Rabu, 13 Juli 2016

BOM MELEDAK LAGI



Oleh: ahkam jayadi
            Bom bunuh diri yang dilakukan oleh teroris kini meledak lagi di Solo pada pagi hari (Selasa 5 Juli 2016). Sehari sebelumnya bom bunuh diri yang diduga dari kelompok ISIS terjadi di Madinah dekat Mesjid Nabawi demikian juga yang terjadi di Jeddah. Bom bunuh diri yang kesekian kalinya terjadi dan terjadi lagi. Bom bunuh diri agaknya tidak akan pernah bisa hilang dipermukaan bumi termasuk di Indonesia bila yang namanya kelompok islam radikal atau teroris itu tetap ada. Untuk itu hal mendesak yang harus kita lakukan adalah menyadarkan saudara-saudara kita itu agar merekonstruksi pemahaman radikalnya itu agar kembali ke pemahaman agama (religiositas) yang benar. Termasuk yang tidak  kalah pentingnya adalah pembangunan yang massif, merata dan adil sehingga masyarakat dapat hidup layak dan tenang serta tidak lagi menjadikan ketimpangan pembangunan yang melahirkan berbagai kebencian serta konflik baik yang horizontal maupun vertikal.
            Sejatinya bom bunuh diri tidak akan terjadi tanpa adanya dorongan hawa nafsu yang tidak terkendali termasuk sumbangsih dari pemahaman ajaran agama yang keliru. Muhammad Rasulullah SAW sebenarnya telah mengingatkan akan bahayanya, “hawa nafsu” yang tidak terkendali, sehingga beliau mengingatkan bahwa jihad melawan hawa nafsu adalah jihad akbar. Sayangnya hadits nabi tersebut lebih banyak kita perdebatkan kualitas haditsnya dari pada memahami substansinya yang sangat urgen dalam hidup dan kehidupan kita sehri-hari.
            Kalau kita mau jujur, maka kebanyakan kita (umat Islam) sebenarnya tidak tau, tidak paham dan tidak kenal apa itu, “hawa nafsu”. Paling tidak yang kita pahami hanya implementasinya dalam bentuk: suka marah dan bila makan maka porsinya yang banyak melebihi apa yang biasanya orang makan. Padahal yang lebih utama dari itu adalah kita harus mengetahui bagaimana proses terjadinya atau munculnya hawa nafsu itu, bagaimana kita mengenali substansinya dan pada akhirnya kita harus mengetahui bagaimana melawannya agar hawa nafsu itu tidak memperalat kita dalam berbagai bentuk dan wujudnya sehingga hidup kita menjadi sesat atau celaka adanya seperti: membunuh, memperkosa dan bom bunuh diri terebut di atas.
            Pada ranah inilah kita juga mestinya tersadar untuk tidak menggunakan ilmu pengetahuan yang hasil olah pikir akal manusia untuk memahami, “hawa nafsu” tersebut. Hawa nafsu adalah ranahnya agama. Hanya ajaran agama (Islam) yang bisa memberikan penjelasan dan pengetahuan tentang hal tersebut. Bagaimana mungkin ilmu pengetahuan yang hasil proses berfikir manusia kemudian hendak dijadikan alat atau solusi untuk memperbaiki penciptanya (manusia). Manusia adalah produk Tuhan untuk itu bila kita ingin memperbaiki manusia ini, maka tentu saja kita harus menggunakan alat atau petunjuk atau solusi yang telah Tuhan turunkan sebagaimana kita kenal di dalam Kitab Suci (alqur’an).
            Bagaimana mungkin, “bom” yang hasil pemikiran manusia hendak digunakan sebagai alat untuk menyelesaikan segala problema yang terjadi pada manusia dan atau di masyarakat. Apalagi untuk menyadarkan manusia akan kesesatan yang melandanya akibat mengutamakan kehebatan ilmu pengethuan yang memiliki keterbatasan  sebagai produk akal yang akal itu sendiri juga memiliki keterbatasan.
            Coba kita perhatikan uraian berikut, semua manusia di permukaan bumi ini apalagi yang terpelajar sangat meyakini betul akan kehebatan akal manusia yang mampu berfikir dan menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi (yang salah satu hasil produknya adalah bom). Padahal dalam bahasa agama (Islam) bukan akal yang hebat dan bukan akal yang berfikir akan tetapi ada yang berfikir di otak (akal). Untuk itu dalam bahasa agama (Islam) dikatakan, “mereka punya hati akan tetapi tidak digunakan untuk berfikir. Pada hati itulah ada “nur” yang memancar di sel-sel otak sehingga otak atau akal itu bisa berfikir. Lihatlah orang yang sudah mati apakah otaknya masih ada, iya masih ada akan tetapi kenapa tidak lagi bisa berfikir, oleh karena yang berfikir di otak itulah yang sudah tidak ada. Sepertinya banyak hal yang harus kita rekonstruksi di dalam hidup dan kehidupan kita baik yang berkaitan dengan eksistensi diri kita, eksistensi agama, eksistensi Tuhan baik dalam kajian ilmu pengetahuan apalagi dalam kajian agama. Demikian sebagai bahan pertimbangan sementara untuk menemukan kebenaran sesungguhnya.#