Senin, 27 Maret 2017

AJARAN AGAMA DALAM KEHIDUPAN

Oleh: Ahkam Jayadi 

Agama dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI edisi keempat, terbitan Gramedia, 2008) diartikan sebagai: ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan)  dan peribadatan kepada Tuhan Yang  Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta dengan lingkungannya. Manusia adalah ciptaan Tuhan (semua agama mengakui itu dengan demikian tidak ada perbantahan tentang hal ini), demikian juga agama (sebagai buku petunjuk kehidupann) adalah ciptaan Tuhan. Alam jagad raya ini dengan segala yang ada di dalamnya adalah ciptaan Tuhan, agar interaksi yang ada di dalamnya dapat berjalan dengan baik, maka itulah agama diturunkan oleh Tuhan.  
Bila agama mengatur hidup dan kehidupan ini tidak hanya dalam kehidupan duniawi akan tetapi juga kehidupan akhirat, maka tentu kita bertanya apakah dapat kita terima dan benarkan kesimpulan bahwa, “agama ada batas-batas keterlibatannya dalam hidup dan kehidupan ini”? Agama adalah urusan ibadah gak ada hubungannya dengan kehidupan duniawi?
Penulis kaget ketika kemarin (Jumat, 24 Maret 2017) Presiden kita (Bapak Joko Widodo) dalam peresmian, “Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara” di Tapanuli Tengah Sumatera Utara mengingatkan kepada semua masyarakat agar tidak mencampur adukkan antara, “politik dan agama” yang seringkali memicu pertikaian dan konflik. Dalam Agama Islam bukankah kita telah memahami semuanya bahwa, “Islam adalah rahmatan lilalamin”. Apakah benar agama (Islam) itu menjadi penyebab terjadinya berbagai konflik di tengah masyarakat? Apakah benar agama (Islam) harus dipisahkan dari politik? 
Sepanjang perjalanan hidup penulis hingga akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada satu pun aspek dalam hidup dan kehidupan kita yang bisa lepas dari tuntunan dan keterlibatan agama. Kesimpulan untuk memisahkan agama dengan politik (misalnya) adalah pemikiran yang keliru akibat pemahaman agama yang tidak substantif. Kekeliruan yang juga terjadi karena religiositas agama tidak ada lagi akibat agama disejajarkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (sains dan teknologi). Pada hal ilmu pengetahuan dan teknologi adalah produk akal (otak) manusia sedangkan agama adalah produk Tuhan yang mengatur bagaimana otak manusia sebagai alat untuk berfikir sehingga melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Paradigma saintek inilah sejatinya yang menjadi penyebab lahirnya kekeliruan di dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, termasuk di dalam menyelesaikan berbagai persoalan di dalam hidup dan kehidupan ini. Celakanya saintek di jadikan sumber solusi utama dan agama di tempatkan pada posisi kedua. Pada hal saintek adalah ciptaan manusia dan manusia adalah pencipta saintek. Satu contoh kehebatan saintek adalah manusia berhasil menciptkan, “pesawat terban”, bila pesawat yang sangat vital dalam hidup dan kehidupan umat manusia mengalami kerusakan maka tentu yang dapat memperbaikinya adalah manusia yang menciptakannya. Sebaliknya bila manusia mengalami masalah atau persoalan maka apakah mungkin pesawat itu bisa memperbaiki  atau memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapinya, tentu saja tidak. Manusia atau masyarakat bila menghadapi masalah tentu saja solusinya hanya bisa datang dari pencipta manusia itu (Tuhan Yang Maha Kuasa).
Satu ayat di dalam Kitab Suci Alqur’an pada Surat Adz Dzariyaat ayat 56, Tuhan  menegaskan bahwa: Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadat kepada ku. Dengan dasar ayat ini saja kita sudah dapat simpulkan bahwa tidak ada satu aspek pun dalam hidup dan kehidupan manusia yang lepas dari urusan agama, karena pada hakekatnya adalah ciptaan Tuhan yang segala sesuatunya adalah ibadah. Politik pun substansinya adalah ibadah, nah ketika dilepaskan dari agama maka apa yang akan terjadi. Jangan karena pemahaman agama yang keliru sehingga menimbulkan berbagai benturan sehingga kita berkesimpulan bahwa agama harus diberi batasan terhadap hidup dan kehidupan, itu keliru dan fatal. #(makassar, 26 Maret 2017).