Kamis, 09 Juni 2016

KODE ETIK HAKIM



Oleh: Ahkam Jayadi

            Tudingan bahwa dunia hukum kita secara umum dan dunia peradilan secara khusus sudah rusak parah akibat ulah dari hakim-hakim nakal tidak lah sepenuhnya benar. Ibarat kata pepatah, “karena nila rusak susu sebelanga”, betapa masih banyak aparat penegak hukum khususnya hakim-hakim yang baik dan benar di dalam menjalankan profesinya namun karena ulah segelintir hakim nakal maka rusaklah citra dunia peradilan di mata masyarakat. Dalam bahasa Yudi Latif (2013) bahwa, banyaknya pejabat-pejabat Negara dan pejabat publik yang melakukan pelanggaran hukum (penyalah-gunaan jabatan dan kewenangan) bukan semata persoalan moralitas akan tetapi sistem bernegara kita yang sudah rusak oleh karena mengabaikan nilai-nilai Pancsila. Dalam bahasa saya (penulis) lembaga pendidikan kita belum berhasil mewujudkan tujuan pendidikan untuk melahirkan orang-orang pintar, cerdas dan khususnya bertaqwa.
            Hakim sebenarnya kalau dia melaksanakan segenap tugas dan fungsinya sebagaimana mestinya maka tidak perlu ada lembaga-lembaga pengawasan, tidak perlu ada kode etik segala macam mengapa? Bukan kah seorang hakim sebelum menjadi hakim telah melewati berbagai proses pendidikan profesi yang di dalam proses pendidikan tersebut diajarkan tentang bagaimana mulianya profesi hakim itu, bagaimana mulianya tugas dan fungsi seorang hakim, sehingga sosok hakim itu tentu saja harus terlebih dahulu menjadi baik dan benar sebelum menjalankan profesinya sebagai hakim. Jadi bila masih ada hakim-hakim nakal maka pertanyaannya adalah bagaimana bisa terjadi?
            Demikian juga berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kekuasaan kehakiman secara umum dan hakim secara khusus sudah mengatur secara baik dan benar bahkan paripurna tentang hakim itu. Misalnya UU No. 48 tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman dan berbagai peraturan perundang-undangan lainnya telah menegaskan bahwa peradilan harus di laksanakan berdasarkan prinsip, “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dengan dasar itu maka hakim seringkali dilekatkan pada dirinya sebagai wakil Tuhan di permukaan bumi. Betapa tidak hakim lah selain Tuhan yang bisa menentukan mati tidaknya seseorang melalui putusannya (hukuman mati).  Dengan dasar ini saja terasa lebih dari cukup untuk menjamin seorang hakim akan bekerja dengan sebaik-baiknya di dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Dengan kata lain tidak ada alasan pembenar jika masih ada hakim-hakim nakal yang tega menyalah-gunakan profesinya (tugas dan fungsinya) untuk kepentingan-kepentingan pragmatis. Untuk itu apa yang menjadi penyebab sehingga masih saja ada hakim-hakim yang nakal?
            Mari kita lihat beberapa aspek yang telah diatur di dalam kode etik profesi hakim (Abdul Kadir Muhammad, 2001:102) bahwa seorang hakim haruslah:
a. percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
b. menjunjung tinggi citra, wibawa, dan martabat hakim,
c.  berkelakuan baik dan tidak tercela,
d. menjadi teladan bagi masyarakat,
e. menjauhkan diri dari perbuatan asusila dan kelakuan yang dicela oleh masyarakat,
f. tidak melakukan perbuatan yang merendahkan martabat hakim,
g. bersikap jujur, adil, penuh rasa tanggung jawab,
h. berkepribadian, sabar, bijaksana, berilmu,
i. bersemangat ingin maju (meningkatkan nilai peradilan),
j. dapat dipercaya, dan
k. berpandangan luas.
Dalam pandangan saya (penulis), bahwa penyebab masih adanya hakim-hakim nakal penyebabnya adalah, hakim masih belum memahami hakekat dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Kebanyakan kita pada umumnya dan hakim khususnya masih memahami diri dan kediriannya berdasarkan kajian ilmu pengetahuan, padahal ilmu pengetahuan adalah produk hasil berfikir manusia, mana mungkin nilai-nilai yang ada dalam ilmu pengetahuan dapat diganakan untuk memperbaiki penciptanya. Ilmu pengetahuan hanya membuat orang menjadi pintar, cerdas dan professional akan tetapi tidak dapat membuat seseorang menjadi baik dan benar dalam sikap dan perilakunya. Memperbaiki manusia agar menjadi baik dan benar haruslah melalui penciptaNya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Nilai-nilai agama lah yang bisa membuat orang baik dan benar. Nilai-nilai agama sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, bukan berdasarkan hasil tafsiran-tafsiran manusia sebagaimana yang ada. Untuk aspek terakhir ini baca tulisan saya yang lain yang telah penulis ulas tentang kedudukan manusia sebagai ciptaan Tuhan.#