Jumat, 09 September 2016

SENYUMAN KORUPTOR DAN TANGISAN RAKYAT


Oleh: Ahkam Jayadi

            Penulis tidak habis pikir dalam melihat sikap dan tingkah laku para perampok uang rakyat (uang Negara) yang lebih dikenal dengan koruptor. Sebagaimana yang semua orang sering saksikan ketika seorang koruptor (Damayanti, Rohadi, Gatot dan isterinya, Fuad Amin, Andi Topan Tiro dan yang lainnya) keluar dari ruang pemeriksaan (Kejaksaan, Kepolisian atau KPK) dan kemudian ditanya oleh wartawan maka yang kita saksikan mereka tersenyum layaknya orang yang sedang senang dan bahagia.
            Pertanyaan kita koq bisa seperti itu, dengan demikian ada apa dan gejala apa ini? Seorang koruptor yang seharusnya menyesal dengan demikian tertunduk malu akan kejahatan besar yang telah dilakukannya ini malah tersenyum lebar kepara wartawan sepertinya tidak sedikit pun dia merasa bersalah, tidak sedikit pun dia merasa malu disebabkan telah melakukan sebuah kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crime). Pantasan saja mereka melakukan berbagai tindak pidana korupsi dengan merampok uang Negara atau uang rakyat tanpa rasa takut dengan tanggung-jawabnya oleh karena sudah ketangkap pun mereka masih hebatnya tersenyum lebar di hadapan petugas dan para wartawan. Bahkan hal yang aneh bin ajaib, seringkali para koruptor tersebut menyebut bahwa kejadian yang menimpanya adalah cobaan Tuhan dan sudah kehendak Tuhan. Korupsi koq Tuhan di bawah-bawah, dasar orang-orang bejat yang tidak kenal Tuhan dan tidak memiliki kepahaman agama yang baik dan benar.
            Demikian juga dengan Bupati Banyuasin (Yan Anton Ferdian) yang ditangkap KPK karena korupsi (4 September 2016). Mereka diciduk KPK di saat melakukan pengajian dan doa atas keberangkatannya tahun ini untuk menunaikan ibadah Haji bersama keluarganya. Ibadah haji yang dilakukan tersebut bersama isterinya menggunakan uang hasil korupsi, astagfirullah. Bupati Kepala daerah pasti adalah orang-orang pilihan dan pintar. Bahkan Anton adalah pimpinan partai dan sebelumnya adalah anggota DPRD. Koq bisa-bisanya uang hasil korupsi (uang hasil mencuri, uang hasil kejahatan dan uang haram) digunakan untuk ongkos melaksanakan ibadah haji). Dia pun tersenyum ketika keluar dari Gedung KPK saat dicegat dan ditanya oleh para wartawan. Sudah separah ini kah realitas moral atau akhlak anak-anak bangsa ini. Di saat mereka harus menangis dan menyesali perbuatannya justru mereka malah tersenyum tertawa seakan sedang merasa bahagia dan tidak bersalah. Bahkan uang haram yang dari hasil korupsi digunakan pula untuk membiaya ibadah haji yang dilakukannya.
            Tangisan justru terjadi di masyarakat yang lagi kelaparan, yang lagi digusur, yang anak-anaknya tidak bisa sekolah, yang anak-anaknya sakit dan tidak bisa berobat  oleh karena uang yang seharusnya digunakan oleh pemerintah untuk membiayai hal-hal tersebut disalah-gunakan oleh para koruptor yang mencurinya. Hal yang lebih sadis terjadi, bahwa ketika Negara dan pemerintah kekurangan dana untuk pembangunan mulai dari pUsat hingg ke daerah-daerah karena dirampok dan dikorupsi oleh pejabat-pejabat bejat bersama para keroni-keroninya justru rakyatlah yang kembali harus bertanggung-jawab melalui maksimalisasi pajak dan berbagi pembayaran-pembayaran lainnya seperti kenaikan harga-harga.
            Serasa sudah sepantasnya bahwa salah satu makna yang harus kita tarik dari kejahatan korupsi sebagai kejahatan yang luar biasa  (darurat korupsi) yang entah bagaimana menghadapinya agar berkurang atau bahkan hilang sama sekali dari Bumi Negara Kesatuan Republik Indonesia, adalah bahwa: “pelaku korupsi harus di hukum dengan sebarat-beratnya dimiskin kan dengan cara seluruh harta bendanya disita untuk negara”. Kita berharap kepada para hakim yang menangani sebuah perkara korupsi agar mengabaikan pendekatan-pendekatan hak asasi manusia dan hak-hak hukum seorang koruptor karena ketika dia melakukan perbuatan korupsi dia juga telah mengabaikan prinsip-prinsip hak asasi manusia yang menjadi milik rakyat untuk sejahtera dan yang dengan sengaja melakukan pelanggaran hukum (tindak panda korupsi). Kita harus lebih mengedepankan kepentingan masyarakat, kepentingan bangsa dan Negara daripada kepentingan dari hanya seorang pelaku tindak  pidana korupsi, yang telah melakukan perbuatan jahat dengan merampok uang Negara (uang rakyat) dengan melanggar sumpah dan janjinya yang telah diikrarkan ketika dilantik sebagai pejabat pemerintahan.# (Makassar, 10/9-2016).