Senin, 04 Juli 2016

MEMAHAMI INSAN KAMIL



Oleh: Ahkam Jayadi
            Ilmuan termasuk filusuf sejak zaman Yunani kuno hingga sekarang telah menjadikan manusia sebagai objek kajiannya guna memahami sosok manusia. Sayangnya kebanyakan ilmuan dan filusuf tidak mau mengakui akan kelemahan dan keterbatasan akal di dalam memahami segala sesuatu termasuk misteri yang melingkupi manusia. Bahasa bijak mengajarkan bahwa semakin banyak kita mengetahui tentang sesuatu maka pada saat itu juga kita tersadar tentang kekurangan dan kebodohan yang kita miliki.
            Sosok manusia tidak hanya diliputi misteri yang tidak bisa diungkap oleh ilmu pengetahuan dan filsafat akan tetapi pada sosok manusia itu terpajang wujud-wujud aneh yang tak  tersadari. Ilmu pengetahuan dan filsafat adalah produk akal manusia di satu sisi akan tetapi di sisi lain hasil ciptaannya itu hendak di jadikan sumber solusi atau ajaran yang hendak memperbaiki manusia sebagai penciptanya, mana mungkin! Manusia adalah ciptaan Tuhan dengan demikian untuk memperbaiki manusia Tuhan sudah buat buku panduan yang lebih kita kenal dengan Kitab Suci. Dalam ajaran Islam misalnya buku manualnya itu disebut  “Alqur’an dan Sunnah”.
            Implikasi dari pemahaman tentang sosok manusia (tentang dirinya) dari hasil akal-akalannya melalui ilmu pengetahuan dan filsafat, makanya banyak konsep tentang manusia itu salah atau keliru. Salah satunya adalah tentang substansi diri manusia sebagaimana hasil atau proses kejadiaannya. Sosok manusia terpadu dari aspek fisik (jasmaniah) dan aspek non fisik (rohaniah). Aspek fiisik terbentuk dari sari pati tanah yang kita kenal dengan, “sperma dan ovun” dalam bahasa agama ini yang disebut berasal dari ibu bapak kita. Setelah terjadi pembuahan maka esensi ini bertumbuh dengan sendirinya karena padanya ada substansi yang berasal dari Tuhan. Aspek non fisik berasal dari Tuhan yang kita kenal dengan, “roh” ini ditiupkan ketika janin dalam tubuh ibu telah berusia empat bulan sepuluh hari.
            Substansi kejadian yang dari Tuhan itulah yang bagi ilmu pengetahuan dan filsafat tidak mampu untuk di jawab. Dalam memahami asal kejadian yang non fisik ini sejatinya kita umat beragama tidak ada alasan untuk saling salah menyalah apalagi saling menyakiti oleh karena asal kejadian ini satu, tidak dua atau tidak tiga, kita jualah yang salah memahaminya. Ketika janin berusia 4 bulan 10 hari dalam kandungan ibunya, bayi siapa pun itu (orang Amerika, Arab, China, Afrika atau Indonesia) dan dari agama apa pun (Islam, Kristen, Yahudi, Hindu atau Budha) maka ruh itu ditiupka oleh Tuhan yang satu (Surat as Sajadah ayat 9). Itulah Tuhan yang satu yang telah menurunkan risalah agama mulai dari Nabi Adam, as hingga Muhammad SAW. Tuhan tidak dua tidak tiga, Tuhan hanya ada satu (Esa, mufrad, tunggal), dialah yang menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya termasuk segala jenis makhluk yang menhuninya (Surat al Ikhlas).
            Entitas fisik jasmaniah itulah yang disebut, “tubuh manusia”. Di dalam tubuh itulah bersemayan, “manusia” yang non fisik. Manusia karena asal kejadiannya membawa sifat-sifat: hawa, nafsu, dunia, dan setan. Untuk itu dalam bahasa agama (Islam) manusia itu tidak ada benarnya. Manusia itu kafir, manusia itu celaka, manusia itu ada penyakit di dalam dadanya dan seterusnya. Dengan demikian kita jangan jadi manusia, sebab manusia itu penghuni neraka.  Pada tubuh fisik jasmaniah ini juga terdapat entitas Tuhan yang disebut, “roh” dengan sifat-sifatnya: siddiq, amanah, tabligh dan fatanah. Roh inilah sebenarnya yang esensial dalam diri kita oleha karena dengannya lah maka kita bisa berfikir, bisa merasa, bisa berjalan dan bisa melakukan segalanya. Entitas manusia juga bisa berfungsi karena adanya roh itu. Dengan adanya roh inilah maka manusia dapat melahirkan ilmu pengetahuan dan filsafat. Entitas roh inilah yang disebut mukmin (orang beriman, kepercayaan dan amanah Tuhan). Jadi dalam hidup dan kehidupan kita, jangan lah jadi manusia akan tetapi jadi lah mukmin.
Dengan dasar ini, maka masihkah kita mau menerima kajian-kajian ilmu pengetahuan dan fisafat untuk menjelaskan misteri yang menyelimuti entitas manusia, tentu saja tidak! Ilmu pengetahuan dan filsafat ada ruang dan ranahnya, agama juga ada ruang dan ranahnya masing-masing. Kedua-duanya harus digunakan dalam hidup dan kehidupan manusia, namun harus diposisikan secara berbeda, agama posisinya di atas atau menjadi sumber lahirnya ilmu pengetahuan dan filsafat. Keduanya tidak bisa diposisikan setara apalagi di samakan. Ilmu pengetahuan dan filsafat ranahnya hanya untuk kepentingan duniawi untuk kebutuhan hidup duniawi bukan untuk memperbaki dan menyelamatkan manusia yang menjadi ranahnya agama. Ranah agama adalah mengurus atau menjawab pertanyaan: dari mana asal kita, sedang dimana kita dan hendak kemana kita pada akhirnya?
Dengan demikian penggunaan konsep, “insan kamil” adalah keliru. Keliru oleh karena kita akan mewujudkan orang kafir yang sempurna kekafirannya. Kita akan mewujudkan manusia yang sempurna keinkarannya kepada Tuhan. Manusia yang sempurna celakanya, sempurna kerugiannya dan berbagai makna lainnya. Sejatinya yang harus kita lahirkan adalah, “mukmin” yang sebenar-benarnya mukmin. Mukmin yang kenal esensi dirinya, kenal Tuhannya dan kenal tujuan hidupnya. Demikian untuk sementara semoga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk kita menemukan kebenaran sesungguhnya.#