Selasa, 28 Juni 2016

HARAPAN TERHADAP KAPOLRI BARU

Oleh: Ahkam Jayadi
            Selangkah lagi Komjen polisi Tito Karnavian akan menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yaitu melalui pelantikan. Presiden dan DPR telah bulat utuh menyetujuinya menjadi kapolri. Terlepas dari segala kehebatan sepak terjang beliau di institusi kepolisian baik mengenai kenaikan pangkatnya. Pelaksanaan tugas-tugas dan tanggung-jawabnya sebagai pejabat di jajaran kepolisian sebagaimana di ekspos berbagai media belakang ini, termasuk kehebatan beliau untuk melangkahi 4 (empat) angkatan seniornya yang menjadi tradisi selama di kepolisian. Pada kesempatan ini penulis hanya akan menitipkan beberapa catatan ke beliau bila nantinya menjadi orang nomor satu di jajaran kepolisian.
Penulis teringat ketika mendapat penghargaan Dari KAPOLRI sebagai penulis terbaik dalam Lomba Penulisan Artikel dalam rangka Hari Ulang tahun Bhayangkara Tingkat Nasional ke 56, Jakarta 1997. Pada tulisan tersebut penulis uraikan tentang masalah yang dihadapi oleh kepolisian yang sayangnya hingga sekarang masih mewujud dan belum ada perubahan yang signifikan. Masyarakat masih menyimpan rasa takut pada kepolisian padahal polisi adalah  pelindung masyarakat, akibatnya masyarakat masih segan dan takut berurusan dengan kepolisian. Dengan mengutip pendapat Mochtar Lubis sebagai wujud pembuktian pandangan di atas. Ketika kita keluar tengah malam gelap gulita ditambah hujan deras dengan memakai kendaraan dan meskipun perlengkapan kendaraan lengkap termasuk surat-suratnya. Dalam suasana ketakutan karena tengah malam, gelap dan hujan ketika tiba-tiba muncul polisi yang berpatroli malam seharusnya kata-kata yang keluar dari mulut kita adalah, “Alhamdulillah ada polisi aman sudah”. Fakta sebenarnya yang terjadi kebanyakan di antara kita kata-kata yang keluar adalah, “ya ampun ada lagi polisi”. Ini ada apa koq masih seperti ini penghargaan kita kepada para polisi. Ini usulan pertama saya (penulis) kepada Bapak Kapolri baru untuk mendapat perhatian sebagaimana mestinya.  
Usulan kedua untuk mendapat perhatian adalah aspek moral atau akhlak polisi sebagai penegak hukum. Polisi baik dalam statusnya sebagai penjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat maupun sebagai penegak hukum maka mereka adalah, “personal manusia” sama dengan kita masyarakat pada umumnya yang penuh dengan berbagai problematika. Salah satu problematika esensial manusia yang kita tidak pahami dengan baik adalah, “esensi diri manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan”.
Pendekatan yang  selama ini kita gunakan dalam memahami hakekat manusia adalah pendekatan ilmu pengetahuan dan filsafat. Bagaimana mungkin ilmu pengetahuan dan filsafat yang ciptaan manusia sebagai hasil proses berfikir melalui akalnya hendak memperbaiki manusia yang menciptakannya. Termasuk memasuki aspek terdalam kedirian manusia yaitu mengenai, akhlak atau moralitasnya. Jika kita ingin melihat manusia menjadi baik maka kita mesti memahami manusia melalui buku petunjuk yang telah penciptanya (Tuhan) turunkan yaitu kitab suci (alqur’an).
            Sosok manusia dalam proses kejadiannya terdiri dari aspek fisik (jasmaniah) dan aspek non fisik (bathiniah). Jasad yang mewujud seperti yang kita lihat pada diri kita adalah seonggok makhluk yang berkaki dua, bertangan dua, bermata dua yang bisa berjalan, berbicara dan makan. Hal ini sumber asalnya adalah dari ibu bapak kita. Entitas fisik ini tidak punya kemampuan apa-apa kalau yang non fisik tidak ada (lihatlah orang yang meninggal). Entitas manusia adalah non fisik yang ada di dalam tubuh fisik padanya membawa sifat-sifat: hawa, nafsu, dunia dan setan. Esensi ini Tuhan berikan agar kita menjadi hidup dan punya dinamika untuk bekerja, menikah beranak pinak, akan tetapi hati-hati karena keinginan dan kemauannya itu tidak terbatas. Esensi ini sebenarnya tidak kuasa akan tetapi hidup. Esensi ini menjadi kuasa ketika asal kejadian dari Tuhan datan (Surat As Sajadah ayat 9) yaitu, “roh” yang membawa sifat asli yang berbeda dengan sifat manusia yaitu: siddiq, amanah, tabligh dan fatanah. Inilah sejatinya yang disebut akhlak atau moral, sayangnya sifat-sifat ini dalam kehidupan keseharian kita tidak muncul karena terkalahkan oleh sifat-sifat manusia tadi yaitu: hawa, nafsu, dunia dan setan.
            Jajaran kepolisian haruslah memahami betul hakekat diri manusia ini agar dapat menjadi sosok kepolisian yang sejati menjadi pengayom dan pelindung masyarakta termasuk menjadi penegak hukum sejatinya penegak hukum. Bila aparat kepolisian kita tidak memahami hakekat dirinya tersebut, maka kita jangan pernah berharap bahkan bermimpi sekalipun untuk terbentuknya jajaran kepolisian sebagai harapan masyarakat, bangsa dan Negara terlebih lagi sebagai khalifah Tuhan dipermukaan bumi.

Selamat hari ulang tahun kepolisian kami dambakan polisi-polisi yang bersih, mencintai rakyat dan dicintai oleh rakyat serta menjadi garda depan sejatinya penegakan hukum yang berkeadilan untuk semua demi tegak dan berfungsinya Negara Hukum Republik Indonesia.#