Sabtu, 01 Oktober 2016

PENIPUAN BERKEDOK AGAMA

Oleh: Ahkam Jayadi
        
   Entah apa sebenarnya yang terjadi sehingga berbagai kebohongan dalam beragama satu demi satu bermunculan. Mulai dari kebohongan yang selama ini ditutup tutupi oleh tokoh spiritual para artis yang sekaligus juga artis Gatot B (yang ternyata maniak sex dan pengguna narkoba) hingga Dimas Kanjeng dengan fenomena kemampuannya mendatangkan uang yang milyaran rupiah dengan cara gaib. Apakah benar fenomena seperti ini layak disebut sebagai penipuan berkedok agama? Sejatinya sudahkah kita (masyarakat) memiliki pengetahuan dan pemahaman agama yang benar sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya? Pertanyaan ini penting kita ajukan mengingat hingga kini masih seringkali terjadi hujatan kepada berbagai pihak dengan menggunakan jastifikasi agama.
            Sejatinya dibutuhkan kearifan pada segenap komponen bangsa ini: mulai dari pemerintah pusat hingga daerah, tokoh-tokoh agama dan ilmuan serta masyarakat di dalam mendudukan dan mempersoalkan agama. Termasuk di dalam menempatkan agama sebagai dasar untuk menilai seseorang telah melakukan penghinaan terhadap agama atau melakukan aktifitas yang bertentangan dengan agama. Agama jangan dijadikan alat atau sarana untuk dengan mudah kita menkafirkan seseorang hingga menjadi alat pembenar untuk melakukan penganiayaan dan penrusakan, padahal kita yang melakukan itu juga belum tentu memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap ajaran agama dengan benar sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.
            Mungkin lebih bijak bila kasus-kasus seperti yang dijalankan oleh Dimas Kanjen Taat Pribadi di bahas dari sisi hukum Negara (hukum pidana) ketimbang melihat dan membahasnya dari sudut agama yang sejatinya dari awal apa yang dilakukan di padepokannya bukanlah aktivitas agama yang benar sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya. Bagi penulis kalau pun kita ingin mengkaitkan dengan agama maka bukan pada aspek substansi keberagama dengan demikian tidak lah tepat bila disebut sebagai penipuan berkedok agama. Aktivitas yang dilakukan Dimas Kanjen adalah aktivitas dari seorang manusia biasa yang berkolaborasi dengan jin (roh sesat) atau di dalam kehidupan masyarakat sangat dikenal dengan permainan “tuyul” sehingga kita (orang-orang yang terlibat di komunitas ini yang ribuan orang) akan mudah tertipu bila melihat nya dari sisi akal yang berbasis pada ilmu pengetahuan empirik.
            Fenomena tersebut sekaligus juga telah memperlihatkan dan membuktikan kesalahan awal yang terjadi akibat penggunaan terminologi, “agama dan Islam” sehingga terbentuk kata, “agama Islam”. Bagaimana mungkin satu kata dari bahasa Sansekerta digabung dengan kata yang berasal dari bahasa Arab, padahal ada kata Arab yang lebih pas dan cocok untuk digunakan yaitu, “din, dinul”. Coba kita liat kata agama dari perpaduan “a” yang diartikan dengan “tidak” dengan “ gama” yang diartikan dengan “kacau” jadi agama Islam adalah agama yang tidak kacau, apanya yang tidak kacau? Sementara kata “din dinul” adalah berarti “pendirian” jadi dinul Islam adalah pendirian selamat, dimana kita seharusnya berpendirian selamat? Disini mulai tersingkap akan entitas Tuhan dan Rasul yang menjadi tumpuan tempat kita berpendirian agar selamat. Pada akhirnya kita juga bisa memahami dengan baik dan benar apa yang telah Tuhan tetapkan di dalam Alqur’an Surat Ali Imran ayat (19) bahwa: Sesungguhnya pendirian disisi Tuhan Selamat. Kita sebagai orang yang berpegang dan mempercayai dinul Islam haruslah tahu betul dimana itu disisi Allah (Tuhan) agar selamat. Dinul Islam bukanlah sekedar ucapan kosong tapi dia nyata dalam pemahaman kita yang kemudian mewujud di dalam setiap pengamalan ibadah dan aktivitas hidup keseharian kita. Pada tempat berpendirian itulah Tuhan menjanjikan kita tidak akan dapat digoda oleh iblis dan api neraka menjilat dan membakar kulit kita, diluar tempat itu Tuhan halalkan untuk kita digoda oleh iblis dan terbakar oleh api neraka, sebenarnya jangankan untuk digoda berteman pun kita bisa dan itulah yang dilakukan oleh orang-orang seperti Dimas Kanjeng, dengan berkolaborasi dengan setan atau iblis untuk kepentingan dan kesenangan semu duniawi serta menjadi teman iblis di neraka kelak .#Aj,Mks,2/10/16.