atas. Anasir tanah membawa sifat-sifat pantang kurang, tidak ada puasnya. Dan anasir api membawa sifat-sifat pantang kalah. Manusia dengan sifat ini tidak pernah mau kalah meskipun nyata-nyata dia salah.
            Sifat-sifat jasamaniah ini sengaja Tuhan berikan agar manusia memiliki semangat hidup, akan tetapi harus dikendalikan. Untuk mengendilkannya maka datanglah sifat-sifat ke Tuhanan (di dalam Roh) dengan sifatnya yang siddiq, amanah, tabliq fatanah. Inilah sebenarnya sifat-sifat yang harus menguasai hajat hidup kita sehari-hari akan tetapi sayangnya sifat-sifat tersebut  terkubur karena dikalahkan oleh sifat-sifat jasmaniah tadi. Selama manusia (penegak hukum) belum memahami hakekat dirinya dari sudut pandang agama (religi) maka selama itu pula kekeliruan dan penghancuran terhadap hidup dan kehidupan ini akan selalu terjadi. Hukum (Ronny RN, 2007) bahkan akan menjadi alat kejahatan (law as tool of crime). Bahkan melahirkan umat beragama yang bersikap agressif, repressif dan anarkhis. 
Setiap hari kita semua berpikir, sayangnya yang berpikir, yang melihat, yang mendengar dan yang merasa pada dirinya tidak pernah dipahami. Itulah diri yang sebenarnya diri dalam pandangan agama. Sumber asasinya adalah roh yang kemudian nur-Nya memancar di mata, ditelinga, di lidah dan di otak agar bisa berfikir. Dialah yang bila dipanggil yang kuasa maka fisik ini tidak bisa apa-apa lagi. Dialah yang membuat seorang polisi, jaksa dan hakim dapat menangani dan menyelesaikan sebuah masalah hukum. Dialah yang menyebabkan kita dapat memahami apa itu persamaan dan apa itu keadilan. Bagaimana mungkin seorang hakim (sehebat apa pun dianya) dapat memutus sebuah kasus (masalah hukum) di pengadilan bila sang hakim tersebut sudah tidak memiliki roh di dalam tubuhnya.
            Pendekatan agama (aspek religius) yang secara sempit oleh Ronald D. Dwarkis, Guru Besar Hukum pada Universitas New York dimaknai dengan “moral” (“Moral Principles is the Foundation of Law”)  sebagai sumber nilai-nilai kehidupan yang akan menyelesaikan berbagai persoalan hidup dan kehidupan yang melanda umat manusia di berbagai belahan bumi tentu saja bukan dengan pemaknaan yang umum sebagaimana selama ini kita pahami. Nilai-nilai agama yang dimaksud tentu saja nilai-nilai agama yang dipahami secara benar sebagaimana telah diajarkan oleh seluruh Nabi dan Rasul yang kemudian disusul dengan kehadiran Muhammad Rasulullah SAW. Oleh karena 15 abad setelah kita ditinggal oleh Rasulullah SAW hakekat agama mulai bergeser dengan berbagai tafsiran sesuai dengan keinginan para pihak yang menafsirkannya. Akibatnya kita belajar agama dari keterangan ke keterangan sehingga makna dan hakekat agama menjadi hilang.
            Kita sangat keliru ketika masalah seperti ini (kejahatan dan berbagai masalah kemasyarakatan yang ada) dipahami dapat diselesaikan melalui penyadaran diri dalam bentuk: introspeksi, refleksi, kontemplasi, yoga, meditasi, iktikaf, tafakur, atau zikir. Apa yang bisa diselesaikan pendekatan seperti ini apabila diri yang sebenarnya diri pada kita tidak dipahami, diri yang beragama. Tuhan yang disembah-Nya tidak dikenal dan yang lebih fatal ketika Tuhan di klaim ada di dalam dadanya. Tuhan di pahami ada di urat lehernya. Padahal sebagaimana dikemukakan di atas, ketika kita berusia 4 bulan 10 hari maka Tuhan mengatakan aku tiupkan Roh bukan Tuhan masuk ke dalam tubuh kita (Surat As Shajdah ayat 9).
            Kenapa diri yang sebenarnya diri (roh) itu yang esensi dalam diri kita? Karena jasad tak bisa apa-apa jika tidak ada roh. Karena yang beragama, berjalan, berpikir, berbuat, mendengar, merasa, dan yang berbicara melalui pancaindera adalah roh dengan nur-Nya. Pancaindera inilah yang disebut budi yang melahirkan adat istiadat, sehingga setiap wilayah memiliki adat istiadat yang berbeda. Budi tidak dapat lepas dari kontrol batin yang disebut juga dengan akhlak (moral force) dengan empat sifatnya: siddiq, amanah, tablig, dan fathanah. Sedangkan nyawa adalah perpaduan empat unsur yang membentuk jasad yaitu: angin, air, tanah, dan api yang melahirkan hawa nafsu.
            Dalam keseharian keberagamaan masyarakat, hawa nafsu dunia inilah yang memerintah roh kita. Roh menjadi budaknya, padahal yang harus terjadi adalah sebaliknya, roh lah yang harus menjadi panglima. Ini pulahlah yang melahirkan 10 maksiat bathin yaitu: ajib, riya, takabbur, iri, dengki, hasut, fitnah, tamak, lobak dan sombong. Korupsi yang dilakukan oleh manusia jahat dalam istilah si Saut Situmorang, membunuh, zinah, pencurian, pornografi dan pornoaksi, terorisme hanyalah implementasi dari 10 maksiat bathin itu dalam bentuk prilaku.             Untuk itu selama hal-hal ini tidak dipahami dengan baik maka selama itu pula fungsi agama untuk menjadi rahmat bagi diri kita, masyarakat, lingkungan, bangsa dan negara tidak akan pernah dapat terwujud. Pada ranah inilah sains dan teknologi tidak punya kewenangan kecuali hanya akan menambah keruhnya persoalan hukum di negara kita. Hal inilah yang menyebabkan kejahatan (korupsi) itu akan senantiasa terjadi dan tiada henti sampai kapan pun.  Demikian semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menemukan kebenaran sesungguhnya, amin.(Mks, 13 Mei 2016)#